Jika dalam tulisan-tulisanku banyak kekurangan dan kesalahan, atau menyinggung secara tidak langsung kepada beberapa pihak... aku ucapkan mohon maaf... ^tidak bermaksud, dan tidak ada unsur kesengajaan^ aku masih belajar untuk menulis... dan terkadang aku ga PEDE dengan tulisan-tulisanku :D untuk yang berminat memberi kritik dan saran, silahkan postkan komentar :)
Senin, 24 Oktober 2011
:O
Dunia ini memang ganas. Siap memangsamu yang lemah pendiriannya. Siap menerbangkanmu yang rapuh hatinya. Siap menenggelamkanmu yang melamun terus jalan pikirannya. Dunia ini sangat ekstrim kawan, kau tinggal memilih untuk mengikuti hawa nafsumu, atau kau akan berpacu dengan waktu berdiri pada batu, batu kehangatan kasih sayang keluarga, batu yang lurus dan selalu membuatmu jauh dari keganasan dunia. Dalam dekapan kasih saying Ilahi. Ketahuilah kawan, tidak ada satu kesuksesan di dunia ini yang bisa dibeli dengan uang, semuanya dibeli dengan cinta kasih dan pengorbanan. Pengorbanan waktu, tenaga, dan uang. Ya… uang yang diberikan Allah kepada kedua orang tua kita.
Kamis, 30 Juni 2011
pira oge dua rebu perak, cenah!
Mentari yang lembut bersinar, mengantarkan keberangkatan aku dan kakakku menuju Bogor, kota hujan. Jalanan yang sedikit macet karena mungkin ini suasana liburan sekolah. Terminal tempat para bus menanti penumpang seraya memudar dari pandangan. Lambat sekali bus melaju, namun pasti tujuannya, Kampung Rambutan.
Perempatan Polres. Hendak bus yang ku tumpangi berbelok ke arah kanan, lensa mataku menangkap sosok yang mengenakan kaos abu, berjaket hitam, tas yang cukup besar bersandar di punggungnya. Kelihatannya dia hendak bermain badminton. Sontak perasaanku sedikit tersentak, dan mulutku melontarkan sebuah nama sembari senyum sumringah. Sosok yang tak tahu harus ku sebut apa.
Bus berbelok, melaju, trus melaju. Seorang bapak dan anak gadisnya naik di persimpangan jalan, kenek bus sedikit memaksa si bapak dan anaknya itu untuk menumpangi bus yang kami tumpangi pula. Tempat duduk di bus sedikit sesak, dan sudah tak ada lagi yang kosong. Kenek mulai mengincar anak kecil, supaya digendong orang tuanya. Hmmmm.. sang kenek melirik ke bangku yang tepat di samping kiriku itu.
Baru saja sang kenek bertanya, sang ibu yang tengah duduk di bangku itu sewot berkata, “saya akan bayar empat. Lagian pak, kalau mau dapet tempat duduk ya ke terminal. Cuma bayar angkot dua ribu perak!”
Perempatan Polres. Hendak bus yang ku tumpangi berbelok ke arah kanan, lensa mataku menangkap sosok yang mengenakan kaos abu, berjaket hitam, tas yang cukup besar bersandar di punggungnya. Kelihatannya dia hendak bermain badminton. Sontak perasaanku sedikit tersentak, dan mulutku melontarkan sebuah nama sembari senyum sumringah. Sosok yang tak tahu harus ku sebut apa.
Bus berbelok, melaju, trus melaju. Seorang bapak dan anak gadisnya naik di persimpangan jalan, kenek bus sedikit memaksa si bapak dan anaknya itu untuk menumpangi bus yang kami tumpangi pula. Tempat duduk di bus sedikit sesak, dan sudah tak ada lagi yang kosong. Kenek mulai mengincar anak kecil, supaya digendong orang tuanya. Hmmmm.. sang kenek melirik ke bangku yang tepat di samping kiriku itu.
Baru saja sang kenek bertanya, sang ibu yang tengah duduk di bangku itu sewot berkata, “saya akan bayar empat. Lagian pak, kalau mau dapet tempat duduk ya ke terminal. Cuma bayar angkot dua ribu perak!”
Sabtu, 25 Juni 2011
^_^
Selamat tertawa tryana :D
Ahahahahahahahahahaha..
Tulisanku kali ini aku buka dengan gelak tawa, Alhamdulillah..
Mengapa bisa seperti itu?
Hmmmmmm.. begini ceritanya, hari ini, ya tepat hari ini, tanggal berapa sih? ^_^
25 Juni 2011. Jamnya gak terlalu aku pikirkan, pokoknya tadi tuh siang menuju sore gitu. Mamaku juga belom pulang kerja, berarti sekitar pukul 14.00 lebihlah :D
Aku kan pasang status di pesbuk nih, yang isinya mengucapkan rasa syukurku atas hasil prestasiku semester kali ini, dibawahnya aku bilang aku gak punya pacar “pada intinya”. Trus ada dia ngekomen, nyebut-nyebut nama pesbuknya gebetan aku, otomatis aku agak sedikit risih ya? Hahahahahhaha. Trus aku so so akrab gitu, nanya hasil rapot dia gimana dengan memanggil si dia “kakak jelek” eh gak dibales mulu tuh komen, beberapa menit kemudian, si dia apdet status lagi tuh, ya udah aku komen, intinya sih “yang udah dipanggil kakak jelek ngilang!” Sontak sang kekasih si dia marah total loh :D
Awalnya aku bener-bener bingung harus gimana, aku langsung nelpon Vey buat nenangin suasana, trus sms Ambu, trus barusan abis curhat juga sama Ul.ul ^^
Pokoknya ini adalah pengalaman terekstrim yang pernah aku alamin, padahal mah nyantei aja, orang aku mah udah tau banget dia gimana??? Hahahahahahahaha
Dan perlu dia dia dia dia dia dia dia tau, Tryana sampe detik ini masih mengagumi sosok DIA. So, kemungkinan sangat kecil sekali jika saya mau balikan sama dia. Hahahahahahaha.. kecuali jika Allah berkehendak seperti itu. Dan perlu diketahui, sosok dia jauh lebih dari yang anda tau. WASPADALAH, WASPADALAH!
(dia di sini adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hari saya, dan DIA di sini adalah seseorang yang saya kagumi ^^)
Ahahahahahahahahahaha..
Tulisanku kali ini aku buka dengan gelak tawa, Alhamdulillah..
Mengapa bisa seperti itu?
Hmmmmmm.. begini ceritanya, hari ini, ya tepat hari ini, tanggal berapa sih? ^_^
25 Juni 2011. Jamnya gak terlalu aku pikirkan, pokoknya tadi tuh siang menuju sore gitu. Mamaku juga belom pulang kerja, berarti sekitar pukul 14.00 lebihlah :D
Aku kan pasang status di pesbuk nih, yang isinya mengucapkan rasa syukurku atas hasil prestasiku semester kali ini, dibawahnya aku bilang aku gak punya pacar “pada intinya”. Trus ada dia ngekomen, nyebut-nyebut nama pesbuknya gebetan aku, otomatis aku agak sedikit risih ya? Hahahahahhaha. Trus aku so so akrab gitu, nanya hasil rapot dia gimana dengan memanggil si dia “kakak jelek” eh gak dibales mulu tuh komen, beberapa menit kemudian, si dia apdet status lagi tuh, ya udah aku komen, intinya sih “yang udah dipanggil kakak jelek ngilang!” Sontak sang kekasih si dia marah total loh :D
Awalnya aku bener-bener bingung harus gimana, aku langsung nelpon Vey buat nenangin suasana, trus sms Ambu, trus barusan abis curhat juga sama Ul.ul ^^
Pokoknya ini adalah pengalaman terekstrim yang pernah aku alamin, padahal mah nyantei aja, orang aku mah udah tau banget dia gimana??? Hahahahahahahaha
Dan perlu dia dia dia dia dia dia dia tau, Tryana sampe detik ini masih mengagumi sosok DIA. So, kemungkinan sangat kecil sekali jika saya mau balikan sama dia. Hahahahahahaha.. kecuali jika Allah berkehendak seperti itu. Dan perlu diketahui, sosok dia jauh lebih dari yang anda tau. WASPADALAH, WASPADALAH!
(dia di sini adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hari saya, dan DIA di sini adalah seseorang yang saya kagumi ^^)
Sabtu, 11 Juni 2011
berakhir sajalah :D
Ini adalah sepenggal kisah tentang pengalaman seorang manusia yang sebut saja aku. Pengalaman yang mungkin akan menuai pro dan kontra bagi yang membacanya. Mencibir atau tertawa bagi yang memahaminya. Tapi tak apalah, aku hanya ingin bercerita, berbagi kata dalam untaian prosa.
Baiklah, ini pengalamanku saat ujian kenaikan kelas yang harus aku lalui dengan berat selama satu minggu. Banyak hal yang harus aku relakan, hmmmm lebih tepatnya ikhlaskan untuk mendapatkan waktu belajar. Satu per satu buku aku baca meski terasa sangat membosankan. Lalu hari demi hari yang enggan aku terlibat di dalamnya silih berganti. Namun satu hal yang membuat aku kesal. Tentang sosoknya. Ya sosok yang tengah aku lihat sekarang, ingin rasanya aku -membejek-bejek- mukanya, mematahkan gigi-giginya. Hahahahahaha.. ambigu sekali rasanya. Dan taram… imajinasiku yang semerawut itu membalaskan tatapan yang -gak banget deh- dari sosok itu.
Sosok itu? Ya sosok itu! Dia mencontek. Ya mencontek secara langsung pada lembar jawabanku. Apa itu tidak kesal?
Ceritaku selesai!
Baiklah, ini pengalamanku saat ujian kenaikan kelas yang harus aku lalui dengan berat selama satu minggu. Banyak hal yang harus aku relakan, hmmmm lebih tepatnya ikhlaskan untuk mendapatkan waktu belajar. Satu per satu buku aku baca meski terasa sangat membosankan. Lalu hari demi hari yang enggan aku terlibat di dalamnya silih berganti. Namun satu hal yang membuat aku kesal. Tentang sosoknya. Ya sosok yang tengah aku lihat sekarang, ingin rasanya aku -membejek-bejek- mukanya, mematahkan gigi-giginya. Hahahahahaha.. ambigu sekali rasanya. Dan taram… imajinasiku yang semerawut itu membalaskan tatapan yang -gak banget deh- dari sosok itu.
Sosok itu? Ya sosok itu! Dia mencontek. Ya mencontek secara langsung pada lembar jawabanku. Apa itu tidak kesal?
Ceritaku selesai!
Jumat, 03 Juni 2011
:)
pagi yang riang. awan-awan lembut menggumpal mengiringi sang langit yang biru ceria. aku bertanya pada hatiku, siapa yang sebenarnya engkau sebut? jawabnya tak pernah satu.
aku mencari lagi jawaban hati, tapi setelah aku melihat, membaca, dan merasakan semuanya. aku bermaksud untuk mengisi hati ini dengan kekosongan, dan atas nama Tuhan, Allohu Robby. sang Pencipta pagi, awan, dan langit. serta pencipta aku, dan hatiku.
aku mencari lagi jawaban hati, tapi setelah aku melihat, membaca, dan merasakan semuanya. aku bermaksud untuk mengisi hati ini dengan kekosongan, dan atas nama Tuhan, Allohu Robby. sang Pencipta pagi, awan, dan langit. serta pencipta aku, dan hatiku.
Jumat, 20 Mei 2011
wawancara SSS :D
Laporan Hasil Wawancara
Topik : Cinta VS Belajar
Spesifikasi : Pengaruh Cinta Remaja pada Kegiatan Belajarnya
Narasumber : Tryana Permanasari
Pewawancara : Rina Damayanti
Hasil Wawancara
Cinta merupakan anugerah dari Sang Pencipta kepada setiap umat-Nya. Presepsi cinta bagi setiap orang tentulah berbeda, berikut menurut pendapat Tryana, “Cinta adalah sesuatu yang abstrak, sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Namun cinta identik dengan mengagumi dan menyayangi. Penuh dengan ketulusan.” Realita remaja jaman sekarang yang sudah tidak aneh lagi dengan yang namanya cinta, membuat sebagian orang tua merasa gerah. Beliau-beliau yang lebih sepuh merasa takut jika anak-anaknya terjerumus kepada akibat cinta yang negative yang dapat merenggut masa depan sekaligus menghapuskan tanggung jawab mereka untuk belajar. Untuk saya pribadi cinta dan belajar itu bisa berjalan seimbang, asalkan kita sendiri tahu aturan dan menyadari akan kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan. Mengapa kita perlu mengenal cinta di saat remaja? Cinta itu bukan sesuatu yang salah, apalagi mengenalnya di saat remaja. Masa-masa seorang individu siap untuk menjadi lebih dewasa, dengan adanya cinta, kita lebih percaya terhadap realita. Seorang remaja tanpa cinta terhadap lawan jenisnya dirasa belum kumplit. Tetapi, mengingat kewajiban kita sebagai pelajar, ya harus belajar. Jadi antara cinta dan belajar berjalan seiringan. Jadikanlah cinta sebagai sumber motivasi belajar. Karena cinta itu bisa membuat seseorang menjadi super. Jangan menjadikan cinta sebagai sesuatu yang rumit, yang membuat kita menjadi pribadi yang malas.
Topik : Cinta VS Belajar
Spesifikasi : Pengaruh Cinta Remaja pada Kegiatan Belajarnya
Narasumber : Tryana Permanasari
Pewawancara : Rina Damayanti
Hasil Wawancara
Cinta merupakan anugerah dari Sang Pencipta kepada setiap umat-Nya. Presepsi cinta bagi setiap orang tentulah berbeda, berikut menurut pendapat Tryana, “Cinta adalah sesuatu yang abstrak, sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Namun cinta identik dengan mengagumi dan menyayangi. Penuh dengan ketulusan.” Realita remaja jaman sekarang yang sudah tidak aneh lagi dengan yang namanya cinta, membuat sebagian orang tua merasa gerah. Beliau-beliau yang lebih sepuh merasa takut jika anak-anaknya terjerumus kepada akibat cinta yang negative yang dapat merenggut masa depan sekaligus menghapuskan tanggung jawab mereka untuk belajar. Untuk saya pribadi cinta dan belajar itu bisa berjalan seimbang, asalkan kita sendiri tahu aturan dan menyadari akan kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan. Mengapa kita perlu mengenal cinta di saat remaja? Cinta itu bukan sesuatu yang salah, apalagi mengenalnya di saat remaja. Masa-masa seorang individu siap untuk menjadi lebih dewasa, dengan adanya cinta, kita lebih percaya terhadap realita. Seorang remaja tanpa cinta terhadap lawan jenisnya dirasa belum kumplit. Tetapi, mengingat kewajiban kita sebagai pelajar, ya harus belajar. Jadi antara cinta dan belajar berjalan seiringan. Jadikanlah cinta sebagai sumber motivasi belajar. Karena cinta itu bisa membuat seseorang menjadi super. Jangan menjadikan cinta sebagai sesuatu yang rumit, yang membuat kita menjadi pribadi yang malas.
Kamis, 12 Mei 2011
presepsi CINTA versi Tryana
Ini kisah tentang diriku. Biar kalian tahu. Presepsi CINTA menurut aku, yang pastinya setiap orang berbeda.
CINTA. Cinta itu bisa membuat orang lemah, bahkan kuat sekali pun. Cinta datang tak pernah disangka. Seperti awal aku merasakan yang namanya cinta. Itu saat aku duduk di kelas 3 SD. Aku namakan itu cinta pertama. Cinta itu hanya seutas kata, dan menjadi hal yang paling memalukan. Cinta pertama aku, namanya Satria. Lalu saat aku mulai mengetahui tentang cinta lagi, aku namakan itu, cinta monyet. Ya meski katanya itu jadian, tapi namanya juga anak kelas 3 SD. Waktu pun bergulir, aku masih merasakan atmosfer cinta monyet. Hmmmm… Ini disebabkan aku belum “ngeuh” tentang pacaran. 2kali seingatku, aku masih menggeluti cinta monyet itu (hahahahahaha). Dan pada akhirnya, aku merasakan atmosfer pacar pertamaku. Dia adalah MDA. Seseorang yang memperkenalkan aku pada dunia cinta remaja. Meski kita akhirnya harus berpisah. Good bye my first boyfriend. Selanjutnya. Pacar kedua aku, AG. Dari 2 orang sample yang aku sebut pacar, keduanya membuat hatinya deg-degan udah pasti. Dan membuat hatiku ngamuk-ngamuk juga iya. Terakhir kata, membuat hatiku nangis Bombay. Ihhhh enggak deh :D
FINISH.
Inilah kisah CINTAku. Dimulai dari cinta pertama, cinta monyet, pacar pertama, dan pacar kedua.
Apakah mungkin ada pacar ketiga?
Ntahlah…
CINTA. Cinta itu bisa membuat orang lemah, bahkan kuat sekali pun. Cinta datang tak pernah disangka. Seperti awal aku merasakan yang namanya cinta. Itu saat aku duduk di kelas 3 SD. Aku namakan itu cinta pertama. Cinta itu hanya seutas kata, dan menjadi hal yang paling memalukan. Cinta pertama aku, namanya Satria. Lalu saat aku mulai mengetahui tentang cinta lagi, aku namakan itu, cinta monyet. Ya meski katanya itu jadian, tapi namanya juga anak kelas 3 SD. Waktu pun bergulir, aku masih merasakan atmosfer cinta monyet. Hmmmm… Ini disebabkan aku belum “ngeuh” tentang pacaran. 2kali seingatku, aku masih menggeluti cinta monyet itu (hahahahahaha). Dan pada akhirnya, aku merasakan atmosfer pacar pertamaku. Dia adalah MDA. Seseorang yang memperkenalkan aku pada dunia cinta remaja. Meski kita akhirnya harus berpisah. Good bye my first boyfriend. Selanjutnya. Pacar kedua aku, AG. Dari 2 orang sample yang aku sebut pacar, keduanya membuat hatinya deg-degan udah pasti. Dan membuat hatiku ngamuk-ngamuk juga iya. Terakhir kata, membuat hatiku nangis Bombay. Ihhhh enggak deh :D
FINISH.
Inilah kisah CINTAku. Dimulai dari cinta pertama, cinta monyet, pacar pertama, dan pacar kedua.
Apakah mungkin ada pacar ketiga?
Ntahlah…
Selasa, 10 Mei 2011
delete
Tuhan.. aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Mungkinkah aku menyayanginya lebih dari yang aku kira? Aku merasa ada nada-nada yang mengoyak hati saat ku lihat dia bersamanya. Serta sikapnya yang memang misteri terhadap dirinya. Aku tahu Tuhan, aku tidak layak untuk mendeskripsikan perasaanku ini. Tapi aku yakin perasaan ini hanya sesaat, bukan? Dan kelak kau akan pertemukan dan mengizinkanku menyayangi seseorang yang terbaik menurutmu. Namun rasa ini Tuhan, biarkan Kau hapus saja. Dan biar ku kubur menjadi kenangan tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Dan biarkanlah dirinya dengan dirinya, merajut renda ceria.
Senin, 09 Mei 2011
?
Apakah aku layak untuk mengaguminya? Sosok yang begitu sempurna bagi diriku yang tak mempunyai apa-apa. Ku lihat perawakannya yang lumayan jangkung, dengan kulit yang putih bagi ukuran seorang laki-laki. Belum lagi senyumnya yang mampu menggetarkan hatiku. Tak lupa prestasinya yang membuat aku semakin membelalakkan mata. Langkahnya menuju mushola saat istirahat kedua pun mampu membuat aku semakin mengaguminya. Ya sosok yang kini tengah ku intip dari balik jendela.
Subhanallah.. tak henti-hentinya aku mendecap kata itu. Maha Sempurna Ilahi telah menciptakkan sosok seperti dirinya. Rasa yang ada di dalam hati ini hanya bisa berbicara teramat pelan. Malu rasanya diriku yang tak ada apa-apanya ini mengaguminya. Lancang rasanya jika perasaanku ini diungkapkan.
Subhanallah.. tak henti-hentinya aku mendecap kata itu. Maha Sempurna Ilahi telah menciptakkan sosok seperti dirinya. Rasa yang ada di dalam hati ini hanya bisa berbicara teramat pelan. Malu rasanya diriku yang tak ada apa-apanya ini mengaguminya. Lancang rasanya jika perasaanku ini diungkapkan.
Jumat, 29 April 2011
keep spirit for me!!!
aku tak tau apa yang aku rasakan sekarang. rasanya dadaku ini terasa sesak. tangis yang ingin membludak aku tahan dalam-dalam. lalu inginnn sekali aku bisa menutup akses dengan semua masa laluku.. aku harus tegar memang! tapi di saat aku berada di puncak ketegaran aku benar-benar tegar. tapi di saat aku rapuh melihat dan menyaksikan bagian-bagian, potongan-potongan dari masa laluku, rasanya aku tak mampu untuk berdiri tegap. apalagi untuk melangkahkan kaki. masa laluku sepertinya tidak menginginkanku untuk ada di dalamnya... demikian hatiku berkata saat ini, Sabtu 30 April 2011, 11.15..
Senin, 18 April 2011
sebuah dongen klasik (Putri Gubrak)
Sebuah dongeng klasik imajinasiku :D
Selamat membaca ....
Hai.. Namaku adalah Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Aku adalah seorang putri tunggal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Mekar Asih. Ayahku kini telah berusia senja, Raja Aditya Kusuma yang terkenal baik di mata rakyat-rakyatnya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat berjasa di karir ayah, beliau adalah Saras Dewanti. Ayahku begitu mengingkan aku sebagai pengganti dirinya. Namun perintah perundang-undangan kerajaan tidak mengizinkan penguasanya adalah seorang wanita. Apalagi aku. Aku kini masih belia. Umurku masih 16 tahun. Aku mengenyam pendidikan dengan system home schooling. Guruku adalah seorang guru besar dari sebuah universitas luar negeri. Aku meskipun baru berusia 16 tahun, namun sudah diberikan materi perkuliahan yang mana berkaitan dengan kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat kanker. Karena jujur saja, di desaku banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena tidak tersembuhkan oleh penyakit itu. Tapi apa daya, aku adalah seorang putrid yang harus tunduk pada titah ayahku dan tradisi di kerajaanku. Ayahku memintaku untuk segera menikah, supaya suamiku kelak bisa menggantikan posisinya. Jika aku menolak, tentu saja aku telah mengecewakan beliau. Namun entah mengapa, keinginanku yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter begitu besar. Sampai akhirnya aku merasa ingin melarikan diri dari sangkar emas ini. Sekat pembatas aku dengan dunia luar, yang tidak begitu sering aku kunjungi. Palingan bila sekedar jalan-jalan mencari buku, atau menghadiri jamuan makan warga.
Dunia aku tahu sangat luas, namun jangkauanku terasa sempit. Guru home schoolingku selalu bercerita tentang dunia luar yang hanya menjadi daya khayalku saja. Siang itu, guruku tak bisa hadir, karena beliau harus menghadiri sebuah acara di kedutaan besar. Hasratku untuk mengetahui dunia luar, semakin berapi-api. Segenap cara aku pikirkan untuk keluar dari istana. Akhirnya sebuah ide pun muncul. Aku menyamar menjadi seorang gadis biasa. Yang biasanya mengantarkan buku padaku. Aku mengenakan baju yang tak biasa aku kenakan. Baju sederhana dengan renda putih di bagian bawahnya. Aku meletakkan semua perabotan yang biasa melekat pada tubuhku. Lalu ku menyelinap kelar dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang mencurigai gerak-gerikku.
Sesampainya di luar, aku segera berjalan menjauhi kerajaan. Sejauh mungkin, namun anehnya kakiku tak lelah sedikit pun. Aku terkagum-kagum melihat semua yang terekam oleh mataku. Sampai akhirnya aku melihat sebuah klinik yang peuh dengan antrian pasien. Hal itu membuatku ingin memasukinya. Antrian pasien itu cukup panjang. Mereka bertubuh kurus. Bahkan ada yang helaian rambutnya rontok. Berantakan tepat di bawah tubuhnya yang sedang berdiri. Teringat pelajaran yang selama ini paling aku sukai analisis penyakit, dan tanda-tanda ini. Ya kanker! Hentakku dalam hati.
Seorang dokter muda, keluar dari ruangannya. Senyumnya yang menawan menggetarkan hatiku, sebentar aku rasakan waktu berhenti berputar, dan dunia terasa beku. Laki-laki muda yang berperawakan keren itu adalah dokternya. Ku tatap daun pintu di mana ia keluar, terbaca sebuah nama Dr. Satria Dian Munggaran. Baru kali ini aku rasakan sebuah getaran yang membuat tubuhku terasa tak bernyawa. Dan sosok laki-laki itu kini mendekatiku. Mungkin kehadiranku sedikit aneh di matanya. dia bertanya, “maaf dinda, rasanya baru kali ini saya melihat kehadiran anda?”. Aku semakin sesak, mungkin ini yang dinamakan cinta. Karena sebelumnya aku hanya berteori saja. Aku mematung. Lidahku terasa kelu untuk mengucap. Bibirku terasa rapat untuk berkata.. Dadaku lebih dan semakin sesak. Pandanganku buram. Gelap.
Saat ku cium wangi rempah-rempah dari pembuluh-pembuluh hidungku. Aku terbangun. Membuka mata. Dan yang aku lihat sosok laki-laki tadi. Kepalaku terasa berat. Mungkin ini akibat pingsan tadi. Dokter itu kini telah membuka jas putih yang tadi ia kenakan. Kini dia memakai sweater berwarna abu-abu. Menggigil rasanya tubuh ini, bila di dekatnya. Tapi aku mencegah semua reaksi tubuhku itu. Supaya aku bisa merasa lebih baik lagi. Dokter itu memberiku sebuah cangkir yang mengepul asal di atasnya sembari berkata, “ini teh manis hangat, ayo diminum dulu!”
“Terima kasih.” Jawabku.
“Siapa nama dinda?” tanyanya dengan senyuman yang meluluhkan hati.
Aku malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
“Namaku?” malah malik bertanya.
“Iya, namamu dinda. Aku Satria Dian Munggaran.” Sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
Tentu saja itu semakin meluluhkan hatiku. Hamper saja aku hendak menyebutkan nama asliku. Tapi hal itu akan membahayakan keadaan diriku. Aku langsung berpikir dan melontar dengan reaktif, “Tyas”. Jawabku singkat. Dalam otakku, ya dengan nama Tyas tidak begitu menyalahi aturan, karena dalam nama asliku yang begitu panjang tertera kata Tyas.
Dokter yang tampan itu, membiarkanku tinggal bersama dirinya dan ibunya. Aku banyak belajar banyak tentang ilmu kedokteran darinya. Aku sering membantunya di klinik tempat ia bekerja. Sampai pada suatu hari, berita hilangnya Putri kerajaan terdengar ke telingaku sendiri. Aku sedikit merasa takut. Karena hokum perundang-undangan kerajaan akan menjeratku. Namun aku pun begitu yakin, dengan ditemukannya obat penyembuh penyakit kanker akan aku temukan. Dan kerajaan akan menjadi bangga. Setiap hari aku mengadakan penelitian dan sharing banyak dengan Dr. Satria.
Tahun berganti tahun. Tak terasa kini umurku telah menginjak usia kepala dua. Obat kanker yang aku racik akan dicobakan pada penderita yang biasa control ke klinik Dr. Satria. Dia adalah pasien yang sudah menginjak stadium 4. Alhasil, pasien tadi menjadi segar bugar kembali. Namun resikonya gigi pasien tadi tak secemerlang semula. Setiap obat, pasti ada efeknya. Namun aku merasa bangga, aku telah menemukan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang banyak menggulingkan korban khususnya di desaku yang telah lama aku tinggalkan.
Berita tentang penemuan obat penyakit menggila itu telah sampai ke kerajaan. Pihak kerajaan pun memutuskan untuk menemui siapa orang itu, dan akan diberikan penghargaan. Tanpa disangka-sangka rombongan kerajaan sampailah di rumah Dr. Satria itu. Putri alias Tyas sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Namun sebelum terlambat, akhirnya ia yang menjemput ayahnya dengan senyuman.
“Ayah….” Teriaknya sambil berlari dari ruangan dalam. Dr. Satria dan ibunya terbelalak.
Akhirnya hukum perudang-udangan kerajaan pun di sesuaikan dengan jaman, sehingga tak ada satu pasal pun yang mampu menjerat kaburnya Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Perundang-undangan baru pun mengizinkan sang putri menikah dengan Dr. Satria Dian Munggaran, laki-laki pertama yang mampu mencuri hatinya, yang mengenalkan sang putrid pada kata cinta. Keluarga, kerabat, dan seluruh warga desa merasa bangga pada sang putri. Namun karena keduanya tidak merasa cocok dengan dunia kerajaan, mereka memutuskan untuk hidup seperti warga biasa. Dan menjalani profesi mereka sebagai dokter. Karena ternyata sang ayah menyekolahkan Putri di universitas kedokteran ternama di kotanya. Dr. Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti putrid kerajaan yang menemukan obat penyempuh penyakit kanker.
Keduanya hidup bahagia selama-lamanya…
Selamat membaca ....
Hai.. Namaku adalah Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Aku adalah seorang putri tunggal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Mekar Asih. Ayahku kini telah berusia senja, Raja Aditya Kusuma yang terkenal baik di mata rakyat-rakyatnya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat berjasa di karir ayah, beliau adalah Saras Dewanti. Ayahku begitu mengingkan aku sebagai pengganti dirinya. Namun perintah perundang-undangan kerajaan tidak mengizinkan penguasanya adalah seorang wanita. Apalagi aku. Aku kini masih belia. Umurku masih 16 tahun. Aku mengenyam pendidikan dengan system home schooling. Guruku adalah seorang guru besar dari sebuah universitas luar negeri. Aku meskipun baru berusia 16 tahun, namun sudah diberikan materi perkuliahan yang mana berkaitan dengan kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat kanker. Karena jujur saja, di desaku banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena tidak tersembuhkan oleh penyakit itu. Tapi apa daya, aku adalah seorang putrid yang harus tunduk pada titah ayahku dan tradisi di kerajaanku. Ayahku memintaku untuk segera menikah, supaya suamiku kelak bisa menggantikan posisinya. Jika aku menolak, tentu saja aku telah mengecewakan beliau. Namun entah mengapa, keinginanku yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter begitu besar. Sampai akhirnya aku merasa ingin melarikan diri dari sangkar emas ini. Sekat pembatas aku dengan dunia luar, yang tidak begitu sering aku kunjungi. Palingan bila sekedar jalan-jalan mencari buku, atau menghadiri jamuan makan warga.
Dunia aku tahu sangat luas, namun jangkauanku terasa sempit. Guru home schoolingku selalu bercerita tentang dunia luar yang hanya menjadi daya khayalku saja. Siang itu, guruku tak bisa hadir, karena beliau harus menghadiri sebuah acara di kedutaan besar. Hasratku untuk mengetahui dunia luar, semakin berapi-api. Segenap cara aku pikirkan untuk keluar dari istana. Akhirnya sebuah ide pun muncul. Aku menyamar menjadi seorang gadis biasa. Yang biasanya mengantarkan buku padaku. Aku mengenakan baju yang tak biasa aku kenakan. Baju sederhana dengan renda putih di bagian bawahnya. Aku meletakkan semua perabotan yang biasa melekat pada tubuhku. Lalu ku menyelinap kelar dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang mencurigai gerak-gerikku.
Sesampainya di luar, aku segera berjalan menjauhi kerajaan. Sejauh mungkin, namun anehnya kakiku tak lelah sedikit pun. Aku terkagum-kagum melihat semua yang terekam oleh mataku. Sampai akhirnya aku melihat sebuah klinik yang peuh dengan antrian pasien. Hal itu membuatku ingin memasukinya. Antrian pasien itu cukup panjang. Mereka bertubuh kurus. Bahkan ada yang helaian rambutnya rontok. Berantakan tepat di bawah tubuhnya yang sedang berdiri. Teringat pelajaran yang selama ini paling aku sukai analisis penyakit, dan tanda-tanda ini. Ya kanker! Hentakku dalam hati.
Seorang dokter muda, keluar dari ruangannya. Senyumnya yang menawan menggetarkan hatiku, sebentar aku rasakan waktu berhenti berputar, dan dunia terasa beku. Laki-laki muda yang berperawakan keren itu adalah dokternya. Ku tatap daun pintu di mana ia keluar, terbaca sebuah nama Dr. Satria Dian Munggaran. Baru kali ini aku rasakan sebuah getaran yang membuat tubuhku terasa tak bernyawa. Dan sosok laki-laki itu kini mendekatiku. Mungkin kehadiranku sedikit aneh di matanya. dia bertanya, “maaf dinda, rasanya baru kali ini saya melihat kehadiran anda?”. Aku semakin sesak, mungkin ini yang dinamakan cinta. Karena sebelumnya aku hanya berteori saja. Aku mematung. Lidahku terasa kelu untuk mengucap. Bibirku terasa rapat untuk berkata.. Dadaku lebih dan semakin sesak. Pandanganku buram. Gelap.
Saat ku cium wangi rempah-rempah dari pembuluh-pembuluh hidungku. Aku terbangun. Membuka mata. Dan yang aku lihat sosok laki-laki tadi. Kepalaku terasa berat. Mungkin ini akibat pingsan tadi. Dokter itu kini telah membuka jas putih yang tadi ia kenakan. Kini dia memakai sweater berwarna abu-abu. Menggigil rasanya tubuh ini, bila di dekatnya. Tapi aku mencegah semua reaksi tubuhku itu. Supaya aku bisa merasa lebih baik lagi. Dokter itu memberiku sebuah cangkir yang mengepul asal di atasnya sembari berkata, “ini teh manis hangat, ayo diminum dulu!”
“Terima kasih.” Jawabku.
“Siapa nama dinda?” tanyanya dengan senyuman yang meluluhkan hati.
Aku malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
“Namaku?” malah malik bertanya.
“Iya, namamu dinda. Aku Satria Dian Munggaran.” Sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
Tentu saja itu semakin meluluhkan hatiku. Hamper saja aku hendak menyebutkan nama asliku. Tapi hal itu akan membahayakan keadaan diriku. Aku langsung berpikir dan melontar dengan reaktif, “Tyas”. Jawabku singkat. Dalam otakku, ya dengan nama Tyas tidak begitu menyalahi aturan, karena dalam nama asliku yang begitu panjang tertera kata Tyas.
Dokter yang tampan itu, membiarkanku tinggal bersama dirinya dan ibunya. Aku banyak belajar banyak tentang ilmu kedokteran darinya. Aku sering membantunya di klinik tempat ia bekerja. Sampai pada suatu hari, berita hilangnya Putri kerajaan terdengar ke telingaku sendiri. Aku sedikit merasa takut. Karena hokum perundang-undangan kerajaan akan menjeratku. Namun aku pun begitu yakin, dengan ditemukannya obat penyembuh penyakit kanker akan aku temukan. Dan kerajaan akan menjadi bangga. Setiap hari aku mengadakan penelitian dan sharing banyak dengan Dr. Satria.
Tahun berganti tahun. Tak terasa kini umurku telah menginjak usia kepala dua. Obat kanker yang aku racik akan dicobakan pada penderita yang biasa control ke klinik Dr. Satria. Dia adalah pasien yang sudah menginjak stadium 4. Alhasil, pasien tadi menjadi segar bugar kembali. Namun resikonya gigi pasien tadi tak secemerlang semula. Setiap obat, pasti ada efeknya. Namun aku merasa bangga, aku telah menemukan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang banyak menggulingkan korban khususnya di desaku yang telah lama aku tinggalkan.
Berita tentang penemuan obat penyakit menggila itu telah sampai ke kerajaan. Pihak kerajaan pun memutuskan untuk menemui siapa orang itu, dan akan diberikan penghargaan. Tanpa disangka-sangka rombongan kerajaan sampailah di rumah Dr. Satria itu. Putri alias Tyas sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Namun sebelum terlambat, akhirnya ia yang menjemput ayahnya dengan senyuman.
“Ayah….” Teriaknya sambil berlari dari ruangan dalam. Dr. Satria dan ibunya terbelalak.
Akhirnya hukum perudang-udangan kerajaan pun di sesuaikan dengan jaman, sehingga tak ada satu pasal pun yang mampu menjerat kaburnya Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Perundang-undangan baru pun mengizinkan sang putri menikah dengan Dr. Satria Dian Munggaran, laki-laki pertama yang mampu mencuri hatinya, yang mengenalkan sang putrid pada kata cinta. Keluarga, kerabat, dan seluruh warga desa merasa bangga pada sang putri. Namun karena keduanya tidak merasa cocok dengan dunia kerajaan, mereka memutuskan untuk hidup seperti warga biasa. Dan menjalani profesi mereka sebagai dokter. Karena ternyata sang ayah menyekolahkan Putri di universitas kedokteran ternama di kotanya. Dr. Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti putrid kerajaan yang menemukan obat penyempuh penyakit kanker.
Keduanya hidup bahagia selama-lamanya…
Terlalu Lama miliknya Vierra
LAGU INI aku suka banget :D
sudah lama ku menanti dirimu
tak tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah
*entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan
reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu
repeat *
repeat reff
(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
repeat reff
sudah lama ku menanti dirimu
tak tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah
*entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan
reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu
repeat *
repeat reff
(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
repeat reff
Adel Si Kuper
Namaku Adel Safiratunnisa. Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ibu dan ayahku telah lama bercerai. Kini aku tinggal bersama ibu kandung dan ayah tiriku. Aku bersekolah di salah satu SMA Negeri, ini tahun pertamaku mengenyam dunia SMA.
Alhamdulillah, ibuku mengizinkanku untuk pacaran, dengan alasan tidak mengganggu ibadah dan prestasiku di sekolah. Saat awal masuk sekolah sih, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Namun ternyata harus kandas. Aku tidak ingin menceritakan apa penyebabnya. Yang jelas hal itu membuat perasaanku hancur dan hatiku terasa remuk berkeping-keping.
Alhamdulillah lagi, pengalaman pahit kemarin mampu membuat aku lebih bisa membuka mata lagi. Prestasiku Alhamdulillah tidak menurun, meski kondisiku sempat drop dan emosi membuncah tidak jelas.
Hari ini adalah hari Sabtu, terakhir bersekolah sebelum murid-murid kelas X dan XI belajar di rumah karena kelas XIInya UN. Kegiatan belajar mengajar pun tidak begitu full time seperti biasanya. Hanya pelajaran penjas yang menguras tenaga tak terganggu apa-apa. Selebihnya, murid-murid ditugaskan membersihkan kelas. Ya meski rasa capek masih tersimpan dalam raga ini, tapi tuntutan kelas harus bersih. Ya mau apa lagi, selain bersih-bersih. Namun, hanya beberapa siswi yang mau memegang sapu dan membereskan apa yang tidak enak dipandang. Yang lainnya khususnya kaum adam, sibuk mengobrolkan liburan bersama mereka ke Solirgrass. Sebuah tempat rekreasi yang menyuguhkan panorama hijau. Aku berkata dalam hati, mereka mana mau mengajak aku, aku kan hanya Adel si kuper. Setiap hendak keluar rumah pasti sulit minta ijin dari ibu. Belum lagi biaya pengeluaran yang membengkakkan. Ibu pasti banyak ceramahin aku. Belum lagi menganalisis dampaknya bagi aku. Tapi naluri remajaku ya mengatakan, kapan aku diijinkan main bersama teman-teman?
Aku hanya memelototi ponselku saat mereka terus bercengkrama tentang planning mereka. Tak pedulikan Adel si kuper ini. Tapi tak apalah, lagian tanpa aku ikut liburan ke Solirgrass pun aku masih bisa hidup dan merasakan kebebasanku sebagai seorang remaja.
Hmmmmm. Cuma yang bikin aku gak enak hati, temen-temen sekelas jadi ngerasa canggung ngobrol di depan aku, kaya yang hendak menyembunyikan rencana mereka, tapi tanggung ketahuan. Ya gimana?
Padahal nyantai aja kali guys, senyumku dalam hati. Lalu akhirnya bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah lagi. Aku gak jadi bahan kecanggungan mereka. Ntahlah apa yang membuat mereka seperti itu padaku, yang jelas aku sangat bersyukur “Alhamdulillah” ibu selalu over protektif padaku, semua itu karena ibu sayang aku. Ibu gak mau mendidik aku menjadi seorang remaja yang bebas, yang hidup dengan penuh hura-hura. Ibu mengerti aku. I LOVE YOU ibu…
Alhamdulillah, ibuku mengizinkanku untuk pacaran, dengan alasan tidak mengganggu ibadah dan prestasiku di sekolah. Saat awal masuk sekolah sih, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Namun ternyata harus kandas. Aku tidak ingin menceritakan apa penyebabnya. Yang jelas hal itu membuat perasaanku hancur dan hatiku terasa remuk berkeping-keping.
Alhamdulillah lagi, pengalaman pahit kemarin mampu membuat aku lebih bisa membuka mata lagi. Prestasiku Alhamdulillah tidak menurun, meski kondisiku sempat drop dan emosi membuncah tidak jelas.
Hari ini adalah hari Sabtu, terakhir bersekolah sebelum murid-murid kelas X dan XI belajar di rumah karena kelas XIInya UN. Kegiatan belajar mengajar pun tidak begitu full time seperti biasanya. Hanya pelajaran penjas yang menguras tenaga tak terganggu apa-apa. Selebihnya, murid-murid ditugaskan membersihkan kelas. Ya meski rasa capek masih tersimpan dalam raga ini, tapi tuntutan kelas harus bersih. Ya mau apa lagi, selain bersih-bersih. Namun, hanya beberapa siswi yang mau memegang sapu dan membereskan apa yang tidak enak dipandang. Yang lainnya khususnya kaum adam, sibuk mengobrolkan liburan bersama mereka ke Solirgrass. Sebuah tempat rekreasi yang menyuguhkan panorama hijau. Aku berkata dalam hati, mereka mana mau mengajak aku, aku kan hanya Adel si kuper. Setiap hendak keluar rumah pasti sulit minta ijin dari ibu. Belum lagi biaya pengeluaran yang membengkakkan. Ibu pasti banyak ceramahin aku. Belum lagi menganalisis dampaknya bagi aku. Tapi naluri remajaku ya mengatakan, kapan aku diijinkan main bersama teman-teman?
Aku hanya memelototi ponselku saat mereka terus bercengkrama tentang planning mereka. Tak pedulikan Adel si kuper ini. Tapi tak apalah, lagian tanpa aku ikut liburan ke Solirgrass pun aku masih bisa hidup dan merasakan kebebasanku sebagai seorang remaja.
Hmmmmm. Cuma yang bikin aku gak enak hati, temen-temen sekelas jadi ngerasa canggung ngobrol di depan aku, kaya yang hendak menyembunyikan rencana mereka, tapi tanggung ketahuan. Ya gimana?
Padahal nyantai aja kali guys, senyumku dalam hati. Lalu akhirnya bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah lagi. Aku gak jadi bahan kecanggungan mereka. Ntahlah apa yang membuat mereka seperti itu padaku, yang jelas aku sangat bersyukur “Alhamdulillah” ibu selalu over protektif padaku, semua itu karena ibu sayang aku. Ibu gak mau mendidik aku menjadi seorang remaja yang bebas, yang hidup dengan penuh hura-hura. Ibu mengerti aku. I LOVE YOU ibu…
Minggu, 17 April 2011
cuma gak mau nyakitin tryana ? (makasih ^_^)
hari yang sepi. aku membantingkan tubuhku di kasur yang tipis ini. ku rasakan punggungku sakit. namun tak apalah kataku dalam hati. lalu jemari jemari ini menghampiri ponsel yang baru saja menyelam dalam gayung tadi siang. -hahahaha-
aku mencari cari kesibukan di ponselku itu. namun, tetap sepi yang ku rasa.lalu aku coba mendengarkan sebuah lagu, yang bejudul TERLALU LAMA, milik salah satu band yang cukup famous dikalangan anak muda. lalu aku mengetikkan judul lagu dan nama penyanyinya, send ke beberapa teman deh. termasuk dirinya. sebenarnya ada benang merahnya juga sih dengan lagu itu. dan tarammmmmm.. dia membalas dengan kata-kata yang cukup bijak pikirku. intinya dia gak mau nyakitin perasaan aku. jadi selama ini ya selama ini. deskripsi dari semua ini aku simpan di hati. smile tryana :)
aku mencari cari kesibukan di ponselku itu. namun, tetap sepi yang ku rasa.lalu aku coba mendengarkan sebuah lagu, yang bejudul TERLALU LAMA, milik salah satu band yang cukup famous dikalangan anak muda. lalu aku mengetikkan judul lagu dan nama penyanyinya, send ke beberapa teman deh. termasuk dirinya. sebenarnya ada benang merahnya juga sih dengan lagu itu. dan tarammmmmm.. dia membalas dengan kata-kata yang cukup bijak pikirku. intinya dia gak mau nyakitin perasaan aku. jadi selama ini ya selama ini. deskripsi dari semua ini aku simpan di hati. smile tryana :)
Sabtu, 16 April 2011
Ya !
Pada keping keping haru
Ku titipkan air mataku
Dalam seonggok rindu
Ku curahkan perasaanku
Bayang bayang...
Ya ! Bayang bayang bukan nyata
Aku menghampiri raga
Sulit bergulat dengan waktu, materi dan tenaga
Biar hilang
Namun malang
Biar terdiam
Namun tangis bercucuran
Ku titipkan air mataku
Dalam seonggok rindu
Ku curahkan perasaanku
Bayang bayang...
Ya ! Bayang bayang bukan nyata
Aku menghampiri raga
Sulit bergulat dengan waktu, materi dan tenaga
Biar hilang
Namun malang
Biar terdiam
Namun tangis bercucuran
MK
Memutar waktu
Berjalan mundur
Di persimpangan hati
Terukir sebuah kisah klasik
Tentang kau dan aku...
Tentang kau
Yang dulu...
Penuh cinta
Bahagia
Namun pendusta...
Berjalan mundur
Di persimpangan hati
Terukir sebuah kisah klasik
Tentang kau dan aku...
Tentang kau
Yang dulu...
Penuh cinta
Bahagia
Namun pendusta...
entah (perasaanku-perasaannya)
malam yang dingin. dengan jam yang terus berputar mengantarkan aku pada waktu yang semakin larut. malam itu tepat di mana saat perdebatan antara aku dan dirinya berlangsung. apa yang menyebabkan semua ini? sebabnya mungkin simple bagi segelintir orang. tapi tidak untuk aku ataupun dirinya. "perasaan masing-masing". aku dijejali pertanyaan pertanyaan olehnya. dan aku sangat bingung untuk menjawabnya. perasaanku, yang entah bagaimana aku mendeskripsikannya. dan perasaan dirinya yang menjadi misteri bagiku. kini juga entah, dan entah?
Sabtu, 09 April 2011
Kisah Pedagang Bacang
Siang itu mentari bersinar sangat terik. Langit cerah sempurna. Awan awan bergumpalan lembut. Putih, menghiasi kanvas langit yang biru. Di gerbang sana, dia berdiri. Dihadapannya tambak sebuah keranjang dengan bacang bacang yang ada di dalamnya. Topi yang ia kenakan, sebagai tameng dari sang raja siang yang memang sedang meradang. Sepeda yang biasa ia tunggangi, diparkirkan di pojok gerbang. Dia tahu apa yang harus ia tunggu, yaitu siswa siswa yang hendak membeli apa yang ia jajakan. Lalu, satu dua orang melewati sosoknya begitu saja, atau di antara mereka hanya menatap wajahnya sambil tersenyum kecut. Dia memang sosok yang –maaf memunyai kekeurangan-- namun rasanya tidak pantas, anak SMA, jika harus mengejeknya. Menertawakannya. Karena dia juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan kekurangan yang ia miliki sekarang, bukan? Dia menunggu dagangannya laku, hingga senja ada di depan waktu.
sekilas tentang sosok Angga
Gue Angga. Angga Pradipta. Gue cowo paling keren, pinter, dan yang pasti cewek-cewek pada ngiler. Gue anak tunggal dari pasangan Agung Pradipta dan Yovia Iskandar. Bokap gue, pengusaha terkenal yang juga megang jabatan di salah satu BUMN. Nyokap gue seorang guru di salah satu SMP swasta. Semua yang gue mau, harus gue dapetin. Termasuk… Dea. Cewek yang terkenal pinter dan baik itu, sekarang lagi deket sama sohib gue sendiri. Gak masalah. Dalam sekejap, dia akan jadi milik gue.
Malam itu, dengan sedikit malu-malu, Angga mengirim pesan singkat pada Dea. Hanya dua kata, yaitu “LOVE YOU”. Dea yang sedang asyik telpon-telponan dangan Riki, sahabat Angga, merasa tersentak dan menjadi gugup sendiri. Dia menutup telpon secara sepihak dan segera berlari ke kamarnya. Membantingkan tubuhnya, di kasur yang sudah tidak begitu empuk. Dea memandangi langit-langit kamarnya. Dia begitu kaget, seorang Angga yang dikenal dingin, menyatakan perasaan padanya. Lalu, beberapa detik kemudain, Dea menijit tombol-tombol ponselnya, dan membalas “KAMU SERIUS?”. Jantung Dea berdegup lebih kencang lagi. Dia menanti-nanti ponselnya akan berdering dan memunculkan sebuah kotak pesan dari Angga. Hendak saja dia tertidur saking lamanya Angga membalas, ya meski balasan singkat, “IYA, AKU SERIUS DE ”. Dengan segera Dea membalas, “AKU GAK BISA JAWAB SEKARANG NGGA, AKU BUTUH WAKTU UNTUK MEMIKIRKAN SEMUA.” Dea menjadi agak lega setelah berkata seperti itu. Lalu ia beranjak tidur.
Malam itu, dengan sedikit malu-malu, Angga mengirim pesan singkat pada Dea. Hanya dua kata, yaitu “LOVE YOU”. Dea yang sedang asyik telpon-telponan dangan Riki, sahabat Angga, merasa tersentak dan menjadi gugup sendiri. Dia menutup telpon secara sepihak dan segera berlari ke kamarnya. Membantingkan tubuhnya, di kasur yang sudah tidak begitu empuk. Dea memandangi langit-langit kamarnya. Dia begitu kaget, seorang Angga yang dikenal dingin, menyatakan perasaan padanya. Lalu, beberapa detik kemudain, Dea menijit tombol-tombol ponselnya, dan membalas “KAMU SERIUS?”. Jantung Dea berdegup lebih kencang lagi. Dia menanti-nanti ponselnya akan berdering dan memunculkan sebuah kotak pesan dari Angga. Hendak saja dia tertidur saking lamanya Angga membalas, ya meski balasan singkat, “IYA, AKU SERIUS DE ”. Dengan segera Dea membalas, “AKU GAK BISA JAWAB SEKARANG NGGA, AKU BUTUH WAKTU UNTUK MEMIKIRKAN SEMUA.” Dea menjadi agak lega setelah berkata seperti itu. Lalu ia beranjak tidur.
pagi pagi di dalam hati
Pagi yang cerah, kanvas biru yang dipadukan arsiran lembut awan putih menjadi payung yang indah di pagi ini. Jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan, membuatku sedikit sulit untuk menyebrang jalan. Fiuhhh… Untunglah aku bisa sampai ke sebrang jalan sana. Aku hendak naik angkot menuju sekolahku. Aku terus menanti kedatangan mobil yang bercatkan merah dan coklat itu, lama sekali, pikirku dalam hati. Padahal jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Lalu aku mengarahkan pandanganku ke sebelah kanan. Menanti nanti si angkot yang hendak ku naiki. Hati mulai merasa lega, saat sebuah angkot terlihat oleh mata. Namun angkot itu berhenti di gerbang sebuah sekolah yang tak jauh dari rumahku. Turun seseorang yang mengenakan jaket berwarna hitam. Semula aku biasa saja, tapi kebiasaan yang aku rasakan itu beralih menjadi hentakan yang menggetarkan hatiku. Ya itu adalah seseorang yang pernah ku kagumi namun tak sempat ku miliki. Flashback sejenak. Teringat kenangan ketika masa SMP di sana. Di memori otakku. Angkot yang tadi ia tumpangi, kini melaju ke arahku, aku masih kikuk dan memperhatikan sosok yang hendak menghilang dari pandanganku itu. Lalu dengan kaki yang terasa tidak menginjak bumi, aku pun naik angkot yang ku tunggu-tunggu itu. Dalam perjalanan. Entah apa yang aku pikirkan? -hahahahahahaha-
Dan di perempatan jalan, lampu merah sedang menyala. Angkot yang ku membawa diriku pun berhenti seketika, belum saja hatiku pulih kembali seperti sedia kala, tampak seseorang yang berjaket blaster menunggangi sebuah motor matic hinggap di pandangan mataku. Haaaaaaaaaaaaaaaa…. Dia adalah mantan pacarku.
Sepertinya pagi ini adalah pagi yang didesain khusus untukku, untuk bertemu sosok yang sempat menggetarkan hatiku di masa lalu…
Dan di perempatan jalan, lampu merah sedang menyala. Angkot yang ku membawa diriku pun berhenti seketika, belum saja hatiku pulih kembali seperti sedia kala, tampak seseorang yang berjaket blaster menunggangi sebuah motor matic hinggap di pandangan mataku. Haaaaaaaaaaaaaaaa…. Dia adalah mantan pacarku.
Sepertinya pagi ini adalah pagi yang didesain khusus untukku, untuk bertemu sosok yang sempat menggetarkan hatiku di masa lalu…
simple love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
And the last, I will say I LOVE you...
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
And the last, I will say I LOVE you...
Jumat, 01 April 2011
Aku BUKAN Mak Comblangmu, Mantanku!
Siang itu mentari bersinar cukup cerah. Namun entah mengapa, hujan hadir merintik meski tak deras. Terdengar derap derap langkah siswa siswi yang keluar dari gerbang sekolah. Aku terdiam sejenak di parkiran depan. Lalu ku tengadahkan kepalaku, melihat langit yang biru. Memastikan hujan tak akan mengguyur hebat membasahi semua.
Hendak kakiku melangkah lagi, terdengar suara mengucap namaku. ADEL. Aku langsung mencari dari mana suara itu berasal. Seseorang di pojok parkiran sana, melambaikan tangan seraya menginginkan ragaku untuk menghampirinya. Aku tersentak saat aku sadar, siapa seseorang di sana. KAK ADAM. Seseorang yang pernah menjalin kasih denganku. Aku langsung berkata, “kau memanggilku?” Kak Adam hanya mengangguk dan lagi-lagi melambaikan tangannya. Aku berjalan dengan sedikit gemetar. Teringat di saat dulu, dia menungguku untuk pulang bersama atau sekedar memestikan, aku langsung pulang atau hendak mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Hujan yang tadi merintik, kini telah berhenti. Langit kembali cerah dengan sempurna.
“Ada apa?”, tanyaku dengan to the point.
Kak Adam menjawab sambil senyam senyum, “punya temen di kelas X-12?”
Aku mengangguk dan merespon perkataannya, “kenapa?”
“Kamu tahu Lilian? Aku pengen deketlah sama dia.”
“Oh.. Lilian. Dia temen aku waktu SD. Hah? Deket sama dia? Gak salah. Dia kan punya cowok. Kelas XI juga. Kelas sampingmu, kak.”
“Adel bisa bantu kakak kan? Kakak Cuma pengen deket aja kok. Masalahnya cewek yang kakak deketin kemarin, kok susah banget ya. Risa nolak kakak Del.” Dia berkata dengan sedikit manja dan wajah yang memelas dan diakhiri kalimat penegasan. Ya baru aku dengar seorang kak Adam ditolak cewek. Senyumku dalam hati.
“Heuh! Kakak kakak, kapan mau insyafnya bung? Dengan sebegitu cepatnya kau bisa berganti hati? Kemarin Risa, eh sekarang udah pindah ke Lilian.” Sindirku sambil cengar-cengir.
“Del, masa kamu gak bakalan bantuin kakaknya sih? Minta alamat facebooknya dong? Atau nomer handphonenya deh. Adel tahu rumahnya di mana?” cerocos Kak Adam.
“Rumahnya di ujung jalan sana kak”, tunjukku sambil berbalik badan hendak pulang. Setidaknya aku merasa kesal. Mengapa Kak Adam selalu hadir saat dia membutuhkanku saja, untuk lebih dekat dengan cewek yang hendak dijadikan mangsanya. Tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Setidaknya, aku adalah sosok yang pernah ada di dalam hidupnya. Namun mengapa dirinya seolah-olah tidak pernah memahamiku. Membaca isi hatiku. Tatapan mataku.
Kak Adam terus memanggil-manggil namaku, namun tak ku toleh… Aku terus melangkah, pulang.
Hendak kakiku melangkah lagi, terdengar suara mengucap namaku. ADEL. Aku langsung mencari dari mana suara itu berasal. Seseorang di pojok parkiran sana, melambaikan tangan seraya menginginkan ragaku untuk menghampirinya. Aku tersentak saat aku sadar, siapa seseorang di sana. KAK ADAM. Seseorang yang pernah menjalin kasih denganku. Aku langsung berkata, “kau memanggilku?” Kak Adam hanya mengangguk dan lagi-lagi melambaikan tangannya. Aku berjalan dengan sedikit gemetar. Teringat di saat dulu, dia menungguku untuk pulang bersama atau sekedar memestikan, aku langsung pulang atau hendak mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Hujan yang tadi merintik, kini telah berhenti. Langit kembali cerah dengan sempurna.
“Ada apa?”, tanyaku dengan to the point.
Kak Adam menjawab sambil senyam senyum, “punya temen di kelas X-12?”
Aku mengangguk dan merespon perkataannya, “kenapa?”
“Kamu tahu Lilian? Aku pengen deketlah sama dia.”
“Oh.. Lilian. Dia temen aku waktu SD. Hah? Deket sama dia? Gak salah. Dia kan punya cowok. Kelas XI juga. Kelas sampingmu, kak.”
“Adel bisa bantu kakak kan? Kakak Cuma pengen deket aja kok. Masalahnya cewek yang kakak deketin kemarin, kok susah banget ya. Risa nolak kakak Del.” Dia berkata dengan sedikit manja dan wajah yang memelas dan diakhiri kalimat penegasan. Ya baru aku dengar seorang kak Adam ditolak cewek. Senyumku dalam hati.
“Heuh! Kakak kakak, kapan mau insyafnya bung? Dengan sebegitu cepatnya kau bisa berganti hati? Kemarin Risa, eh sekarang udah pindah ke Lilian.” Sindirku sambil cengar-cengir.
“Del, masa kamu gak bakalan bantuin kakaknya sih? Minta alamat facebooknya dong? Atau nomer handphonenya deh. Adel tahu rumahnya di mana?” cerocos Kak Adam.
“Rumahnya di ujung jalan sana kak”, tunjukku sambil berbalik badan hendak pulang. Setidaknya aku merasa kesal. Mengapa Kak Adam selalu hadir saat dia membutuhkanku saja, untuk lebih dekat dengan cewek yang hendak dijadikan mangsanya. Tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Setidaknya, aku adalah sosok yang pernah ada di dalam hidupnya. Namun mengapa dirinya seolah-olah tidak pernah memahamiku. Membaca isi hatiku. Tatapan mataku.
Kak Adam terus memanggil-manggil namaku, namun tak ku toleh… Aku terus melangkah, pulang.
Sabtu, 19 Maret 2011
masa lalu = pergi
aku tidak mau diusik dan diganngu lagi oleh masa lalu. maka silahkan sajalah pergi dan tak usah kau kenali aku lagi. anggap tak pernah ada apa-apa diantara kita jika kau nyatanya terus begini saja. aku ingin memulai hidupku lagi. dengan cintaku yang teruntuk seseorang di sana. hahahahah
Jumat, 11 Maret 2011
12 Maret 2011
Tryana Permanasari...
Sebuah nama yang papah berikan untuk aku, tepat 16 tahun yang lalu.
Mamah yang dulu meregang nyawa, berjuang untuk menghadirkan aku ke dunia.
Bayi mungil yang masih suci itu, kini menjelma menjadi sosok remaja yg berlumuran dosa. terkadang, membantah nasihat mamah, leha-leha menjalankan perintahnya, ato mungkin merengek memaksa meminta sesuatu. Y Rabbi, ampuni hambaMu ini. aku sadar, aku banyak dosa terhadap mamahku tercinta. belum terhadap papah... dulu aku sering sekali membuatnya kesal bahkan marah, dengan tangisku yg begitu dasyatnya. mengganggu jam kerjanya atau meminta sesuatu yg ingin dikabulkan dengan cepat. maafkan aku, pah, mah...
aku sayang kalian.. terima kasih telah mengizinkan aku merasakan hidup di dunia ini, meski banyak cobaan yg kita lewati. semoga kita tetap selalu ada, dalam cinta dan kasih sayang.. dan lindungan Allah SWT...
doakan aku supaya Tryana bisa jadi anak yg sholeha, berbakti, yg ga selalu ngerepotin, yg bisa kalian banggakan, yg selalu Allah Ridhoi. amienn...
I LOVE PAPAH MAMAH :*
Sebuah nama yang papah berikan untuk aku, tepat 16 tahun yang lalu.
Mamah yang dulu meregang nyawa, berjuang untuk menghadirkan aku ke dunia.
Bayi mungil yang masih suci itu, kini menjelma menjadi sosok remaja yg berlumuran dosa. terkadang, membantah nasihat mamah, leha-leha menjalankan perintahnya, ato mungkin merengek memaksa meminta sesuatu. Y Rabbi, ampuni hambaMu ini. aku sadar, aku banyak dosa terhadap mamahku tercinta. belum terhadap papah... dulu aku sering sekali membuatnya kesal bahkan marah, dengan tangisku yg begitu dasyatnya. mengganggu jam kerjanya atau meminta sesuatu yg ingin dikabulkan dengan cepat. maafkan aku, pah, mah...
aku sayang kalian.. terima kasih telah mengizinkan aku merasakan hidup di dunia ini, meski banyak cobaan yg kita lewati. semoga kita tetap selalu ada, dalam cinta dan kasih sayang.. dan lindungan Allah SWT...
doakan aku supaya Tryana bisa jadi anak yg sholeha, berbakti, yg ga selalu ngerepotin, yg bisa kalian banggakan, yg selalu Allah Ridhoi. amienn...
I LOVE PAPAH MAMAH :*
Selasa, 08 Maret 2011
curhat
hanya lewat blog ini aku bercerita..
Tuhan.. aku tidak mengerti tentang rasa ini, mungkin aku sedikit terluka dengan apa yang aku lihat selama ini. Aku juga merasa, aku hanya terbawa oleh suasana kesendirianku, yang sudah cukup lama. Tapi Tuhan, aku tahu. Ini lebih baik, bukan? Dengan aku menjalin kasih lagi, aku akan tersakiti lagi, bukan? Aku akan menangisi semuanya seperti kemarin. Air mata yang sungguh sungguh tidak sangat penting. Ok baiklah, aku sangat menyadari, ini adalah sebuah pengalaman sekaligus pendewasaan untuk seorang aku. Merasakan bagaimana mantan pacar menjalin kasih dengan seseorang yang aku kenal. Bahkan, aku kenal dia sebelum mantan pacarku sendiri. Cerita memang akan terus bergulir, aku hanya mampu ungkap semua di sini. Mungkin banyak pihak yang akan memojokkan aku, dan mengklaim aku tentang hal negative. Namun ketahuilah.. aku memiliki perasaan, hatiku sedikit mengalami reaksi saat orang yang pernah aku sayang dan aku banggakan, menjalin hubungan setelah dengan aku. Ini bukan kali pertama, tapi ini untuk yang ke sekian kalinya. Baiklah… terserah semua mau berkomentar apa. Yang jelas aku hanya bercerita, tentang perasaanku, yang aku yakin akan segera membaik. Bissmillahirrahmannirrahiim..
Tuhan.. aku tidak mengerti tentang rasa ini, mungkin aku sedikit terluka dengan apa yang aku lihat selama ini. Aku juga merasa, aku hanya terbawa oleh suasana kesendirianku, yang sudah cukup lama. Tapi Tuhan, aku tahu. Ini lebih baik, bukan? Dengan aku menjalin kasih lagi, aku akan tersakiti lagi, bukan? Aku akan menangisi semuanya seperti kemarin. Air mata yang sungguh sungguh tidak sangat penting. Ok baiklah, aku sangat menyadari, ini adalah sebuah pengalaman sekaligus pendewasaan untuk seorang aku. Merasakan bagaimana mantan pacar menjalin kasih dengan seseorang yang aku kenal. Bahkan, aku kenal dia sebelum mantan pacarku sendiri. Cerita memang akan terus bergulir, aku hanya mampu ungkap semua di sini. Mungkin banyak pihak yang akan memojokkan aku, dan mengklaim aku tentang hal negative. Namun ketahuilah.. aku memiliki perasaan, hatiku sedikit mengalami reaksi saat orang yang pernah aku sayang dan aku banggakan, menjalin hubungan setelah dengan aku. Ini bukan kali pertama, tapi ini untuk yang ke sekian kalinya. Baiklah… terserah semua mau berkomentar apa. Yang jelas aku hanya bercerita, tentang perasaanku, yang aku yakin akan segera membaik. Bissmillahirrahmannirrahiim..
Senin, 07 Maret 2011
lamunan malam
ku rebahkan tubuhku, di kasur empuk yang lapuk.
pikiranku tak habis-habisnya mengupload gambaran-gambaran tentang yang aku lihat barusan. kemesraan angga dan vina. tetesan air mata, merembes keluar tak aku izinkan. mencoba untuk tidur, karena jam di dinding telah menunjukkan pukul 23.32. namun sulit rasanya. hati yang remuk, malah semakin mengeropos. padahal aku dan angga telah lama berpisah. sekitar 3 tahunan. entah apa yang membuat aku kembali mengingatnya. padahal kemarin-kemarin aku bisa hidup dengan porsinya aku. tanpa sedikitpun kilasan-kilasan tentang dirinya.
lalu dalam malam yang semakin hening.aku mencoba untuk menguatkan diri, dengan kesadaranku sebagai manusia yang jauh setara dengan angga. angga anak satu-satunya dari pengusaha sekaligus pegawai BUMN ternama, belum lagi ibunya sebagai fashion designer. cocok sekali bersanding dengan vina, anak kedua dari dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. sedangkan aku? liana. gadis biasa, yang terlahir dari keluarga yang mengalami percerian. ayahku sebagai pegawai kecamatan, menikah lagi dengan seorang pekerja restoran. ibuku, yang kini bekerja di sebuah rumah sakit menikah lagi dengan seorang pria yang tidak begitu bersahaja, aku tidak tahu di mana ia bekerja. namun sepertinya pemda. karena seragamnya sering dikenakan orang-orang yang keluar masuk gedung negara.
untuk kuliahku saat ini pun, aku mesti mengikuti program beasiswa, jika kurang maka aku akan bekerja di warnet di ujung gang sana. kostanku ini, terbilang paling sederhana di sini. karena ayah kandungku tengah mengalampi problematika keuangan yang harus diselesaikan. sedangkan ibuku pun terkadang tidak selalu ada. tapi aku bersyukur dengan semua yang ada.
maka... kini tetesan air mata beralih, dari menangisi masalah cinta menjadi keluarga. aku teringat ibu di sana. ku dengar ia mulai sakit-sakitan. aku merindukan ayah yang dengan persoalannya. ku pejamkan mata, sambil menagisi kesedihan yang ada.
lalu tak lama dari situ, aku tersentak terbangun dan melangkahkan kaki ke WC untuk mengambil air wudhu, aku bertekad melaksanakan sholat malam. dan memohon ampunan, tentang diriku. yang mengapa harus menangisi masalah cinta? yang hanya kedustaan semata. namun tak dapat aku pungkiri, bahwa lewat cinta, masa remaja menjadi berwarna. cinta dengan tetap bersujud kepada-Nya. cinta yang mengatasnamakan-Nya...
ampuni hamba ya Rabbi..
pikiranku tak habis-habisnya mengupload gambaran-gambaran tentang yang aku lihat barusan. kemesraan angga dan vina. tetesan air mata, merembes keluar tak aku izinkan. mencoba untuk tidur, karena jam di dinding telah menunjukkan pukul 23.32. namun sulit rasanya. hati yang remuk, malah semakin mengeropos. padahal aku dan angga telah lama berpisah. sekitar 3 tahunan. entah apa yang membuat aku kembali mengingatnya. padahal kemarin-kemarin aku bisa hidup dengan porsinya aku. tanpa sedikitpun kilasan-kilasan tentang dirinya.
lalu dalam malam yang semakin hening.aku mencoba untuk menguatkan diri, dengan kesadaranku sebagai manusia yang jauh setara dengan angga. angga anak satu-satunya dari pengusaha sekaligus pegawai BUMN ternama, belum lagi ibunya sebagai fashion designer. cocok sekali bersanding dengan vina, anak kedua dari dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. sedangkan aku? liana. gadis biasa, yang terlahir dari keluarga yang mengalami percerian. ayahku sebagai pegawai kecamatan, menikah lagi dengan seorang pekerja restoran. ibuku, yang kini bekerja di sebuah rumah sakit menikah lagi dengan seorang pria yang tidak begitu bersahaja, aku tidak tahu di mana ia bekerja. namun sepertinya pemda. karena seragamnya sering dikenakan orang-orang yang keluar masuk gedung negara.
untuk kuliahku saat ini pun, aku mesti mengikuti program beasiswa, jika kurang maka aku akan bekerja di warnet di ujung gang sana. kostanku ini, terbilang paling sederhana di sini. karena ayah kandungku tengah mengalampi problematika keuangan yang harus diselesaikan. sedangkan ibuku pun terkadang tidak selalu ada. tapi aku bersyukur dengan semua yang ada.
maka... kini tetesan air mata beralih, dari menangisi masalah cinta menjadi keluarga. aku teringat ibu di sana. ku dengar ia mulai sakit-sakitan. aku merindukan ayah yang dengan persoalannya. ku pejamkan mata, sambil menagisi kesedihan yang ada.
lalu tak lama dari situ, aku tersentak terbangun dan melangkahkan kaki ke WC untuk mengambil air wudhu, aku bertekad melaksanakan sholat malam. dan memohon ampunan, tentang diriku. yang mengapa harus menangisi masalah cinta? yang hanya kedustaan semata. namun tak dapat aku pungkiri, bahwa lewat cinta, masa remaja menjadi berwarna. cinta dengan tetap bersujud kepada-Nya. cinta yang mengatasnamakan-Nya...
ampuni hamba ya Rabbi..
Selasa, 22 Februari 2011
CERITA CINTA TRALALA :)
Malam demi malam aku lalui dengan lamunan. Aku sampai-sampai tidak merasakan perubahan waktu disekitarku, dari jam ke jam, dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan yang berganti bulan. Aku hanya menghabiskannya dengan kewajibanku saja, yaitu belajar. Tak lupa sholat malam pun aku kerjakan. Ujian Nasional yang menjadi alasan untuk dirinya, memutuskan hubungan denganku, kini tinggal menghitung hari. Walau nyatanya, beberapa minggu kemarin, terdengar kabar bahwa dia telah memiliki pacar baru bernama Ida. Karena perasaan yang masih menggumpal di relung hati, aku sempat tersentak dan menitikan air mata. Namun ku coba untuk tetap tegar, dan menghadapi semuanya. Sholat tahajudku, semakin rutin aku kerjakan.
Hingga saat aku harus benar-benar menghadapi Ujian Nasional, aku sedikit gemetar. Namun ku pasrahkan semua pada Allah, Tuhan semesta alam. Tiga hari berlalu, Ujian Nasional yang sempat membuyarkan ingatanku tentang dirinya berlalu sudah. Kini, di saat sekolah sudah tidak berjalan seperti biasanya, maklumlah, bagaimana suasana setelah Ujian Nasional. Kembali otakku memutar semua kenangan yang pernah aku dan dia lewati. Aku mencoba untuk bersabar, melihat dia dari hari ke hari semakin menjauh dariku. Tak mau mengenalku lagi. Entah apa yang menjadi alasannya, dia enggan untuk bersilaturahmi lagi dengan aku. Mantan pacarnya.
Dapat aku pahami sosoknya memang sedikit cuek dan pendiam. Tapi aku salut dengan kegetolannya untuk melaksanakan sholat fardu. Jikalau di sekolah pun, saat dzuhur tiba. Dia langsung mengambil air wudhu. Dan harus aku akui, dia memang baik, santun dan penyayang. Sikapnya berubah setelah dia bertemu dengan teman semasa SDnya. Aku tidak menyalahkan siapa pun atas berakhirnya hubungan diantara aku dan dia. Hanya saja, hatiku masih membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk menghapus semua. Semua yang pernah dilalui bersama.
Saat perpisahan sekolah pun, tak ada sedikit kata yang terlontar diantara kita saat berpapasan di depan aula. Tak apalah. Kembali aku memaklumi sikapnya yang cuek dan pendiam. Aku sadari, aku memang tidak secantik teman SDnya itu. Adinda. Wajahku yang berjerawat, mungkin membuat dia ilfeel untuk mengakui aku pacarnya. Keadaan keluargaku yang sederhana pun, membuat aku sedikit minder untuk bersanding dengannya.
Kini aku telah masuk di salah satu SMA favorit di kotaku. Berbeda dengan dia. Dia memilih sekolah bertaraf internasional yang jauh lebih favorit dibanding sekolahku, sekolahnya itu berada di pusat kota yang dekat dengan rumahku. Meski dekat, aku merasa kurang klik jikalau harus bersekolah di sana. Hatiku tidak member respon positif, dan instingku sangat kuat untuk menghindari sekolah itu. Entah apa yang menjadi alasannya? Banyak yang bertanya tentang alasanku. Ku jawab dengan sedikit candaan, atau terkadang aku jawab dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat ini hakku untuk sekolah di mana pun. Mengapa mereka harus menjadi hakim yang bawel menanyai seolah-olah aku tersangkanya? Huh!!!
Aku masih sedikit terngiang tentangnya. Sosok yang menjadi pacar pertamaku kala SMP. Sempat beberapa kali aku melihat sosoknya ketika berangkat sekolah. Hatiku yang masih menyisakan butiran-butiran kasih sayang untuknya, merasa bergetar dan ingin sekali menyapanya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, aku berada dalam angkutan umum, dan dia menunggangi sepeda motornya. Hanya cerita-cerita yang membanggakan yang aku dengar dari teman-teman, tentangnya, tentang kesuksesannya mengikuti program akselerasi. Dan juga kepintarannya. Tentu saja, aku pun mendengar tentang beberapa cewek yang sempat menyimpan perasaan terhadap sosoknya. Ya memang, seorang Ardi kharismanya luar biasa. Kataku dalam hati sambil cengar-cengir mengingat tubuhnya yang mungil.
Sebelum bulan Ramadhan, ada seseorang yang menyapaku lewat FB. Dia adalah Dani. Dia meminta nomor ponselku. Tapi aku tidak memberikannya. Kita hanya berkomunikasi lewat message FB. Dalam hati yang masih menyimpan nama Ardi, aku mencoba untuk mengenal lelaki lain. Aku tidak mau terbelenggu dengan masa remajaku yang pelik karena dipenjarai perasaan yang menjadi-jadi karena kehilangan Ardi. Sampai suatu hari, aku luluh. Aku memberikan nomor ponselku padanya.
Ternyata dia adalah kakak kelas di SMAku, tentu saja aku menjadi respect terhadapnya. Dan mungkin itu pula yang menjadi alasanku memberikan nomor ponsel padanya. Sholat tahajudku saat SMA ini, rada melempem. Aku sedikit malas untuk bangun malam, terlebih lagi seharian biasanya aku capek banget. Hingga malam tertidur dengan pulasnya. Palingan aku sholat tahajud kalau mau ulangan, itu pun sembari menghapal, menunggu waktu shubuh.
Aku dan Kak Dani, begitu sapaku terhadapnya. Semakin intensif berkomunikasi lewat sms, meski aku belum tahu bagaimana fisik dia. Aku pun berusaha mencari sosoknya ketika di sekolah. Temanku Rina turut membantunya. Hingga sampai akhirnya, aku bisa tahu sosok dari Kak Dani itu. Perawakannya lumayan tinggi, kulitnya sawo matang, dan dia anak kelas IPA.
Dari awal perkenalan kita, Kak Dani telah memperlihatkan gerak-geriknya, yang seperti menginginkan aku untuk menjadi pacarnya. Aku berkata demikian bukan karena aku GR, tapi memang begitu. Dia menanyaiku masalah pacar, dan juga memberi perhatian-perhatian lebih yang biasanya aku dapatkan dari sosok Ardi. Aku tidak mau langsung meresponnya. Aku ingin melihat bagaimana kesungguhannya untuk mengganti sosok Ardi dalam relung hatiku. Tak lama dari situ, dia sempat menghilang. Aku berfikiran positif, dia tak punya pulsa. Namun nyatanya, saat aku tahu. Dia tengah menjalin kasih dengan Karin. Mantan pacar Ardi. Rasanya dunia begitu sempit ya? Tawaku saat melihat fakta yang ada.
Berarti sekarang aku tidak usah menata hati untuk mencoba bersama Kak Dani. Aku tinggal melanjutkan hidupku yang seperti kemarin-kemarin. Selang tiga hari dari itu, Kak Dani kembali menghubungiku. Dengan to the point menyatakan perasaannya padaku. Apa ini tidak gila? Yang aku tahu, Kak Dani pacar Karin!
Dia bercerita, bahwa dia telah putus dengan Karin. Alasannya karena Karin belum bisa melupakan mantan pacarnya, yaitu Ardi. Aku bingung. Aku harus bagaimana? Aku juga sebenarnya masih keinget masalah Ardi. Tapi aku beritikad untuk melupakannya. Hari demi hari aku lewati dengan status diantara aku dan Kak Dani yang belum pasti. Aku merasa nyaman dekat dengannya, dan ini magic. Aku bisa melupakan Ardi tanpa mengalami kesulitan seperti kemarin. Kak Dani sempat mengantarku lest dan menjemput pulang. Padahal kita belum jadian. Dia sering menelpon dan memberi perhatian. Lama-lama hatiku luluh, dan merasa nyaman untuk melanjutkan hubungan untuk kedepannya.
Aku mencoba bertanya pada mama, orang yang paling mengerti aku. Mama memberikan nasehat-nasehatnya padaku, dan kata terakhir yang paling ku ingat adalah, “yang penting cowok itu rajin sholat dan sholeh.” Selama ini, yang aku tahu Kak Dani suka sholat. Terkadang dia yang mengingatkan aku. Jadi semakin klik deh hati aku untuk menjawab iya atas kata-kata cinta yang sering diumbar Kak Dani.
Sabtu pagi… Aku mendahului ngesms Kak Dani, dan menyatakan bahwa masihkah terbuka pintu hatinya yang kemarin sempat berkata ingin mengukir kisah diantara aku dan dia? Tarammmmmmmmmmmm…. Pendek cerita, akhirnya kita jadian deh.
Aku merasa hidupku lebih berwarna dengan kehadiran sosok Kak Dani. Berangkat dan pulang sekolah aku mesti bareng sama dia. Itu hal baru yang pernah aku rasakan. Jalan-jalan sore, makan baso bareng pacar, itu menjadi sebuah pengalaman di masa remajaku. Karena dulu saat bersama Ardi. Gaya pacaran kita cuma lewat ponsel. Maklumlah, kita sama-sama pertama kali pacaran.
Tapi yang namanya hubungan tidak selalu datar. Muncul konflik-konflik yang sempat membuat Kak Dani menyatakan putus. Tapi tak lama dari itu, kita balikan. Seneng deh rasanya. Hubungan aku pun tak aku tutup-tutupi dari keluarga. Aku malah mau mengenalkan Kak Dani pada papa dan ibu tiriku, tapi dianya selalu menolak tidak mau. Kalau untuk mama. Dia sempat bertemu, ya kalau jemput dan nganter aku pulang. Tak dapat aku pungkiri, Kak Dani memang baik. Sampai-sampai aku tidak menyadari bagaimana sikap dia di belakangku.
Sore itu… Saat aku meminjam ponselnya. Pertengkaran hebat pun terjadi. Aku merasa sakit teriris pilu. Apa yang aku lihat, berharap bukan nyata. Tapi aku harus menyadari semua, Kak Dani memang mengirim sms pada cewek lain dan kata panggilan sayang. Sekali aku maafkan. Lalu beberapa hari berikutnya kami berantem lagi, dengan masalah yang sama. Lagi-lagi aku memaafkannya. Tiga kali, empat kali.. Dan aku masih tetap ikhlas memaafkannya. Aku menyadari manusia pasti pernah membuat kekhilafan, bukan? Tanyaku untuk mengobati hati.
Di saat kami sedang akur dan tak ada masalah, sempat aku berkata untuk putus saja. Semua ini karena aku yang merasa terkhianati dengan sikapnya tempo hari. Tapi dia tolak. Dia enggan mengakhiri segalanya. Baiklah, aku jalani kembali semuanya dengan harapan dia akan benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan sedikit manja, saat pulang sekolah. Dia mengajakku untuk malam mingguan. Hah? Malam mingguan? Seumur-umur aku belum pernah toh ngerasain yang namanya malem mingguan. Dan hatiku juga gak ngasih sinyal untuk memeberi anggukan tanda persetujuan. Aku malah menggeleng sambil tersenyum. Berkata “gak mau ah kak!” dia memaksa. Dan memaksa. Namun aku tetap tidak mau. Aku tidak terbiasa dengan dunia seperti itu! Mungkin dikatain sok alim atau apalah! Tapi hati aku emang gak mau, dan gak bisa dipaksa.
Satu bulan lebih kita pacaran. Beberapa malam minggu kita lalui tanpa keluar seperti yang ia harapkan. Untuk aku semuanya biasa saja, karena toh saat dengan Ardi pun kita seperti ini. Gak pernah maming. -Xixixixixixixi-
Kak Dani mungkin merasa kesal dengan sikapku yang sulit diajak keluar malam. Sampai di suatu malam minggu, dia mengaku akan pergi ke rumah saudaranya. Tentu aku ijinkan. Aku bukan tipe cewek pengekang, apalagi untuk menjalin silaturahmi diantara dia dan keluarganya. Untuk apa aku haling-halangi?
Katanya dia terjebak hujan yang amat deras, hingga sulit untuk pulang. Tapi dia bersikeras untuk kembali ke rumahnya, melawan malam yang dingin serta derasnya hujan. Aku merasa kasihan, dia harus hujan-hujanan di saat malam begini. Aku menunggunya ngesms duluan, tanda dia sudah sampai di rumah. Satu jam dari dia pamitan untuk pulang aku biasa saja, dua jam bergulir, sedikit cemas, dan tiga jam! Aku semakin khawatir. Lalu tepat jam 10 malam. Dia ngesms dan bilang sudah sampai, meski kedinginan. Feelingku mengatakan, dia berdusta. Dia tidak pergi ke rumah saudaranya dan kehujanan di jalan. Tapi, aku berhusnudzan saja.
Keesokan harinya, feelingku menguat, bahwa sebenarnya semalam dia berdusta, dan aku membacanya lewat gerak-gerik Kak Dani yang berubah di pagi itu. Hatiku berbisik mengatakan, bahwa aku harus putus dengannya. Entah apa yang membuat hatiku dengan cepat memerintah seperti itu.
KAMI PUN PUTUS…
Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir saja di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun datang. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kembali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di FB. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka FB. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah FB kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan namanya. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa pikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
PERTEMUAN DI SEKOLAH
Aku merasa benci sekali terhadap sosok Kak Dani. Aku belum bisa memafkannya yang dengan begitu saja membuang aku dari hidupnya, dan bergelayut mesra pada cewek lain. Tapi anehnya, takdir selalu mempertemukan kita. Di mana saja. Di mushola, di koridor sekolah, di lapang basket, bahkan di WC sekali pun! Uh… Kesal!
Hari-hariku yang masih mengambang. Aku coba memperbaikinya. Kekesalan meledak, saat Kak Dani mengajakku berangkat sekolah atau pulang bareng. Ya ampun, tidakkah dia sadari, dia kini telah berstatus pacar orang. Untuk aku sih ya fine-fine aja, toh aku masih single! Tapi aku bukan cewek yang gampangan! Sorry ya!
PACAR BARU LAGI?
Aku mendengar kabar kalau Kak Dani putus dengan Imelda, cewek yang masih SMP guys! Yang ternyata waktu itu maming sama Kak Dani. Tuh kan Kak Dani boong. Dia gak ke rumah sodaranya, tapi dia malam mingguan bareng Imelda. Gerutuku bercerita pada Rina. Lalu Rina merespon dengan gelengan kepala.
“Idih Kak Danimu itu ternyata cowok yang gak jujur ya Try! Kamu dari mana Try, kalau dia boong?”
“Iya, gak nyangka aku Na. Mukanya tuh gak keliatan muka brengsek, tapi nyatanya…..! Aku tahu dari Naumi, sepupuku yang temennya Imelda juga. Duh dunia itu sempit ya? (lagi-lagi aku berkata seperti itu)” kataku sambil ngutak-ngatik ponsel. Dan sedikit mengagetkanku nih, ponselku bergetar. Sms masuk, dari Naumi ternyata, dia menagatakan kini Kak Dani berpacaran dengan Nanda. Sahabatnya Imelda. Aku buru-buru bercerita pada Rina. Dia lagi-lagi geleng-geleng kepala dan tertawa.
“Idih… Bersyukur kamu Try putus sama dia. Dia keliatannya playboy. Coba kamu amati, sikapnya yang mudah gunta-ganti pacar itu loh!”
“Iya Na. Aku gak nyangka punya mantan pacar kaya dia.”
Bel masuk pun berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Aku membuang sampah plastic bekas bungkus jajananku. Lalu ponsel kembali bergetar. Kak Dani ngesms. Dia mau apa lagi? Tanyaku dalam hati. Ku baca smsnya, dan dia lagi-lagi mengajakku pulang bareng!!! “Cowok apaan sih yang kaya gitu?” kataku pada Rina sambil membantingkan ponsel ke dalam tas. “Udahlah Try, gak usah diladenin.” Ceramah Rina menguatkan aku.
KAK DANI MINTA BALIKAN
Hari-hari berikutnya, Alhamdulillah aku bisa terlepas dari rasa kesal yang membelenggu pada Kak Dani. Pilu yang masih mengendap di dalam ruang-ruang hatiku hamper saja lenyap. Namun sosok Kak Dani kembali menyambangi hari-hariku, memberikan lagi ruang untukku berpijak di hatinya. Dia terlihat serius ingin mengulang semua yang buruk, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Sampai-sampai dia planning menemui mamaku. Dengan memohon ridho Ilahi, aku berbisik dalam hati, “jika dia akan baik untukku, maka dekatkanlah dia padaku.” Anehnya dia intensif selalu ada di waktu-waktuku. Lewat sms-smsnyalah. Mungkin ini jawaban dari Allah, atau rencananya yang lain yang tidak aku ketahui. Dan anehnya lagi, seketika saja aku bisa memerimanya kembali.
Tawa yang sudah terbayang di depan mata, khayalan-khayalan klasik tentang cerita sederhana, melalanglang buana, memadukan kembali kemistri diantara kita. Lalu dalam hati yang hampir saja kembali bahagia. Lagi-lagi, tamparan perih, amat perih. Dan sakit, amat sakit. Aku dapatkan untuk kesekian kalinya. Saat aku tahu, Kak Dani belum memutuskan hubungannya dengan Nanda. Aku pikir Kak Dani ada nyali menemui mama, karena ia benar-benar ingin kembali padaku setelah putus dengan Nanda. Tapi nyatanya… BRAKKK!!! Kembali ponsel ku banting. Dan tangis tak dapat terhenti.
Beberapa hari dari situ, aku kembali kesal pada Kak Dani. Tapi aku harus sadar diri, aku tidak ada lagi urusan dengan dia. Jadi sudahlah! Terdengar kabar yang menginformasikan putusnya Kak Dani dengan Nanda.
KAK DANI PACARAN SAMA SERUNI???? (OMG)
Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di Jumat 4 Februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada. Semaraknya acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab. Biar saja mereka. Memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Sekarang aku bertekat dalam hati. Untuk menggiatkan diri menjalankan ibadah-ibadah pada Allah. Terutama sholat malam, karena menurut buku yang pernah aku baca, sholat malam banyak hikmahnya. Dan lebih berhati-hati dengan cowok-cowok yang odong-odong (gaya mamaku. xixixixixixi). Semangat Tryana, prestasi harus tetap terukir dan pribadi harus tetap terkendali. Menuju ridho Ilahi.
Hingga saat aku harus benar-benar menghadapi Ujian Nasional, aku sedikit gemetar. Namun ku pasrahkan semua pada Allah, Tuhan semesta alam. Tiga hari berlalu, Ujian Nasional yang sempat membuyarkan ingatanku tentang dirinya berlalu sudah. Kini, di saat sekolah sudah tidak berjalan seperti biasanya, maklumlah, bagaimana suasana setelah Ujian Nasional. Kembali otakku memutar semua kenangan yang pernah aku dan dia lewati. Aku mencoba untuk bersabar, melihat dia dari hari ke hari semakin menjauh dariku. Tak mau mengenalku lagi. Entah apa yang menjadi alasannya, dia enggan untuk bersilaturahmi lagi dengan aku. Mantan pacarnya.
Dapat aku pahami sosoknya memang sedikit cuek dan pendiam. Tapi aku salut dengan kegetolannya untuk melaksanakan sholat fardu. Jikalau di sekolah pun, saat dzuhur tiba. Dia langsung mengambil air wudhu. Dan harus aku akui, dia memang baik, santun dan penyayang. Sikapnya berubah setelah dia bertemu dengan teman semasa SDnya. Aku tidak menyalahkan siapa pun atas berakhirnya hubungan diantara aku dan dia. Hanya saja, hatiku masih membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk menghapus semua. Semua yang pernah dilalui bersama.
Saat perpisahan sekolah pun, tak ada sedikit kata yang terlontar diantara kita saat berpapasan di depan aula. Tak apalah. Kembali aku memaklumi sikapnya yang cuek dan pendiam. Aku sadari, aku memang tidak secantik teman SDnya itu. Adinda. Wajahku yang berjerawat, mungkin membuat dia ilfeel untuk mengakui aku pacarnya. Keadaan keluargaku yang sederhana pun, membuat aku sedikit minder untuk bersanding dengannya.
Kini aku telah masuk di salah satu SMA favorit di kotaku. Berbeda dengan dia. Dia memilih sekolah bertaraf internasional yang jauh lebih favorit dibanding sekolahku, sekolahnya itu berada di pusat kota yang dekat dengan rumahku. Meski dekat, aku merasa kurang klik jikalau harus bersekolah di sana. Hatiku tidak member respon positif, dan instingku sangat kuat untuk menghindari sekolah itu. Entah apa yang menjadi alasannya? Banyak yang bertanya tentang alasanku. Ku jawab dengan sedikit candaan, atau terkadang aku jawab dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat ini hakku untuk sekolah di mana pun. Mengapa mereka harus menjadi hakim yang bawel menanyai seolah-olah aku tersangkanya? Huh!!!
Aku masih sedikit terngiang tentangnya. Sosok yang menjadi pacar pertamaku kala SMP. Sempat beberapa kali aku melihat sosoknya ketika berangkat sekolah. Hatiku yang masih menyisakan butiran-butiran kasih sayang untuknya, merasa bergetar dan ingin sekali menyapanya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, aku berada dalam angkutan umum, dan dia menunggangi sepeda motornya. Hanya cerita-cerita yang membanggakan yang aku dengar dari teman-teman, tentangnya, tentang kesuksesannya mengikuti program akselerasi. Dan juga kepintarannya. Tentu saja, aku pun mendengar tentang beberapa cewek yang sempat menyimpan perasaan terhadap sosoknya. Ya memang, seorang Ardi kharismanya luar biasa. Kataku dalam hati sambil cengar-cengir mengingat tubuhnya yang mungil.
Sebelum bulan Ramadhan, ada seseorang yang menyapaku lewat FB. Dia adalah Dani. Dia meminta nomor ponselku. Tapi aku tidak memberikannya. Kita hanya berkomunikasi lewat message FB. Dalam hati yang masih menyimpan nama Ardi, aku mencoba untuk mengenal lelaki lain. Aku tidak mau terbelenggu dengan masa remajaku yang pelik karena dipenjarai perasaan yang menjadi-jadi karena kehilangan Ardi. Sampai suatu hari, aku luluh. Aku memberikan nomor ponselku padanya.
Ternyata dia adalah kakak kelas di SMAku, tentu saja aku menjadi respect terhadapnya. Dan mungkin itu pula yang menjadi alasanku memberikan nomor ponsel padanya. Sholat tahajudku saat SMA ini, rada melempem. Aku sedikit malas untuk bangun malam, terlebih lagi seharian biasanya aku capek banget. Hingga malam tertidur dengan pulasnya. Palingan aku sholat tahajud kalau mau ulangan, itu pun sembari menghapal, menunggu waktu shubuh.
Aku dan Kak Dani, begitu sapaku terhadapnya. Semakin intensif berkomunikasi lewat sms, meski aku belum tahu bagaimana fisik dia. Aku pun berusaha mencari sosoknya ketika di sekolah. Temanku Rina turut membantunya. Hingga sampai akhirnya, aku bisa tahu sosok dari Kak Dani itu. Perawakannya lumayan tinggi, kulitnya sawo matang, dan dia anak kelas IPA.
Dari awal perkenalan kita, Kak Dani telah memperlihatkan gerak-geriknya, yang seperti menginginkan aku untuk menjadi pacarnya. Aku berkata demikian bukan karena aku GR, tapi memang begitu. Dia menanyaiku masalah pacar, dan juga memberi perhatian-perhatian lebih yang biasanya aku dapatkan dari sosok Ardi. Aku tidak mau langsung meresponnya. Aku ingin melihat bagaimana kesungguhannya untuk mengganti sosok Ardi dalam relung hatiku. Tak lama dari situ, dia sempat menghilang. Aku berfikiran positif, dia tak punya pulsa. Namun nyatanya, saat aku tahu. Dia tengah menjalin kasih dengan Karin. Mantan pacar Ardi. Rasanya dunia begitu sempit ya? Tawaku saat melihat fakta yang ada.
Berarti sekarang aku tidak usah menata hati untuk mencoba bersama Kak Dani. Aku tinggal melanjutkan hidupku yang seperti kemarin-kemarin. Selang tiga hari dari itu, Kak Dani kembali menghubungiku. Dengan to the point menyatakan perasaannya padaku. Apa ini tidak gila? Yang aku tahu, Kak Dani pacar Karin!
Dia bercerita, bahwa dia telah putus dengan Karin. Alasannya karena Karin belum bisa melupakan mantan pacarnya, yaitu Ardi. Aku bingung. Aku harus bagaimana? Aku juga sebenarnya masih keinget masalah Ardi. Tapi aku beritikad untuk melupakannya. Hari demi hari aku lewati dengan status diantara aku dan Kak Dani yang belum pasti. Aku merasa nyaman dekat dengannya, dan ini magic. Aku bisa melupakan Ardi tanpa mengalami kesulitan seperti kemarin. Kak Dani sempat mengantarku lest dan menjemput pulang. Padahal kita belum jadian. Dia sering menelpon dan memberi perhatian. Lama-lama hatiku luluh, dan merasa nyaman untuk melanjutkan hubungan untuk kedepannya.
Aku mencoba bertanya pada mama, orang yang paling mengerti aku. Mama memberikan nasehat-nasehatnya padaku, dan kata terakhir yang paling ku ingat adalah, “yang penting cowok itu rajin sholat dan sholeh.” Selama ini, yang aku tahu Kak Dani suka sholat. Terkadang dia yang mengingatkan aku. Jadi semakin klik deh hati aku untuk menjawab iya atas kata-kata cinta yang sering diumbar Kak Dani.
Sabtu pagi… Aku mendahului ngesms Kak Dani, dan menyatakan bahwa masihkah terbuka pintu hatinya yang kemarin sempat berkata ingin mengukir kisah diantara aku dan dia? Tarammmmmmmmmmmm…. Pendek cerita, akhirnya kita jadian deh.
Aku merasa hidupku lebih berwarna dengan kehadiran sosok Kak Dani. Berangkat dan pulang sekolah aku mesti bareng sama dia. Itu hal baru yang pernah aku rasakan. Jalan-jalan sore, makan baso bareng pacar, itu menjadi sebuah pengalaman di masa remajaku. Karena dulu saat bersama Ardi. Gaya pacaran kita cuma lewat ponsel. Maklumlah, kita sama-sama pertama kali pacaran.
Tapi yang namanya hubungan tidak selalu datar. Muncul konflik-konflik yang sempat membuat Kak Dani menyatakan putus. Tapi tak lama dari itu, kita balikan. Seneng deh rasanya. Hubungan aku pun tak aku tutup-tutupi dari keluarga. Aku malah mau mengenalkan Kak Dani pada papa dan ibu tiriku, tapi dianya selalu menolak tidak mau. Kalau untuk mama. Dia sempat bertemu, ya kalau jemput dan nganter aku pulang. Tak dapat aku pungkiri, Kak Dani memang baik. Sampai-sampai aku tidak menyadari bagaimana sikap dia di belakangku.
Sore itu… Saat aku meminjam ponselnya. Pertengkaran hebat pun terjadi. Aku merasa sakit teriris pilu. Apa yang aku lihat, berharap bukan nyata. Tapi aku harus menyadari semua, Kak Dani memang mengirim sms pada cewek lain dan kata panggilan sayang. Sekali aku maafkan. Lalu beberapa hari berikutnya kami berantem lagi, dengan masalah yang sama. Lagi-lagi aku memaafkannya. Tiga kali, empat kali.. Dan aku masih tetap ikhlas memaafkannya. Aku menyadari manusia pasti pernah membuat kekhilafan, bukan? Tanyaku untuk mengobati hati.
Di saat kami sedang akur dan tak ada masalah, sempat aku berkata untuk putus saja. Semua ini karena aku yang merasa terkhianati dengan sikapnya tempo hari. Tapi dia tolak. Dia enggan mengakhiri segalanya. Baiklah, aku jalani kembali semuanya dengan harapan dia akan benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan sedikit manja, saat pulang sekolah. Dia mengajakku untuk malam mingguan. Hah? Malam mingguan? Seumur-umur aku belum pernah toh ngerasain yang namanya malem mingguan. Dan hatiku juga gak ngasih sinyal untuk memeberi anggukan tanda persetujuan. Aku malah menggeleng sambil tersenyum. Berkata “gak mau ah kak!” dia memaksa. Dan memaksa. Namun aku tetap tidak mau. Aku tidak terbiasa dengan dunia seperti itu! Mungkin dikatain sok alim atau apalah! Tapi hati aku emang gak mau, dan gak bisa dipaksa.
Satu bulan lebih kita pacaran. Beberapa malam minggu kita lalui tanpa keluar seperti yang ia harapkan. Untuk aku semuanya biasa saja, karena toh saat dengan Ardi pun kita seperti ini. Gak pernah maming. -Xixixixixixixi-
Kak Dani mungkin merasa kesal dengan sikapku yang sulit diajak keluar malam. Sampai di suatu malam minggu, dia mengaku akan pergi ke rumah saudaranya. Tentu aku ijinkan. Aku bukan tipe cewek pengekang, apalagi untuk menjalin silaturahmi diantara dia dan keluarganya. Untuk apa aku haling-halangi?
Katanya dia terjebak hujan yang amat deras, hingga sulit untuk pulang. Tapi dia bersikeras untuk kembali ke rumahnya, melawan malam yang dingin serta derasnya hujan. Aku merasa kasihan, dia harus hujan-hujanan di saat malam begini. Aku menunggunya ngesms duluan, tanda dia sudah sampai di rumah. Satu jam dari dia pamitan untuk pulang aku biasa saja, dua jam bergulir, sedikit cemas, dan tiga jam! Aku semakin khawatir. Lalu tepat jam 10 malam. Dia ngesms dan bilang sudah sampai, meski kedinginan. Feelingku mengatakan, dia berdusta. Dia tidak pergi ke rumah saudaranya dan kehujanan di jalan. Tapi, aku berhusnudzan saja.
Keesokan harinya, feelingku menguat, bahwa sebenarnya semalam dia berdusta, dan aku membacanya lewat gerak-gerik Kak Dani yang berubah di pagi itu. Hatiku berbisik mengatakan, bahwa aku harus putus dengannya. Entah apa yang membuat hatiku dengan cepat memerintah seperti itu.
KAMI PUN PUTUS…
Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir saja di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun datang. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kembali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di FB. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka FB. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah FB kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan namanya. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa pikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
PERTEMUAN DI SEKOLAH
Aku merasa benci sekali terhadap sosok Kak Dani. Aku belum bisa memafkannya yang dengan begitu saja membuang aku dari hidupnya, dan bergelayut mesra pada cewek lain. Tapi anehnya, takdir selalu mempertemukan kita. Di mana saja. Di mushola, di koridor sekolah, di lapang basket, bahkan di WC sekali pun! Uh… Kesal!
Hari-hariku yang masih mengambang. Aku coba memperbaikinya. Kekesalan meledak, saat Kak Dani mengajakku berangkat sekolah atau pulang bareng. Ya ampun, tidakkah dia sadari, dia kini telah berstatus pacar orang. Untuk aku sih ya fine-fine aja, toh aku masih single! Tapi aku bukan cewek yang gampangan! Sorry ya!
PACAR BARU LAGI?
Aku mendengar kabar kalau Kak Dani putus dengan Imelda, cewek yang masih SMP guys! Yang ternyata waktu itu maming sama Kak Dani. Tuh kan Kak Dani boong. Dia gak ke rumah sodaranya, tapi dia malam mingguan bareng Imelda. Gerutuku bercerita pada Rina. Lalu Rina merespon dengan gelengan kepala.
“Idih Kak Danimu itu ternyata cowok yang gak jujur ya Try! Kamu dari mana Try, kalau dia boong?”
“Iya, gak nyangka aku Na. Mukanya tuh gak keliatan muka brengsek, tapi nyatanya…..! Aku tahu dari Naumi, sepupuku yang temennya Imelda juga. Duh dunia itu sempit ya? (lagi-lagi aku berkata seperti itu)” kataku sambil ngutak-ngatik ponsel. Dan sedikit mengagetkanku nih, ponselku bergetar. Sms masuk, dari Naumi ternyata, dia menagatakan kini Kak Dani berpacaran dengan Nanda. Sahabatnya Imelda. Aku buru-buru bercerita pada Rina. Dia lagi-lagi geleng-geleng kepala dan tertawa.
“Idih… Bersyukur kamu Try putus sama dia. Dia keliatannya playboy. Coba kamu amati, sikapnya yang mudah gunta-ganti pacar itu loh!”
“Iya Na. Aku gak nyangka punya mantan pacar kaya dia.”
Bel masuk pun berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Aku membuang sampah plastic bekas bungkus jajananku. Lalu ponsel kembali bergetar. Kak Dani ngesms. Dia mau apa lagi? Tanyaku dalam hati. Ku baca smsnya, dan dia lagi-lagi mengajakku pulang bareng!!! “Cowok apaan sih yang kaya gitu?” kataku pada Rina sambil membantingkan ponsel ke dalam tas. “Udahlah Try, gak usah diladenin.” Ceramah Rina menguatkan aku.
KAK DANI MINTA BALIKAN
Hari-hari berikutnya, Alhamdulillah aku bisa terlepas dari rasa kesal yang membelenggu pada Kak Dani. Pilu yang masih mengendap di dalam ruang-ruang hatiku hamper saja lenyap. Namun sosok Kak Dani kembali menyambangi hari-hariku, memberikan lagi ruang untukku berpijak di hatinya. Dia terlihat serius ingin mengulang semua yang buruk, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Sampai-sampai dia planning menemui mamaku. Dengan memohon ridho Ilahi, aku berbisik dalam hati, “jika dia akan baik untukku, maka dekatkanlah dia padaku.” Anehnya dia intensif selalu ada di waktu-waktuku. Lewat sms-smsnyalah. Mungkin ini jawaban dari Allah, atau rencananya yang lain yang tidak aku ketahui. Dan anehnya lagi, seketika saja aku bisa memerimanya kembali.
Tawa yang sudah terbayang di depan mata, khayalan-khayalan klasik tentang cerita sederhana, melalanglang buana, memadukan kembali kemistri diantara kita. Lalu dalam hati yang hampir saja kembali bahagia. Lagi-lagi, tamparan perih, amat perih. Dan sakit, amat sakit. Aku dapatkan untuk kesekian kalinya. Saat aku tahu, Kak Dani belum memutuskan hubungannya dengan Nanda. Aku pikir Kak Dani ada nyali menemui mama, karena ia benar-benar ingin kembali padaku setelah putus dengan Nanda. Tapi nyatanya… BRAKKK!!! Kembali ponsel ku banting. Dan tangis tak dapat terhenti.
Beberapa hari dari situ, aku kembali kesal pada Kak Dani. Tapi aku harus sadar diri, aku tidak ada lagi urusan dengan dia. Jadi sudahlah! Terdengar kabar yang menginformasikan putusnya Kak Dani dengan Nanda.
KAK DANI PACARAN SAMA SERUNI???? (OMG)
Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di Jumat 4 Februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada. Semaraknya acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab. Biar saja mereka. Memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Sekarang aku bertekat dalam hati. Untuk menggiatkan diri menjalankan ibadah-ibadah pada Allah. Terutama sholat malam, karena menurut buku yang pernah aku baca, sholat malam banyak hikmahnya. Dan lebih berhati-hati dengan cowok-cowok yang odong-odong (gaya mamaku. xixixixixixi). Semangat Tryana, prestasi harus tetap terukir dan pribadi harus tetap terkendali. Menuju ridho Ilahi.
Sabtu, 19 Februari 2011
Mbak Ana yang dipaksa Zaman!!!
Liana. Gadis berkerudung yang biasa disapa dengan panggilan Mbak Ana ini kini duduk di kelas X. SMA Negeri 33 Kota Lega. Aneh memang, Mbak Ana ini orangnya pintar, namun tidak memilih sekolah yang bertaraf internasional. Setiap harinya dia berlaku seperti seorang muslimah yang anggun dan menawan. Tulisan-tulisannya yang biasa dimuat di koran remaja dwimingguan menjadi bacaan favoritku. Sebenarnya aku itu satu angkatan dengan mbak ana. Hanya saja sudah enak memanggil mbak ana. Ketimbang ana.
Kerudung putih yang menutupi rambut hitamnya dengan bangga ia kenakan. Namun Mbak Ana ini orangnya tidak begitu so alim banget kalau bahasa gaulnya mah. Hahahahahahahahaha. Karena nyatanya, dia memiliki dua mantan pacar. Dani dan Andi. Denger-denger sih, mbak ana dikhianati oleh mereka. Duh masa sih orang sebaik mbak ana dikhianati dan disia-siaka?. Hummmm… tapi ini pun bukan kapasitas saya mempergunjingkannya ahhh. Yang jelas, aku begitu kagum pada mba ana.
Mbak ana itu orangnya juga senang bercanda, dia muslimah yang peduli pada kebudayaan. Karena nyatanya apa coba ekskul yang diikutinya? Lingkung Seni Budaya Remaja. Disingkat menjadi LISEBUR. Aneh memang. Mungkin darah seni dari ayahnya sulit ia hilangkan. Sampai-sampai dengan raut muka terpaksa dia harus menguikuti perlombaan gondang. Guru keseniannya meminta dengan agak memaksa. Ya perlu diketahui sih, LISEBUR itu termasuk ekskul yang sedikit peminatnya. Karena remaja sekarang kan kurang peduli terhadap seni dan budaya tradisional milik kita.
Setiap hari mbak ana meluangkan waktunya untuk latihan, suaranya yang pas-pasan dilatih sedemikian rupa untuk menyusun nada-nada indah. Mbak ana tahu, dia tengah menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun lantas bagaimana? Sebenarnya dia bisa saja menolak dan memeberontak. Huh, tapi itu tuh perasaannya yang selalu gak enakan sama orang lain. Palagai mungkin sama gurunya senidri.
Hari yang ingin segera dilewatinya pun ingin segera dating, dan berakhir dalam hidupnya. Satu hari sebelum perlombaan, saat acara pencocokan busana, mbak ana dipaksa oleh kakak kelasnya untuk melepaskan kerudungnya. Hatinya bagai disayat sembilu, dia sangat sangat tidak ingin. Menolak dengan senyum terpaksa, itulah responnya. Hatinya ingin menangis, bercerita pada seseorang yang bisa membelanya. Tapi pada siapa? Dan untungnya, Bu Sinta mengizinkan mbak ana untuk memakai kerudung. Kebetulan Friska teman sekelas mbak ana pun enggan melespas kerudungnya kalau tidak begitu terpaksa. Beda sekali dengan mbak ana yang sangat sangat sangat sekali enggan membuka kerudungnya.
Akhirnya hari itu pun tiba, mbak ana berangkat ke sekolah di saat mentari belum tiba. Setibanya di sana telah ada dua orang guru dan empat orang kakak kakak kelasnya. Friska ternyata dating tak lama darinya. Lalu setelah menunggu giliran, wajahnya yang sawo matang, dipolesi make up begitu tebal. Tarammmmmm… wajahnya pangling bukan kepalang. Kerudung hitam yang telah mbak ana bawadari rumah hendak ia bawa, namun ibu sinta berkata, “yang pake kerudung juga tetap harus disanggul!”
Hati berdegup sangat kencang, mbak ana telah menggantungkan hidup dan takdirnya pada Ilahi, mbak ana ssudah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ya memang harus professional. Tapi tidakkah ibu sinta memerhatikan perasaan mbak ana?
Akhirnya sanggul pun dipasangkan. Dan kain berwarna senada dengan kebaya dilingkarkan pada kepala, menutupi rambut aslinya. Sehingga yang dipertontonkan adalah, sanggul dan kain tadi. Serta sedikit rambutnya yang keluar-keluar. Mbak ana ingin kabur. Namun tak bisa. Mbak ana ingin berlari, tapi kemana? Matanya telah berkaca-kaca. Menangis pun tak mungkin. Mbak ana takut dimarahi gurunya. Dan terngiang kata-kata ibunya, ndo boleh ikut lomba itu, asalkan kerudung tetap dikenakan!
Deng deng deng deng. Suara saron dan boning bersahutan. Menutup acara kesenian yang mbak ana dan kawan-kawannya tampilkan. Dengan segera mba ana berlari, berganti pakaian. Dan menangis hingga tak karuan. Y Allah, ampunilah hambaMu ini. Kalimat itu yang bisa aku dengar, dalam samar-samar kepiluan seorang mbak ana. Oh sungguh kasihan. Di jaman seperti ini memang sulit dan setba kagok menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kita seimbang, orang lain belum tentu tidak. Bertindak menghasut kita. Dan…..
Brukkkk… mbak ana pingsan!
Kerudung putih yang menutupi rambut hitamnya dengan bangga ia kenakan. Namun Mbak Ana ini orangnya tidak begitu so alim banget kalau bahasa gaulnya mah. Hahahahahahahahaha. Karena nyatanya, dia memiliki dua mantan pacar. Dani dan Andi. Denger-denger sih, mbak ana dikhianati oleh mereka. Duh masa sih orang sebaik mbak ana dikhianati dan disia-siaka?. Hummmm… tapi ini pun bukan kapasitas saya mempergunjingkannya ahhh. Yang jelas, aku begitu kagum pada mba ana.
Mbak ana itu orangnya juga senang bercanda, dia muslimah yang peduli pada kebudayaan. Karena nyatanya apa coba ekskul yang diikutinya? Lingkung Seni Budaya Remaja. Disingkat menjadi LISEBUR. Aneh memang. Mungkin darah seni dari ayahnya sulit ia hilangkan. Sampai-sampai dengan raut muka terpaksa dia harus menguikuti perlombaan gondang. Guru keseniannya meminta dengan agak memaksa. Ya perlu diketahui sih, LISEBUR itu termasuk ekskul yang sedikit peminatnya. Karena remaja sekarang kan kurang peduli terhadap seni dan budaya tradisional milik kita.
Setiap hari mbak ana meluangkan waktunya untuk latihan, suaranya yang pas-pasan dilatih sedemikian rupa untuk menyusun nada-nada indah. Mbak ana tahu, dia tengah menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun lantas bagaimana? Sebenarnya dia bisa saja menolak dan memeberontak. Huh, tapi itu tuh perasaannya yang selalu gak enakan sama orang lain. Palagai mungkin sama gurunya senidri.
Hari yang ingin segera dilewatinya pun ingin segera dating, dan berakhir dalam hidupnya. Satu hari sebelum perlombaan, saat acara pencocokan busana, mbak ana dipaksa oleh kakak kelasnya untuk melepaskan kerudungnya. Hatinya bagai disayat sembilu, dia sangat sangat tidak ingin. Menolak dengan senyum terpaksa, itulah responnya. Hatinya ingin menangis, bercerita pada seseorang yang bisa membelanya. Tapi pada siapa? Dan untungnya, Bu Sinta mengizinkan mbak ana untuk memakai kerudung. Kebetulan Friska teman sekelas mbak ana pun enggan melespas kerudungnya kalau tidak begitu terpaksa. Beda sekali dengan mbak ana yang sangat sangat sangat sekali enggan membuka kerudungnya.
Akhirnya hari itu pun tiba, mbak ana berangkat ke sekolah di saat mentari belum tiba. Setibanya di sana telah ada dua orang guru dan empat orang kakak kakak kelasnya. Friska ternyata dating tak lama darinya. Lalu setelah menunggu giliran, wajahnya yang sawo matang, dipolesi make up begitu tebal. Tarammmmmm… wajahnya pangling bukan kepalang. Kerudung hitam yang telah mbak ana bawadari rumah hendak ia bawa, namun ibu sinta berkata, “yang pake kerudung juga tetap harus disanggul!”
Hati berdegup sangat kencang, mbak ana telah menggantungkan hidup dan takdirnya pada Ilahi, mbak ana ssudah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ya memang harus professional. Tapi tidakkah ibu sinta memerhatikan perasaan mbak ana?
Akhirnya sanggul pun dipasangkan. Dan kain berwarna senada dengan kebaya dilingkarkan pada kepala, menutupi rambut aslinya. Sehingga yang dipertontonkan adalah, sanggul dan kain tadi. Serta sedikit rambutnya yang keluar-keluar. Mbak ana ingin kabur. Namun tak bisa. Mbak ana ingin berlari, tapi kemana? Matanya telah berkaca-kaca. Menangis pun tak mungkin. Mbak ana takut dimarahi gurunya. Dan terngiang kata-kata ibunya, ndo boleh ikut lomba itu, asalkan kerudung tetap dikenakan!
Deng deng deng deng. Suara saron dan boning bersahutan. Menutup acara kesenian yang mbak ana dan kawan-kawannya tampilkan. Dengan segera mba ana berlari, berganti pakaian. Dan menangis hingga tak karuan. Y Allah, ampunilah hambaMu ini. Kalimat itu yang bisa aku dengar, dalam samar-samar kepiluan seorang mbak ana. Oh sungguh kasihan. Di jaman seperti ini memang sulit dan setba kagok menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kita seimbang, orang lain belum tentu tidak. Bertindak menghasut kita. Dan…..
Brukkkk… mbak ana pingsan!
pasti mereka bilang aku cengeng! hehehehe
Tangis yang ku bendung akhirnya harus keluar juga. Menetes dalam lara, membasahi pipi yang segera ku usap dengan jemari-jemari kananku. Menatap kosong lapangan yang berdebu, sembari menenagkan hati yang berkecamuk dikecam kesedihan. Dalam sebongkah ruang di hati, ada nama yang tersusun istimewa, penuh cinta, aku memanggilnya PAPAH.
Mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata dan kembali ku usap. Tak ada tisu di sini, yang biasanya menemani tangis-tangisku. Lalu, ada sosok yang mendekat dan bertanya. Apa sebab air mataku? Aku tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu. Sahabatku kemudian dengan sigap menjawab. Dari situlah aku berani bercerita, itu pun dengan mata yang trus menerus basah. Air mata sulit untuk ditahan.
Sosok itu adalah guruku. Dia berkata doakan saja yang terbaik untuk papahku. Dengan sekuat tenaga, aku seka air mata. Tersenyum… dan berkata terima kasih ibu. Ibu Euis, guru Fisika :) .
20.52
Saat teringat papah, teteh, dan mamah.
Hahahahahahaha
Aku cengeng!!!
Mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata dan kembali ku usap. Tak ada tisu di sini, yang biasanya menemani tangis-tangisku. Lalu, ada sosok yang mendekat dan bertanya. Apa sebab air mataku? Aku tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu. Sahabatku kemudian dengan sigap menjawab. Dari situlah aku berani bercerita, itu pun dengan mata yang trus menerus basah. Air mata sulit untuk ditahan.
Sosok itu adalah guruku. Dia berkata doakan saja yang terbaik untuk papahku. Dengan sekuat tenaga, aku seka air mata. Tersenyum… dan berkata terima kasih ibu. Ibu Euis, guru Fisika :) .
20.52
Saat teringat papah, teteh, dan mamah.
Hahahahahahaha
Aku cengeng!!!
kalian tidak akan mengerti
Bismillahirrahmannirrahiim..
Aku yang sedang gundah, mencoba memperbaiki suasana hati dengan memuji kalam Ilahi. Mungkin saja beberapa menit ke depan akan lebih baikan. Hari-hari kemarin sempat menjadi pedang tajam bagi diriku sendiri. Mengapa demikian? Aku harus mengikuti salah satu kesenian tradisional khas daerahku. Tak dapat aku pungkiri. Aku memang ingin menjadi remaja yang peduli akan kebudayaan di sekelilingku. Di sisi lain, aku pun ingin menjadi seorang remaja muslimah yang baik di mata Allah. Mungkin bagi remaja pada umumnya ini hal yang peres. Aku bisa dicap so alim atau bagaimana-lah!
Pentas kesenianku tadi di gedung itu, dengan penonton yang antusias. Mensesakkan bangunan yang cukup luas itu. Mengharuskan aku, seorang Tryana Permanasari memakai kebaya dengan samping di bawah lutut beberapa sentimeter. Lalu dengan rambut yang disanggul, kain oranye dan rambut palsu yang menghalangi rambut asliku, perhiasan seorang muslimah yang harus dijaga dari pandangan lawang jenisnya. Make up yang menempel di mukaku, cukup tebal. Membuat pangling siapa aku sebenarnya.
Dalam pemikiranku sebelumnya, aku akan memakai kerudung hitam, dan dihias kain oranye, sesuai dengan kebayanya. Hal itulah yang membuat aku mau untuk mengikuti perlombaan seni ini. Namun lantas, ya seperti ini. Dalam tuntutanku yang harus professional dan tidak boleh mengecewakan pihak-pihak yang mendukung. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang selalu memahami kondisi umat-umatNya. Aku jalani semuanya. Tampil di atas panggung, mudah-mudah Allah mengampuni segalanya. Meridhoi setiap langkahku. Mungkin presepsi orang akan menjadi negative terhadapku, tapi biarlah. Mereka tidak tahu bagaimana posisi aku. Bagaimana hati aku. Bagaimana hidup aku. Namun yang jelas, Allah sangat baik terhadapku. DIA turut juga memberikan kemenangan untuk kelompok kesenian kami. Meski aku……………………………………………………………………......
Allahu Rabby, Allahu Akbar…
Aku menyesal, namun terima kasih Tuhan…
19022011 (17.28)
Aku yang sedang gundah, mencoba memperbaiki suasana hati dengan memuji kalam Ilahi. Mungkin saja beberapa menit ke depan akan lebih baikan. Hari-hari kemarin sempat menjadi pedang tajam bagi diriku sendiri. Mengapa demikian? Aku harus mengikuti salah satu kesenian tradisional khas daerahku. Tak dapat aku pungkiri. Aku memang ingin menjadi remaja yang peduli akan kebudayaan di sekelilingku. Di sisi lain, aku pun ingin menjadi seorang remaja muslimah yang baik di mata Allah. Mungkin bagi remaja pada umumnya ini hal yang peres. Aku bisa dicap so alim atau bagaimana-lah!
Pentas kesenianku tadi di gedung itu, dengan penonton yang antusias. Mensesakkan bangunan yang cukup luas itu. Mengharuskan aku, seorang Tryana Permanasari memakai kebaya dengan samping di bawah lutut beberapa sentimeter. Lalu dengan rambut yang disanggul, kain oranye dan rambut palsu yang menghalangi rambut asliku, perhiasan seorang muslimah yang harus dijaga dari pandangan lawang jenisnya. Make up yang menempel di mukaku, cukup tebal. Membuat pangling siapa aku sebenarnya.
Dalam pemikiranku sebelumnya, aku akan memakai kerudung hitam, dan dihias kain oranye, sesuai dengan kebayanya. Hal itulah yang membuat aku mau untuk mengikuti perlombaan seni ini. Namun lantas, ya seperti ini. Dalam tuntutanku yang harus professional dan tidak boleh mengecewakan pihak-pihak yang mendukung. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang selalu memahami kondisi umat-umatNya. Aku jalani semuanya. Tampil di atas panggung, mudah-mudah Allah mengampuni segalanya. Meridhoi setiap langkahku. Mungkin presepsi orang akan menjadi negative terhadapku, tapi biarlah. Mereka tidak tahu bagaimana posisi aku. Bagaimana hati aku. Bagaimana hidup aku. Namun yang jelas, Allah sangat baik terhadapku. DIA turut juga memberikan kemenangan untuk kelompok kesenian kami. Meski aku……………………………………………………………………......
Allahu Rabby, Allahu Akbar…
Aku menyesal, namun terima kasih Tuhan…
19022011 (17.28)
Minggu, 06 Februari 2011
di persimpangan itu
Langkah demi langkah, menelusuri gang yang sudah jarang aku lalui. Sejenak… Terbersit dalam ingatanku tentang kenangan dulu, saat kemari dengan mereka, pacar ku yang dulu. Tersenyum simpul dan meraba apa yang berubah di sini? Lalu ingatanku beralih dan tergambarlah sosok papah di sana. Dialah yang aku rindukan.
Rumah yang ku tuju kini ada di depan mata, rumah yang pernah aku tinggali beberapa tahun ke belakang, walaupun tak lama. Dari kejauhan aku telah mengucapkan salam. Terdengar yang menjawabnya dari dalam. Mereka adalah ibu dan kedua kakakku. Aku menyalaminya satu per satu. Kami melepas rindu dengan bercerita ke sana ke mari. Bahkan ibu nyeletuk bertanya tentang siapa pacarku. Dengan spontan aku menjawab TIDAK PUNYA sembari cengar-cengir. Papah, ya papah. Di mana sosok yang ku cari dan aku rindukan? Ibu lalu memaparkan bahwa dia sedang di kantor dan belum pulang.
Dengan mata berkaca-kaca, ibu memberanikan diri bercerita, tentang apa yang sebenarnya tengah di hadapi papah, yang tentu saja berimbas pada kehidupan dirinya dan ketiga ankanya. Aku terheran-heran, meski dulu sempat mendengar masalah ini. Aku dengar tak sedetail dan tak sekronis ini. Bingung. Apa yang mesti aku katakana, hanya mata yang berkaca-kaca aku jadikan responan. Semoga ibu dapat mengerti.
Tak lama dari itu, papah pulang. Aku melihat badannya yang menjadi kurus kering. Terlihat wajahnya yang semakin menua selain dimakan usia, mungkin ya karena masalah yang tengah dihadapinya. Sungguh hati ini bergetar pilu dibuatnya, tapi apa yang bisa ku lakukan. Hanya terdiam dan menyapanya dengan penuh rasa kasih sayang.
Sebenarnya masih ingin aku untuk didekatmu pah. Slalu ada di harimu. Namun, takdir tak berkata seperti itu. Aku harus pulang. Papah mengantarkanku. Dalam perjalanan, ingin sekali memperlambat waktu agar aku bisa lebih lama bersama papah. Itu hanya keinginan konyol saja, karena nyatanya hanya beberapa menit saja, motor yang papah kemudikan berhenti di persimpangan jalan. Aku turun meski enggan. Dengan lirih, papah berkata, “ade, papah belum punya uang.” Aku menjawab, “sudah tak apalah pah.” Diakhiri dengan ucapan salam yang terlontar dari bibirku. Motor papah berbelok arah. Melaju pergi meninggalkan aku di sini. Lalu aku melangkah dengan gontai, menuju rumah. Dalam hati yang sedih, dalam mata yang berkaca-kaca. Aku ingin berteriak dan mengatakan aku sayang papah. Aku tak peduli bagaimana papah, yang jelas dia papahku yang hebat. Semoga masalahmu cepet selesai pah. Dan semoga Allah memberimu petunjuk, untuk tetap selalu ada dijalanMu. Amien…
Rumah yang ku tuju kini ada di depan mata, rumah yang pernah aku tinggali beberapa tahun ke belakang, walaupun tak lama. Dari kejauhan aku telah mengucapkan salam. Terdengar yang menjawabnya dari dalam. Mereka adalah ibu dan kedua kakakku. Aku menyalaminya satu per satu. Kami melepas rindu dengan bercerita ke sana ke mari. Bahkan ibu nyeletuk bertanya tentang siapa pacarku. Dengan spontan aku menjawab TIDAK PUNYA sembari cengar-cengir. Papah, ya papah. Di mana sosok yang ku cari dan aku rindukan? Ibu lalu memaparkan bahwa dia sedang di kantor dan belum pulang.
Dengan mata berkaca-kaca, ibu memberanikan diri bercerita, tentang apa yang sebenarnya tengah di hadapi papah, yang tentu saja berimbas pada kehidupan dirinya dan ketiga ankanya. Aku terheran-heran, meski dulu sempat mendengar masalah ini. Aku dengar tak sedetail dan tak sekronis ini. Bingung. Apa yang mesti aku katakana, hanya mata yang berkaca-kaca aku jadikan responan. Semoga ibu dapat mengerti.
Tak lama dari itu, papah pulang. Aku melihat badannya yang menjadi kurus kering. Terlihat wajahnya yang semakin menua selain dimakan usia, mungkin ya karena masalah yang tengah dihadapinya. Sungguh hati ini bergetar pilu dibuatnya, tapi apa yang bisa ku lakukan. Hanya terdiam dan menyapanya dengan penuh rasa kasih sayang.
Sebenarnya masih ingin aku untuk didekatmu pah. Slalu ada di harimu. Namun, takdir tak berkata seperti itu. Aku harus pulang. Papah mengantarkanku. Dalam perjalanan, ingin sekali memperlambat waktu agar aku bisa lebih lama bersama papah. Itu hanya keinginan konyol saja, karena nyatanya hanya beberapa menit saja, motor yang papah kemudikan berhenti di persimpangan jalan. Aku turun meski enggan. Dengan lirih, papah berkata, “ade, papah belum punya uang.” Aku menjawab, “sudah tak apalah pah.” Diakhiri dengan ucapan salam yang terlontar dari bibirku. Motor papah berbelok arah. Melaju pergi meninggalkan aku di sini. Lalu aku melangkah dengan gontai, menuju rumah. Dalam hati yang sedih, dalam mata yang berkaca-kaca. Aku ingin berteriak dan mengatakan aku sayang papah. Aku tak peduli bagaimana papah, yang jelas dia papahku yang hebat. Semoga masalahmu cepet selesai pah. Dan semoga Allah memberimu petunjuk, untuk tetap selalu ada dijalanMu. Amien…
Jumat, 04 Februari 2011
dalam maafku
Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di jumat 4 februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada.
Riuh rendah acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab.
Biar saja mereka. Tapi bagaimana dengan luka, lukaku yang membekas di dada. Karenamu… yang mungkin tidak merasa.
memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada.
Riuh rendah acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab.
Biar saja mereka. Tapi bagaimana dengan luka, lukaku yang membekas di dada. Karenamu… yang mungkin tidak merasa.
memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Dalam Tangis yang Belum Saja Kering
Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun dating. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kemabali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat Ashar aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di fb. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka fb. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah fb kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa fikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
Tryana Permanasari 040211 16.43
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun dating. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kemabali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat Ashar aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di fb. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka fb. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah fb kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa fikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
Tryana Permanasari 040211 16.43
Rabu, 12 Januari 2011
TIARA bag 2
***
sesampainya di pondok lisda, ruangan yg tidak terlalu luas, dengan ranjang tingkat 2, satu lemari pakaian, dan satu meja belajar. tampak 1 orang perempuan sebaya yg tengah asyik membaca novel di atas ranjang. berkerudung hijau dan bergamis hijau toska. dia tersenyum saat melihat kedatangan kami yg mungkin mengagetkannya.
lisda langsung berkata ^assalamualaikum aina, ini tiara yg sering aku ceritakan dan tiara ini aina teman satu pondokku^
aina bangkit sambil menjawab salam lisda dan mengajak tiara bersalaman. ^assalamualaikum tiara, lisda banyak bercerita tentang kamu^
aku mengawali menjawab dengan senyuman ^waalaikumsalam aina, senang bertemu denganmu di sini, semoga kita bisa menjadi teman yg baik^
^amin^ aina menjawab.
***
setelah mandi dan shalat ashar, aina yg memang gemar memakan bakso, mengajak kami untuk ke depan pondok para kaum ikhwan.
untuk tiara ya mau saja, orang perutnya sudah keroncongan, dan lisda pun menyetujui ajakan aina.
saat melangkahkan kaki keluar dari gerbang pondok asrama ikhwan, gerobak bakso yg mereka tuju semakin dekat.
tiara yg berjalan menunduk, kemudian menoleh ke arah yg ditunjuk aina, dan................. dari kaca gerobak baso yg transparan terlihat sosok yg menggetarkan hati tiara. saat mereka mendekat dan semakin mendekat, hati tiara berdegup kencang, sangat kencang.
dan, inikah cinta ? dalam hati tiara berkata :)
sesampainya di pondok lisda, ruangan yg tidak terlalu luas, dengan ranjang tingkat 2, satu lemari pakaian, dan satu meja belajar. tampak 1 orang perempuan sebaya yg tengah asyik membaca novel di atas ranjang. berkerudung hijau dan bergamis hijau toska. dia tersenyum saat melihat kedatangan kami yg mungkin mengagetkannya.
lisda langsung berkata ^assalamualaikum aina, ini tiara yg sering aku ceritakan dan tiara ini aina teman satu pondokku^
aina bangkit sambil menjawab salam lisda dan mengajak tiara bersalaman. ^assalamualaikum tiara, lisda banyak bercerita tentang kamu^
aku mengawali menjawab dengan senyuman ^waalaikumsalam aina, senang bertemu denganmu di sini, semoga kita bisa menjadi teman yg baik^
^amin^ aina menjawab.
***
setelah mandi dan shalat ashar, aina yg memang gemar memakan bakso, mengajak kami untuk ke depan pondok para kaum ikhwan.
untuk tiara ya mau saja, orang perutnya sudah keroncongan, dan lisda pun menyetujui ajakan aina.
saat melangkahkan kaki keluar dari gerbang pondok asrama ikhwan, gerobak bakso yg mereka tuju semakin dekat.
tiara yg berjalan menunduk, kemudian menoleh ke arah yg ditunjuk aina, dan................. dari kaca gerobak baso yg transparan terlihat sosok yg menggetarkan hati tiara. saat mereka mendekat dan semakin mendekat, hati tiara berdegup kencang, sangat kencang.
dan, inikah cinta ? dalam hati tiara berkata :)
Minggu, 09 Januari 2011
* Melampiaskan kekesalan :'(
COWO BRENGSEK!
SIALAN!
apa salah aku sampe" kamu trus"an nyakitin aku ?!!!!!
mungkin hati aku juga yg slah. karena sampe saat ini masih menyisakan perasaan buat kamu!
aku sulit buat ngebuangnya!
aku ga ilfil" trus dengan sikap kamu ini!
aku juga ga ngerti!!!!!
SIALAN!
apa salah aku sampe" kamu trus"an nyakitin aku ?!!!!!
mungkin hati aku juga yg slah. karena sampe saat ini masih menyisakan perasaan buat kamu!
aku sulit buat ngebuangnya!
aku ga ilfil" trus dengan sikap kamu ini!
aku juga ga ngerti!!!!!
dunia sekarang
seorang tryana memang tidak dilahirkan secantik mereka. yang memiliki postur bak seorang pragawati, rambut indah terurai, mata yg memikat, hidung yang mancung, muka yg dipahat dengan rapinya. seorang tryana terlahir dengan sederhana. postur? cukup. rambut? alhamdulillah dikerudung :) mata? alhamdulillah ada. Allah berikan 2 :) hidung? alhamdulillah Allah beri :)
seorang tryana juga bukan seperti mereka, yg hidup dengan keluarga yg bergelimangan harta. seorang tryana, dididik untuk selalu cukup dengan apa yg telah dimiliiki.
seorang tryana juga tidak dididik untuk berpenampilan mengikuti mode. mamah selalu berpesan. pake kerudung. pake kerudung :)ga boleh pilih-pilih baju, yg ada y dipake.
tapi mungkin dunia sekarang berbeda dengan seorang tryana. dimana keindahan rupa menjadi kriteria utama bagi seorang individu dilihat di mata dunia.
dunia sekarang juga hanya melihat dari segi materi saja, dan fashion.
y Allah yg Maha segalanya. aku tetap bersyukur menjadi seorang tryana. yg seperti ini, tapi tolong kuatkan aku, jangan pernah ada tangis untuk aku menghadapi dunia yg seperti sekarang ini. aku hanya ingin menjadi hambaMu yg pandai bersyukur dan bisa merasakan kebahagian di dunia dan di akhirat.
seorang tryana juga bukan seperti mereka, yg hidup dengan keluarga yg bergelimangan harta. seorang tryana, dididik untuk selalu cukup dengan apa yg telah dimiliiki.
seorang tryana juga tidak dididik untuk berpenampilan mengikuti mode. mamah selalu berpesan. pake kerudung. pake kerudung :)ga boleh pilih-pilih baju, yg ada y dipake.
tapi mungkin dunia sekarang berbeda dengan seorang tryana. dimana keindahan rupa menjadi kriteria utama bagi seorang individu dilihat di mata dunia.
dunia sekarang juga hanya melihat dari segi materi saja, dan fashion.
y Allah yg Maha segalanya. aku tetap bersyukur menjadi seorang tryana. yg seperti ini, tapi tolong kuatkan aku, jangan pernah ada tangis untuk aku menghadapi dunia yg seperti sekarang ini. aku hanya ingin menjadi hambaMu yg pandai bersyukur dan bisa merasakan kebahagian di dunia dan di akhirat.
Jumat, 07 Januari 2011
TIARA bag 1 (penggantian nama)
sesampainya di sebuah desa, yang jauh dari hiruk pikuk kota :)
angin lembut menyapa kehadiran sosok TIARA. kerudung yang kini melekat di kepalanya, membuat parasnya menjadi lebih anggun (hahahahahahahahahaha. lanjut)
langkah demi langkah kakinya, tidak gontai. tekad dalam hati untuk masuk pesantren ternama di kota itu mengalahkan kesedihannya. dalam hati, bersama dengan tekad. tiara berjanji, saat pulang kelak. dia tidak akan mengecewakan mamih yang ditinggalkannya.
kisah" cinta yg dia sembunyikan dari mamihnya akan menjadi teman dan kenangan pilu bagi seorang tiara. dan penghianatan dari pacar"nya yg dulu pun akan menjadi penyemangat, bahwa tiara mampu, sanggup, dan akan bangkit. tiara bukan cewe lemah. itu kata" yg sering dia lontarkan kala sesak di dada, dan tangis menerpa.
Saat menengadahkan kepala ke langit lepas, tampak awan-awan yang menggumpal lembut, seolah mencerminkan ketulusan hati tiara saat itu.
Langkah demi langkah. dan samapailah ia di sebuah gapura yang di atasnya bertuliskan pondok pesantren AL-HIKMAT. aura religius sudah mulai tampak. santriwati" tampak lengkap dengan pakaiannya yang sopan, santriwan" juga tampak gagah dengan baju koko dan peci.
sepintas dalam otaknya, tiara membayangkan adit, pacarnya yang dulu ketauan selingkuh, memakai setelan seperti santriwan" yg kini tampak semakin dekat dan dekat dengan dirinya.
dannn bayangan tiara membuyar.
^assalamualaikum?^
hanya menyapa dan berlalu. tak sempat tiara membalas salamnya. suara yang lembut terdengar memanggil namanya.
suara dari lisda, teman semasa sd dulu. yang memberi tahunya mengenai ponpers ini waktu ia di Perth.
^ternyata sampai juga kamu ke sini ra^ kata lisda penuh senyum sumringah.
tiara hanya membalas dengan senyuman. ia masih kikuk dengan semuanya yang serba baru.
^naik apa kamu ke sini?^ tanya lisda ingin mencoba mengakrabkan diri lagi dengan teman semasa kecilnya itu.
^tadi naik bus, terus angdes, dan terakhir barusan jalan kaki. hehehehehehe^ jawab tiara sembari tersenyum.
^kamu pasti cape. ayo ke pondokku dulu. nanti sore kita baru temui pa ustad untuk ngobrol" tentang kamu yg berniat mondok di sini juga :)^ ajak lisda sambil menarik lengan tiara.
------------------------bersambung----------------------------
angin lembut menyapa kehadiran sosok TIARA. kerudung yang kini melekat di kepalanya, membuat parasnya menjadi lebih anggun (hahahahahahahahahaha. lanjut)
langkah demi langkah kakinya, tidak gontai. tekad dalam hati untuk masuk pesantren ternama di kota itu mengalahkan kesedihannya. dalam hati, bersama dengan tekad. tiara berjanji, saat pulang kelak. dia tidak akan mengecewakan mamih yang ditinggalkannya.
kisah" cinta yg dia sembunyikan dari mamihnya akan menjadi teman dan kenangan pilu bagi seorang tiara. dan penghianatan dari pacar"nya yg dulu pun akan menjadi penyemangat, bahwa tiara mampu, sanggup, dan akan bangkit. tiara bukan cewe lemah. itu kata" yg sering dia lontarkan kala sesak di dada, dan tangis menerpa.
Saat menengadahkan kepala ke langit lepas, tampak awan-awan yang menggumpal lembut, seolah mencerminkan ketulusan hati tiara saat itu.
Langkah demi langkah. dan samapailah ia di sebuah gapura yang di atasnya bertuliskan pondok pesantren AL-HIKMAT. aura religius sudah mulai tampak. santriwati" tampak lengkap dengan pakaiannya yang sopan, santriwan" juga tampak gagah dengan baju koko dan peci.
sepintas dalam otaknya, tiara membayangkan adit, pacarnya yang dulu ketauan selingkuh, memakai setelan seperti santriwan" yg kini tampak semakin dekat dan dekat dengan dirinya.
dannn bayangan tiara membuyar.
^assalamualaikum?^
hanya menyapa dan berlalu. tak sempat tiara membalas salamnya. suara yang lembut terdengar memanggil namanya.
suara dari lisda, teman semasa sd dulu. yang memberi tahunya mengenai ponpers ini waktu ia di Perth.
^ternyata sampai juga kamu ke sini ra^ kata lisda penuh senyum sumringah.
tiara hanya membalas dengan senyuman. ia masih kikuk dengan semuanya yang serba baru.
^naik apa kamu ke sini?^ tanya lisda ingin mencoba mengakrabkan diri lagi dengan teman semasa kecilnya itu.
^tadi naik bus, terus angdes, dan terakhir barusan jalan kaki. hehehehehehe^ jawab tiara sembari tersenyum.
^kamu pasti cape. ayo ke pondokku dulu. nanti sore kita baru temui pa ustad untuk ngobrol" tentang kamu yg berniat mondok di sini juga :)^ ajak lisda sambil menarik lengan tiara.
------------------------bersambung----------------------------
Senin, 03 Januari 2011
26012010*02102010 (gak nyambung!!!)
sesuatu yang sebenernya paling aku takuti!!!
JATUH CINTA.
hahahahahahahahaha
aku bukan seperti mereka yang kebanyakan bisa cepet gunta ganti pasangan.
seperti pengalaman kemaren, setelah putus tanggal 26 Januari 2010, aku baru punya pacar lagi 02 Oktober 2010.
di samping itu, aku orangnya paling susah buat lupain bayang-bayang masa lalu.
gak tau kenapa?
padahal semuanya itu menyakitkan!!!
aku juga bingung dengan semua ini.
setelah putus kemaren sama pacar yg ke2, tanggal berapa lupa???
hahahahahahaha
aku mengagumi seseorang, dia emang beda dari cowo lain.
saking bedanya, ya dia cool sama aku. cuek juga.
humttt... hanya sekedar mengagumi ^^
itu cukup.
JATUH CINTA.
hahahahahahahahaha
aku bukan seperti mereka yang kebanyakan bisa cepet gunta ganti pasangan.
seperti pengalaman kemaren, setelah putus tanggal 26 Januari 2010, aku baru punya pacar lagi 02 Oktober 2010.
di samping itu, aku orangnya paling susah buat lupain bayang-bayang masa lalu.
gak tau kenapa?
padahal semuanya itu menyakitkan!!!
aku juga bingung dengan semua ini.
setelah putus kemaren sama pacar yg ke2, tanggal berapa lupa???
hahahahahahaha
aku mengagumi seseorang, dia emang beda dari cowo lain.
saking bedanya, ya dia cool sama aku. cuek juga.
humttt... hanya sekedar mengagumi ^^
itu cukup.
antara 2010-2011
setiap waktu, aku ingin dunia mengerti... aku tidak suka jika begini...
setiap aku ingin merasakan kebahagian mengapa sulit rasanya?
1 Januari 2011
jam 11
infusan kembali menusuk di tangan kiri!
mungkin Tuhan berkata lain untuk aku...
waktu memang terus bergulir, kadang aku begini kadang begitu.
namun kala hati sedang mengagumi, ternyata memang tidak untuk memiliki.
2010 aku mengagumimu.
2011 aku masih mengagumimu, tapi aku sadar, kau tak mungkin untukku :)
setiap aku ingin merasakan kebahagian mengapa sulit rasanya?
1 Januari 2011
jam 11
infusan kembali menusuk di tangan kiri!
mungkin Tuhan berkata lain untuk aku...
waktu memang terus bergulir, kadang aku begini kadang begitu.
namun kala hati sedang mengagumi, ternyata memang tidak untuk memiliki.
2010 aku mengagumimu.
2011 aku masih mengagumimu, tapi aku sadar, kau tak mungkin untukku :)
Langganan:
Postingan (Atom)


