Malam demi malam aku lalui dengan lamunan. Aku sampai-sampai tidak merasakan perubahan waktu disekitarku, dari jam ke jam, dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan yang berganti bulan. Aku hanya menghabiskannya dengan kewajibanku saja, yaitu belajar. Tak lupa sholat malam pun aku kerjakan. Ujian Nasional yang menjadi alasan untuk dirinya, memutuskan hubungan denganku, kini tinggal menghitung hari. Walau nyatanya, beberapa minggu kemarin, terdengar kabar bahwa dia telah memiliki pacar baru bernama Ida. Karena perasaan yang masih menggumpal di relung hati, aku sempat tersentak dan menitikan air mata. Namun ku coba untuk tetap tegar, dan menghadapi semuanya. Sholat tahajudku, semakin rutin aku kerjakan.
Hingga saat aku harus benar-benar menghadapi Ujian Nasional, aku sedikit gemetar. Namun ku pasrahkan semua pada Allah, Tuhan semesta alam. Tiga hari berlalu, Ujian Nasional yang sempat membuyarkan ingatanku tentang dirinya berlalu sudah. Kini, di saat sekolah sudah tidak berjalan seperti biasanya, maklumlah, bagaimana suasana setelah Ujian Nasional. Kembali otakku memutar semua kenangan yang pernah aku dan dia lewati. Aku mencoba untuk bersabar, melihat dia dari hari ke hari semakin menjauh dariku. Tak mau mengenalku lagi. Entah apa yang menjadi alasannya, dia enggan untuk bersilaturahmi lagi dengan aku. Mantan pacarnya.
Dapat aku pahami sosoknya memang sedikit cuek dan pendiam. Tapi aku salut dengan kegetolannya untuk melaksanakan sholat fardu. Jikalau di sekolah pun, saat dzuhur tiba. Dia langsung mengambil air wudhu. Dan harus aku akui, dia memang baik, santun dan penyayang. Sikapnya berubah setelah dia bertemu dengan teman semasa SDnya. Aku tidak menyalahkan siapa pun atas berakhirnya hubungan diantara aku dan dia. Hanya saja, hatiku masih membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk menghapus semua. Semua yang pernah dilalui bersama.
Saat perpisahan sekolah pun, tak ada sedikit kata yang terlontar diantara kita saat berpapasan di depan aula. Tak apalah. Kembali aku memaklumi sikapnya yang cuek dan pendiam. Aku sadari, aku memang tidak secantik teman SDnya itu. Adinda. Wajahku yang berjerawat, mungkin membuat dia ilfeel untuk mengakui aku pacarnya. Keadaan keluargaku yang sederhana pun, membuat aku sedikit minder untuk bersanding dengannya.
Kini aku telah masuk di salah satu SMA favorit di kotaku. Berbeda dengan dia. Dia memilih sekolah bertaraf internasional yang jauh lebih favorit dibanding sekolahku, sekolahnya itu berada di pusat kota yang dekat dengan rumahku. Meski dekat, aku merasa kurang klik jikalau harus bersekolah di sana. Hatiku tidak member respon positif, dan instingku sangat kuat untuk menghindari sekolah itu. Entah apa yang menjadi alasannya? Banyak yang bertanya tentang alasanku. Ku jawab dengan sedikit candaan, atau terkadang aku jawab dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat ini hakku untuk sekolah di mana pun. Mengapa mereka harus menjadi hakim yang bawel menanyai seolah-olah aku tersangkanya? Huh!!!
Aku masih sedikit terngiang tentangnya. Sosok yang menjadi pacar pertamaku kala SMP. Sempat beberapa kali aku melihat sosoknya ketika berangkat sekolah. Hatiku yang masih menyisakan butiran-butiran kasih sayang untuknya, merasa bergetar dan ingin sekali menyapanya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, aku berada dalam angkutan umum, dan dia menunggangi sepeda motornya. Hanya cerita-cerita yang membanggakan yang aku dengar dari teman-teman, tentangnya, tentang kesuksesannya mengikuti program akselerasi. Dan juga kepintarannya. Tentu saja, aku pun mendengar tentang beberapa cewek yang sempat menyimpan perasaan terhadap sosoknya. Ya memang, seorang Ardi kharismanya luar biasa. Kataku dalam hati sambil cengar-cengir mengingat tubuhnya yang mungil.
Sebelum bulan Ramadhan, ada seseorang yang menyapaku lewat FB. Dia adalah Dani. Dia meminta nomor ponselku. Tapi aku tidak memberikannya. Kita hanya berkomunikasi lewat message FB. Dalam hati yang masih menyimpan nama Ardi, aku mencoba untuk mengenal lelaki lain. Aku tidak mau terbelenggu dengan masa remajaku yang pelik karena dipenjarai perasaan yang menjadi-jadi karena kehilangan Ardi. Sampai suatu hari, aku luluh. Aku memberikan nomor ponselku padanya.
Ternyata dia adalah kakak kelas di SMAku, tentu saja aku menjadi respect terhadapnya. Dan mungkin itu pula yang menjadi alasanku memberikan nomor ponsel padanya. Sholat tahajudku saat SMA ini, rada melempem. Aku sedikit malas untuk bangun malam, terlebih lagi seharian biasanya aku capek banget. Hingga malam tertidur dengan pulasnya. Palingan aku sholat tahajud kalau mau ulangan, itu pun sembari menghapal, menunggu waktu shubuh.
Aku dan Kak Dani, begitu sapaku terhadapnya. Semakin intensif berkomunikasi lewat sms, meski aku belum tahu bagaimana fisik dia. Aku pun berusaha mencari sosoknya ketika di sekolah. Temanku Rina turut membantunya. Hingga sampai akhirnya, aku bisa tahu sosok dari Kak Dani itu. Perawakannya lumayan tinggi, kulitnya sawo matang, dan dia anak kelas IPA.
Dari awal perkenalan kita, Kak Dani telah memperlihatkan gerak-geriknya, yang seperti menginginkan aku untuk menjadi pacarnya. Aku berkata demikian bukan karena aku GR, tapi memang begitu. Dia menanyaiku masalah pacar, dan juga memberi perhatian-perhatian lebih yang biasanya aku dapatkan dari sosok Ardi. Aku tidak mau langsung meresponnya. Aku ingin melihat bagaimana kesungguhannya untuk mengganti sosok Ardi dalam relung hatiku. Tak lama dari situ, dia sempat menghilang. Aku berfikiran positif, dia tak punya pulsa. Namun nyatanya, saat aku tahu. Dia tengah menjalin kasih dengan Karin. Mantan pacar Ardi. Rasanya dunia begitu sempit ya? Tawaku saat melihat fakta yang ada.
Berarti sekarang aku tidak usah menata hati untuk mencoba bersama Kak Dani. Aku tinggal melanjutkan hidupku yang seperti kemarin-kemarin. Selang tiga hari dari itu, Kak Dani kembali menghubungiku. Dengan to the point menyatakan perasaannya padaku. Apa ini tidak gila? Yang aku tahu, Kak Dani pacar Karin!
Dia bercerita, bahwa dia telah putus dengan Karin. Alasannya karena Karin belum bisa melupakan mantan pacarnya, yaitu Ardi. Aku bingung. Aku harus bagaimana? Aku juga sebenarnya masih keinget masalah Ardi. Tapi aku beritikad untuk melupakannya. Hari demi hari aku lewati dengan status diantara aku dan Kak Dani yang belum pasti. Aku merasa nyaman dekat dengannya, dan ini magic. Aku bisa melupakan Ardi tanpa mengalami kesulitan seperti kemarin. Kak Dani sempat mengantarku lest dan menjemput pulang. Padahal kita belum jadian. Dia sering menelpon dan memberi perhatian. Lama-lama hatiku luluh, dan merasa nyaman untuk melanjutkan hubungan untuk kedepannya.
Aku mencoba bertanya pada mama, orang yang paling mengerti aku. Mama memberikan nasehat-nasehatnya padaku, dan kata terakhir yang paling ku ingat adalah, “yang penting cowok itu rajin sholat dan sholeh.” Selama ini, yang aku tahu Kak Dani suka sholat. Terkadang dia yang mengingatkan aku. Jadi semakin klik deh hati aku untuk menjawab iya atas kata-kata cinta yang sering diumbar Kak Dani.
Sabtu pagi… Aku mendahului ngesms Kak Dani, dan menyatakan bahwa masihkah terbuka pintu hatinya yang kemarin sempat berkata ingin mengukir kisah diantara aku dan dia? Tarammmmmmmmmmmm…. Pendek cerita, akhirnya kita jadian deh.
Aku merasa hidupku lebih berwarna dengan kehadiran sosok Kak Dani. Berangkat dan pulang sekolah aku mesti bareng sama dia. Itu hal baru yang pernah aku rasakan. Jalan-jalan sore, makan baso bareng pacar, itu menjadi sebuah pengalaman di masa remajaku. Karena dulu saat bersama Ardi. Gaya pacaran kita cuma lewat ponsel. Maklumlah, kita sama-sama pertama kali pacaran.
Tapi yang namanya hubungan tidak selalu datar. Muncul konflik-konflik yang sempat membuat Kak Dani menyatakan putus. Tapi tak lama dari itu, kita balikan. Seneng deh rasanya. Hubungan aku pun tak aku tutup-tutupi dari keluarga. Aku malah mau mengenalkan Kak Dani pada papa dan ibu tiriku, tapi dianya selalu menolak tidak mau. Kalau untuk mama. Dia sempat bertemu, ya kalau jemput dan nganter aku pulang. Tak dapat aku pungkiri, Kak Dani memang baik. Sampai-sampai aku tidak menyadari bagaimana sikap dia di belakangku.
Sore itu… Saat aku meminjam ponselnya. Pertengkaran hebat pun terjadi. Aku merasa sakit teriris pilu. Apa yang aku lihat, berharap bukan nyata. Tapi aku harus menyadari semua, Kak Dani memang mengirim sms pada cewek lain dan kata panggilan sayang. Sekali aku maafkan. Lalu beberapa hari berikutnya kami berantem lagi, dengan masalah yang sama. Lagi-lagi aku memaafkannya. Tiga kali, empat kali.. Dan aku masih tetap ikhlas memaafkannya. Aku menyadari manusia pasti pernah membuat kekhilafan, bukan? Tanyaku untuk mengobati hati.
Di saat kami sedang akur dan tak ada masalah, sempat aku berkata untuk putus saja. Semua ini karena aku yang merasa terkhianati dengan sikapnya tempo hari. Tapi dia tolak. Dia enggan mengakhiri segalanya. Baiklah, aku jalani kembali semuanya dengan harapan dia akan benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan sedikit manja, saat pulang sekolah. Dia mengajakku untuk malam mingguan. Hah? Malam mingguan? Seumur-umur aku belum pernah toh ngerasain yang namanya malem mingguan. Dan hatiku juga gak ngasih sinyal untuk memeberi anggukan tanda persetujuan. Aku malah menggeleng sambil tersenyum. Berkata “gak mau ah kak!” dia memaksa. Dan memaksa. Namun aku tetap tidak mau. Aku tidak terbiasa dengan dunia seperti itu! Mungkin dikatain sok alim atau apalah! Tapi hati aku emang gak mau, dan gak bisa dipaksa.
Satu bulan lebih kita pacaran. Beberapa malam minggu kita lalui tanpa keluar seperti yang ia harapkan. Untuk aku semuanya biasa saja, karena toh saat dengan Ardi pun kita seperti ini. Gak pernah maming. -Xixixixixixixi-
Kak Dani mungkin merasa kesal dengan sikapku yang sulit diajak keluar malam. Sampai di suatu malam minggu, dia mengaku akan pergi ke rumah saudaranya. Tentu aku ijinkan. Aku bukan tipe cewek pengekang, apalagi untuk menjalin silaturahmi diantara dia dan keluarganya. Untuk apa aku haling-halangi?
Katanya dia terjebak hujan yang amat deras, hingga sulit untuk pulang. Tapi dia bersikeras untuk kembali ke rumahnya, melawan malam yang dingin serta derasnya hujan. Aku merasa kasihan, dia harus hujan-hujanan di saat malam begini. Aku menunggunya ngesms duluan, tanda dia sudah sampai di rumah. Satu jam dari dia pamitan untuk pulang aku biasa saja, dua jam bergulir, sedikit cemas, dan tiga jam! Aku semakin khawatir. Lalu tepat jam 10 malam. Dia ngesms dan bilang sudah sampai, meski kedinginan. Feelingku mengatakan, dia berdusta. Dia tidak pergi ke rumah saudaranya dan kehujanan di jalan. Tapi, aku berhusnudzan saja.
Keesokan harinya, feelingku menguat, bahwa sebenarnya semalam dia berdusta, dan aku membacanya lewat gerak-gerik Kak Dani yang berubah di pagi itu. Hatiku berbisik mengatakan, bahwa aku harus putus dengannya. Entah apa yang membuat hatiku dengan cepat memerintah seperti itu.
KAMI PUN PUTUS…
Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir saja di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun datang. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kembali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di FB. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka FB. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah FB kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan namanya. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa pikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
PERTEMUAN DI SEKOLAH
Aku merasa benci sekali terhadap sosok Kak Dani. Aku belum bisa memafkannya yang dengan begitu saja membuang aku dari hidupnya, dan bergelayut mesra pada cewek lain. Tapi anehnya, takdir selalu mempertemukan kita. Di mana saja. Di mushola, di koridor sekolah, di lapang basket, bahkan di WC sekali pun! Uh… Kesal!
Hari-hariku yang masih mengambang. Aku coba memperbaikinya. Kekesalan meledak, saat Kak Dani mengajakku berangkat sekolah atau pulang bareng. Ya ampun, tidakkah dia sadari, dia kini telah berstatus pacar orang. Untuk aku sih ya fine-fine aja, toh aku masih single! Tapi aku bukan cewek yang gampangan! Sorry ya!
PACAR BARU LAGI?
Aku mendengar kabar kalau Kak Dani putus dengan Imelda, cewek yang masih SMP guys! Yang ternyata waktu itu maming sama Kak Dani. Tuh kan Kak Dani boong. Dia gak ke rumah sodaranya, tapi dia malam mingguan bareng Imelda. Gerutuku bercerita pada Rina. Lalu Rina merespon dengan gelengan kepala.
“Idih Kak Danimu itu ternyata cowok yang gak jujur ya Try! Kamu dari mana Try, kalau dia boong?”
“Iya, gak nyangka aku Na. Mukanya tuh gak keliatan muka brengsek, tapi nyatanya…..! Aku tahu dari Naumi, sepupuku yang temennya Imelda juga. Duh dunia itu sempit ya? (lagi-lagi aku berkata seperti itu)” kataku sambil ngutak-ngatik ponsel. Dan sedikit mengagetkanku nih, ponselku bergetar. Sms masuk, dari Naumi ternyata, dia menagatakan kini Kak Dani berpacaran dengan Nanda. Sahabatnya Imelda. Aku buru-buru bercerita pada Rina. Dia lagi-lagi geleng-geleng kepala dan tertawa.
“Idih… Bersyukur kamu Try putus sama dia. Dia keliatannya playboy. Coba kamu amati, sikapnya yang mudah gunta-ganti pacar itu loh!”
“Iya Na. Aku gak nyangka punya mantan pacar kaya dia.”
Bel masuk pun berbunyi. Tanda istirahat berakhir. Aku membuang sampah plastic bekas bungkus jajananku. Lalu ponsel kembali bergetar. Kak Dani ngesms. Dia mau apa lagi? Tanyaku dalam hati. Ku baca smsnya, dan dia lagi-lagi mengajakku pulang bareng!!! “Cowok apaan sih yang kaya gitu?” kataku pada Rina sambil membantingkan ponsel ke dalam tas. “Udahlah Try, gak usah diladenin.” Ceramah Rina menguatkan aku.
KAK DANI MINTA BALIKAN
Hari-hari berikutnya, Alhamdulillah aku bisa terlepas dari rasa kesal yang membelenggu pada Kak Dani. Pilu yang masih mengendap di dalam ruang-ruang hatiku hamper saja lenyap. Namun sosok Kak Dani kembali menyambangi hari-hariku, memberikan lagi ruang untukku berpijak di hatinya. Dia terlihat serius ingin mengulang semua yang buruk, dan menggantinya dengan yang lebih baik. Sampai-sampai dia planning menemui mamaku. Dengan memohon ridho Ilahi, aku berbisik dalam hati, “jika dia akan baik untukku, maka dekatkanlah dia padaku.” Anehnya dia intensif selalu ada di waktu-waktuku. Lewat sms-smsnyalah. Mungkin ini jawaban dari Allah, atau rencananya yang lain yang tidak aku ketahui. Dan anehnya lagi, seketika saja aku bisa memerimanya kembali.
Tawa yang sudah terbayang di depan mata, khayalan-khayalan klasik tentang cerita sederhana, melalanglang buana, memadukan kembali kemistri diantara kita. Lalu dalam hati yang hampir saja kembali bahagia. Lagi-lagi, tamparan perih, amat perih. Dan sakit, amat sakit. Aku dapatkan untuk kesekian kalinya. Saat aku tahu, Kak Dani belum memutuskan hubungannya dengan Nanda. Aku pikir Kak Dani ada nyali menemui mama, karena ia benar-benar ingin kembali padaku setelah putus dengan Nanda. Tapi nyatanya… BRAKKK!!! Kembali ponsel ku banting. Dan tangis tak dapat terhenti.
Beberapa hari dari situ, aku kembali kesal pada Kak Dani. Tapi aku harus sadar diri, aku tidak ada lagi urusan dengan dia. Jadi sudahlah! Terdengar kabar yang menginformasikan putusnya Kak Dani dengan Nanda.
KAK DANI PACARAN SAMA SERUNI???? (OMG)
Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di Jumat 4 Februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada. Semaraknya acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab. Biar saja mereka. Memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Sekarang aku bertekat dalam hati. Untuk menggiatkan diri menjalankan ibadah-ibadah pada Allah. Terutama sholat malam, karena menurut buku yang pernah aku baca, sholat malam banyak hikmahnya. Dan lebih berhati-hati dengan cowok-cowok yang odong-odong (gaya mamaku. xixixixixixi). Semangat Tryana, prestasi harus tetap terukir dan pribadi harus tetap terkendali. Menuju ridho Ilahi.
Jika dalam tulisan-tulisanku banyak kekurangan dan kesalahan, atau menyinggung secara tidak langsung kepada beberapa pihak... aku ucapkan mohon maaf... ^tidak bermaksud, dan tidak ada unsur kesengajaan^ aku masih belajar untuk menulis... dan terkadang aku ga PEDE dengan tulisan-tulisanku :D untuk yang berminat memberi kritik dan saran, silahkan postkan komentar :)
Selasa, 22 Februari 2011
Sabtu, 19 Februari 2011
Mbak Ana yang dipaksa Zaman!!!
Liana. Gadis berkerudung yang biasa disapa dengan panggilan Mbak Ana ini kini duduk di kelas X. SMA Negeri 33 Kota Lega. Aneh memang, Mbak Ana ini orangnya pintar, namun tidak memilih sekolah yang bertaraf internasional. Setiap harinya dia berlaku seperti seorang muslimah yang anggun dan menawan. Tulisan-tulisannya yang biasa dimuat di koran remaja dwimingguan menjadi bacaan favoritku. Sebenarnya aku itu satu angkatan dengan mbak ana. Hanya saja sudah enak memanggil mbak ana. Ketimbang ana.
Kerudung putih yang menutupi rambut hitamnya dengan bangga ia kenakan. Namun Mbak Ana ini orangnya tidak begitu so alim banget kalau bahasa gaulnya mah. Hahahahahahahahaha. Karena nyatanya, dia memiliki dua mantan pacar. Dani dan Andi. Denger-denger sih, mbak ana dikhianati oleh mereka. Duh masa sih orang sebaik mbak ana dikhianati dan disia-siaka?. Hummmm… tapi ini pun bukan kapasitas saya mempergunjingkannya ahhh. Yang jelas, aku begitu kagum pada mba ana.
Mbak ana itu orangnya juga senang bercanda, dia muslimah yang peduli pada kebudayaan. Karena nyatanya apa coba ekskul yang diikutinya? Lingkung Seni Budaya Remaja. Disingkat menjadi LISEBUR. Aneh memang. Mungkin darah seni dari ayahnya sulit ia hilangkan. Sampai-sampai dengan raut muka terpaksa dia harus menguikuti perlombaan gondang. Guru keseniannya meminta dengan agak memaksa. Ya perlu diketahui sih, LISEBUR itu termasuk ekskul yang sedikit peminatnya. Karena remaja sekarang kan kurang peduli terhadap seni dan budaya tradisional milik kita.
Setiap hari mbak ana meluangkan waktunya untuk latihan, suaranya yang pas-pasan dilatih sedemikian rupa untuk menyusun nada-nada indah. Mbak ana tahu, dia tengah menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun lantas bagaimana? Sebenarnya dia bisa saja menolak dan memeberontak. Huh, tapi itu tuh perasaannya yang selalu gak enakan sama orang lain. Palagai mungkin sama gurunya senidri.
Hari yang ingin segera dilewatinya pun ingin segera dating, dan berakhir dalam hidupnya. Satu hari sebelum perlombaan, saat acara pencocokan busana, mbak ana dipaksa oleh kakak kelasnya untuk melepaskan kerudungnya. Hatinya bagai disayat sembilu, dia sangat sangat tidak ingin. Menolak dengan senyum terpaksa, itulah responnya. Hatinya ingin menangis, bercerita pada seseorang yang bisa membelanya. Tapi pada siapa? Dan untungnya, Bu Sinta mengizinkan mbak ana untuk memakai kerudung. Kebetulan Friska teman sekelas mbak ana pun enggan melespas kerudungnya kalau tidak begitu terpaksa. Beda sekali dengan mbak ana yang sangat sangat sangat sekali enggan membuka kerudungnya.
Akhirnya hari itu pun tiba, mbak ana berangkat ke sekolah di saat mentari belum tiba. Setibanya di sana telah ada dua orang guru dan empat orang kakak kakak kelasnya. Friska ternyata dating tak lama darinya. Lalu setelah menunggu giliran, wajahnya yang sawo matang, dipolesi make up begitu tebal. Tarammmmmm… wajahnya pangling bukan kepalang. Kerudung hitam yang telah mbak ana bawadari rumah hendak ia bawa, namun ibu sinta berkata, “yang pake kerudung juga tetap harus disanggul!”
Hati berdegup sangat kencang, mbak ana telah menggantungkan hidup dan takdirnya pada Ilahi, mbak ana ssudah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ya memang harus professional. Tapi tidakkah ibu sinta memerhatikan perasaan mbak ana?
Akhirnya sanggul pun dipasangkan. Dan kain berwarna senada dengan kebaya dilingkarkan pada kepala, menutupi rambut aslinya. Sehingga yang dipertontonkan adalah, sanggul dan kain tadi. Serta sedikit rambutnya yang keluar-keluar. Mbak ana ingin kabur. Namun tak bisa. Mbak ana ingin berlari, tapi kemana? Matanya telah berkaca-kaca. Menangis pun tak mungkin. Mbak ana takut dimarahi gurunya. Dan terngiang kata-kata ibunya, ndo boleh ikut lomba itu, asalkan kerudung tetap dikenakan!
Deng deng deng deng. Suara saron dan boning bersahutan. Menutup acara kesenian yang mbak ana dan kawan-kawannya tampilkan. Dengan segera mba ana berlari, berganti pakaian. Dan menangis hingga tak karuan. Y Allah, ampunilah hambaMu ini. Kalimat itu yang bisa aku dengar, dalam samar-samar kepiluan seorang mbak ana. Oh sungguh kasihan. Di jaman seperti ini memang sulit dan setba kagok menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kita seimbang, orang lain belum tentu tidak. Bertindak menghasut kita. Dan…..
Brukkkk… mbak ana pingsan!
Kerudung putih yang menutupi rambut hitamnya dengan bangga ia kenakan. Namun Mbak Ana ini orangnya tidak begitu so alim banget kalau bahasa gaulnya mah. Hahahahahahahahaha. Karena nyatanya, dia memiliki dua mantan pacar. Dani dan Andi. Denger-denger sih, mbak ana dikhianati oleh mereka. Duh masa sih orang sebaik mbak ana dikhianati dan disia-siaka?. Hummmm… tapi ini pun bukan kapasitas saya mempergunjingkannya ahhh. Yang jelas, aku begitu kagum pada mba ana.
Mbak ana itu orangnya juga senang bercanda, dia muslimah yang peduli pada kebudayaan. Karena nyatanya apa coba ekskul yang diikutinya? Lingkung Seni Budaya Remaja. Disingkat menjadi LISEBUR. Aneh memang. Mungkin darah seni dari ayahnya sulit ia hilangkan. Sampai-sampai dengan raut muka terpaksa dia harus menguikuti perlombaan gondang. Guru keseniannya meminta dengan agak memaksa. Ya perlu diketahui sih, LISEBUR itu termasuk ekskul yang sedikit peminatnya. Karena remaja sekarang kan kurang peduli terhadap seni dan budaya tradisional milik kita.
Setiap hari mbak ana meluangkan waktunya untuk latihan, suaranya yang pas-pasan dilatih sedemikian rupa untuk menyusun nada-nada indah. Mbak ana tahu, dia tengah menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun lantas bagaimana? Sebenarnya dia bisa saja menolak dan memeberontak. Huh, tapi itu tuh perasaannya yang selalu gak enakan sama orang lain. Palagai mungkin sama gurunya senidri.
Hari yang ingin segera dilewatinya pun ingin segera dating, dan berakhir dalam hidupnya. Satu hari sebelum perlombaan, saat acara pencocokan busana, mbak ana dipaksa oleh kakak kelasnya untuk melepaskan kerudungnya. Hatinya bagai disayat sembilu, dia sangat sangat tidak ingin. Menolak dengan senyum terpaksa, itulah responnya. Hatinya ingin menangis, bercerita pada seseorang yang bisa membelanya. Tapi pada siapa? Dan untungnya, Bu Sinta mengizinkan mbak ana untuk memakai kerudung. Kebetulan Friska teman sekelas mbak ana pun enggan melespas kerudungnya kalau tidak begitu terpaksa. Beda sekali dengan mbak ana yang sangat sangat sangat sekali enggan membuka kerudungnya.
Akhirnya hari itu pun tiba, mbak ana berangkat ke sekolah di saat mentari belum tiba. Setibanya di sana telah ada dua orang guru dan empat orang kakak kakak kelasnya. Friska ternyata dating tak lama darinya. Lalu setelah menunggu giliran, wajahnya yang sawo matang, dipolesi make up begitu tebal. Tarammmmmm… wajahnya pangling bukan kepalang. Kerudung hitam yang telah mbak ana bawadari rumah hendak ia bawa, namun ibu sinta berkata, “yang pake kerudung juga tetap harus disanggul!”
Hati berdegup sangat kencang, mbak ana telah menggantungkan hidup dan takdirnya pada Ilahi, mbak ana ssudah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ya memang harus professional. Tapi tidakkah ibu sinta memerhatikan perasaan mbak ana?
Akhirnya sanggul pun dipasangkan. Dan kain berwarna senada dengan kebaya dilingkarkan pada kepala, menutupi rambut aslinya. Sehingga yang dipertontonkan adalah, sanggul dan kain tadi. Serta sedikit rambutnya yang keluar-keluar. Mbak ana ingin kabur. Namun tak bisa. Mbak ana ingin berlari, tapi kemana? Matanya telah berkaca-kaca. Menangis pun tak mungkin. Mbak ana takut dimarahi gurunya. Dan terngiang kata-kata ibunya, ndo boleh ikut lomba itu, asalkan kerudung tetap dikenakan!
Deng deng deng deng. Suara saron dan boning bersahutan. Menutup acara kesenian yang mbak ana dan kawan-kawannya tampilkan. Dengan segera mba ana berlari, berganti pakaian. Dan menangis hingga tak karuan. Y Allah, ampunilah hambaMu ini. Kalimat itu yang bisa aku dengar, dalam samar-samar kepiluan seorang mbak ana. Oh sungguh kasihan. Di jaman seperti ini memang sulit dan setba kagok menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kita seimbang, orang lain belum tentu tidak. Bertindak menghasut kita. Dan…..
Brukkkk… mbak ana pingsan!
pasti mereka bilang aku cengeng! hehehehe
Tangis yang ku bendung akhirnya harus keluar juga. Menetes dalam lara, membasahi pipi yang segera ku usap dengan jemari-jemari kananku. Menatap kosong lapangan yang berdebu, sembari menenagkan hati yang berkecamuk dikecam kesedihan. Dalam sebongkah ruang di hati, ada nama yang tersusun istimewa, penuh cinta, aku memanggilnya PAPAH.
Mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata dan kembali ku usap. Tak ada tisu di sini, yang biasanya menemani tangis-tangisku. Lalu, ada sosok yang mendekat dan bertanya. Apa sebab air mataku? Aku tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu. Sahabatku kemudian dengan sigap menjawab. Dari situlah aku berani bercerita, itu pun dengan mata yang trus menerus basah. Air mata sulit untuk ditahan.
Sosok itu adalah guruku. Dia berkata doakan saja yang terbaik untuk papahku. Dengan sekuat tenaga, aku seka air mata. Tersenyum… dan berkata terima kasih ibu. Ibu Euis, guru Fisika :) .
20.52
Saat teringat papah, teteh, dan mamah.
Hahahahahahaha
Aku cengeng!!!
Mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata dan kembali ku usap. Tak ada tisu di sini, yang biasanya menemani tangis-tangisku. Lalu, ada sosok yang mendekat dan bertanya. Apa sebab air mataku? Aku tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu. Sahabatku kemudian dengan sigap menjawab. Dari situlah aku berani bercerita, itu pun dengan mata yang trus menerus basah. Air mata sulit untuk ditahan.
Sosok itu adalah guruku. Dia berkata doakan saja yang terbaik untuk papahku. Dengan sekuat tenaga, aku seka air mata. Tersenyum… dan berkata terima kasih ibu. Ibu Euis, guru Fisika :) .
20.52
Saat teringat papah, teteh, dan mamah.
Hahahahahahaha
Aku cengeng!!!
kalian tidak akan mengerti
Bismillahirrahmannirrahiim..
Aku yang sedang gundah, mencoba memperbaiki suasana hati dengan memuji kalam Ilahi. Mungkin saja beberapa menit ke depan akan lebih baikan. Hari-hari kemarin sempat menjadi pedang tajam bagi diriku sendiri. Mengapa demikian? Aku harus mengikuti salah satu kesenian tradisional khas daerahku. Tak dapat aku pungkiri. Aku memang ingin menjadi remaja yang peduli akan kebudayaan di sekelilingku. Di sisi lain, aku pun ingin menjadi seorang remaja muslimah yang baik di mata Allah. Mungkin bagi remaja pada umumnya ini hal yang peres. Aku bisa dicap so alim atau bagaimana-lah!
Pentas kesenianku tadi di gedung itu, dengan penonton yang antusias. Mensesakkan bangunan yang cukup luas itu. Mengharuskan aku, seorang Tryana Permanasari memakai kebaya dengan samping di bawah lutut beberapa sentimeter. Lalu dengan rambut yang disanggul, kain oranye dan rambut palsu yang menghalangi rambut asliku, perhiasan seorang muslimah yang harus dijaga dari pandangan lawang jenisnya. Make up yang menempel di mukaku, cukup tebal. Membuat pangling siapa aku sebenarnya.
Dalam pemikiranku sebelumnya, aku akan memakai kerudung hitam, dan dihias kain oranye, sesuai dengan kebayanya. Hal itulah yang membuat aku mau untuk mengikuti perlombaan seni ini. Namun lantas, ya seperti ini. Dalam tuntutanku yang harus professional dan tidak boleh mengecewakan pihak-pihak yang mendukung. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang selalu memahami kondisi umat-umatNya. Aku jalani semuanya. Tampil di atas panggung, mudah-mudah Allah mengampuni segalanya. Meridhoi setiap langkahku. Mungkin presepsi orang akan menjadi negative terhadapku, tapi biarlah. Mereka tidak tahu bagaimana posisi aku. Bagaimana hati aku. Bagaimana hidup aku. Namun yang jelas, Allah sangat baik terhadapku. DIA turut juga memberikan kemenangan untuk kelompok kesenian kami. Meski aku……………………………………………………………………......
Allahu Rabby, Allahu Akbar…
Aku menyesal, namun terima kasih Tuhan…
19022011 (17.28)
Aku yang sedang gundah, mencoba memperbaiki suasana hati dengan memuji kalam Ilahi. Mungkin saja beberapa menit ke depan akan lebih baikan. Hari-hari kemarin sempat menjadi pedang tajam bagi diriku sendiri. Mengapa demikian? Aku harus mengikuti salah satu kesenian tradisional khas daerahku. Tak dapat aku pungkiri. Aku memang ingin menjadi remaja yang peduli akan kebudayaan di sekelilingku. Di sisi lain, aku pun ingin menjadi seorang remaja muslimah yang baik di mata Allah. Mungkin bagi remaja pada umumnya ini hal yang peres. Aku bisa dicap so alim atau bagaimana-lah!
Pentas kesenianku tadi di gedung itu, dengan penonton yang antusias. Mensesakkan bangunan yang cukup luas itu. Mengharuskan aku, seorang Tryana Permanasari memakai kebaya dengan samping di bawah lutut beberapa sentimeter. Lalu dengan rambut yang disanggul, kain oranye dan rambut palsu yang menghalangi rambut asliku, perhiasan seorang muslimah yang harus dijaga dari pandangan lawang jenisnya. Make up yang menempel di mukaku, cukup tebal. Membuat pangling siapa aku sebenarnya.
Dalam pemikiranku sebelumnya, aku akan memakai kerudung hitam, dan dihias kain oranye, sesuai dengan kebayanya. Hal itulah yang membuat aku mau untuk mengikuti perlombaan seni ini. Namun lantas, ya seperti ini. Dalam tuntutanku yang harus professional dan tidak boleh mengecewakan pihak-pihak yang mendukung. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang selalu memahami kondisi umat-umatNya. Aku jalani semuanya. Tampil di atas panggung, mudah-mudah Allah mengampuni segalanya. Meridhoi setiap langkahku. Mungkin presepsi orang akan menjadi negative terhadapku, tapi biarlah. Mereka tidak tahu bagaimana posisi aku. Bagaimana hati aku. Bagaimana hidup aku. Namun yang jelas, Allah sangat baik terhadapku. DIA turut juga memberikan kemenangan untuk kelompok kesenian kami. Meski aku……………………………………………………………………......
Allahu Rabby, Allahu Akbar…
Aku menyesal, namun terima kasih Tuhan…
19022011 (17.28)
Minggu, 06 Februari 2011
di persimpangan itu
Langkah demi langkah, menelusuri gang yang sudah jarang aku lalui. Sejenak… Terbersit dalam ingatanku tentang kenangan dulu, saat kemari dengan mereka, pacar ku yang dulu. Tersenyum simpul dan meraba apa yang berubah di sini? Lalu ingatanku beralih dan tergambarlah sosok papah di sana. Dialah yang aku rindukan.
Rumah yang ku tuju kini ada di depan mata, rumah yang pernah aku tinggali beberapa tahun ke belakang, walaupun tak lama. Dari kejauhan aku telah mengucapkan salam. Terdengar yang menjawabnya dari dalam. Mereka adalah ibu dan kedua kakakku. Aku menyalaminya satu per satu. Kami melepas rindu dengan bercerita ke sana ke mari. Bahkan ibu nyeletuk bertanya tentang siapa pacarku. Dengan spontan aku menjawab TIDAK PUNYA sembari cengar-cengir. Papah, ya papah. Di mana sosok yang ku cari dan aku rindukan? Ibu lalu memaparkan bahwa dia sedang di kantor dan belum pulang.
Dengan mata berkaca-kaca, ibu memberanikan diri bercerita, tentang apa yang sebenarnya tengah di hadapi papah, yang tentu saja berimbas pada kehidupan dirinya dan ketiga ankanya. Aku terheran-heran, meski dulu sempat mendengar masalah ini. Aku dengar tak sedetail dan tak sekronis ini. Bingung. Apa yang mesti aku katakana, hanya mata yang berkaca-kaca aku jadikan responan. Semoga ibu dapat mengerti.
Tak lama dari itu, papah pulang. Aku melihat badannya yang menjadi kurus kering. Terlihat wajahnya yang semakin menua selain dimakan usia, mungkin ya karena masalah yang tengah dihadapinya. Sungguh hati ini bergetar pilu dibuatnya, tapi apa yang bisa ku lakukan. Hanya terdiam dan menyapanya dengan penuh rasa kasih sayang.
Sebenarnya masih ingin aku untuk didekatmu pah. Slalu ada di harimu. Namun, takdir tak berkata seperti itu. Aku harus pulang. Papah mengantarkanku. Dalam perjalanan, ingin sekali memperlambat waktu agar aku bisa lebih lama bersama papah. Itu hanya keinginan konyol saja, karena nyatanya hanya beberapa menit saja, motor yang papah kemudikan berhenti di persimpangan jalan. Aku turun meski enggan. Dengan lirih, papah berkata, “ade, papah belum punya uang.” Aku menjawab, “sudah tak apalah pah.” Diakhiri dengan ucapan salam yang terlontar dari bibirku. Motor papah berbelok arah. Melaju pergi meninggalkan aku di sini. Lalu aku melangkah dengan gontai, menuju rumah. Dalam hati yang sedih, dalam mata yang berkaca-kaca. Aku ingin berteriak dan mengatakan aku sayang papah. Aku tak peduli bagaimana papah, yang jelas dia papahku yang hebat. Semoga masalahmu cepet selesai pah. Dan semoga Allah memberimu petunjuk, untuk tetap selalu ada dijalanMu. Amien…
Rumah yang ku tuju kini ada di depan mata, rumah yang pernah aku tinggali beberapa tahun ke belakang, walaupun tak lama. Dari kejauhan aku telah mengucapkan salam. Terdengar yang menjawabnya dari dalam. Mereka adalah ibu dan kedua kakakku. Aku menyalaminya satu per satu. Kami melepas rindu dengan bercerita ke sana ke mari. Bahkan ibu nyeletuk bertanya tentang siapa pacarku. Dengan spontan aku menjawab TIDAK PUNYA sembari cengar-cengir. Papah, ya papah. Di mana sosok yang ku cari dan aku rindukan? Ibu lalu memaparkan bahwa dia sedang di kantor dan belum pulang.
Dengan mata berkaca-kaca, ibu memberanikan diri bercerita, tentang apa yang sebenarnya tengah di hadapi papah, yang tentu saja berimbas pada kehidupan dirinya dan ketiga ankanya. Aku terheran-heran, meski dulu sempat mendengar masalah ini. Aku dengar tak sedetail dan tak sekronis ini. Bingung. Apa yang mesti aku katakana, hanya mata yang berkaca-kaca aku jadikan responan. Semoga ibu dapat mengerti.
Tak lama dari itu, papah pulang. Aku melihat badannya yang menjadi kurus kering. Terlihat wajahnya yang semakin menua selain dimakan usia, mungkin ya karena masalah yang tengah dihadapinya. Sungguh hati ini bergetar pilu dibuatnya, tapi apa yang bisa ku lakukan. Hanya terdiam dan menyapanya dengan penuh rasa kasih sayang.
Sebenarnya masih ingin aku untuk didekatmu pah. Slalu ada di harimu. Namun, takdir tak berkata seperti itu. Aku harus pulang. Papah mengantarkanku. Dalam perjalanan, ingin sekali memperlambat waktu agar aku bisa lebih lama bersama papah. Itu hanya keinginan konyol saja, karena nyatanya hanya beberapa menit saja, motor yang papah kemudikan berhenti di persimpangan jalan. Aku turun meski enggan. Dengan lirih, papah berkata, “ade, papah belum punya uang.” Aku menjawab, “sudah tak apalah pah.” Diakhiri dengan ucapan salam yang terlontar dari bibirku. Motor papah berbelok arah. Melaju pergi meninggalkan aku di sini. Lalu aku melangkah dengan gontai, menuju rumah. Dalam hati yang sedih, dalam mata yang berkaca-kaca. Aku ingin berteriak dan mengatakan aku sayang papah. Aku tak peduli bagaimana papah, yang jelas dia papahku yang hebat. Semoga masalahmu cepet selesai pah. Dan semoga Allah memberimu petunjuk, untuk tetap selalu ada dijalanMu. Amien…
Jumat, 04 Februari 2011
dalam maafku
Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di jumat 4 februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada.
Riuh rendah acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab.
Biar saja mereka. Tapi bagaimana dengan luka, lukaku yang membekas di dada. Karenamu… yang mungkin tidak merasa.
memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada.
Riuh rendah acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab.
Biar saja mereka. Tapi bagaimana dengan luka, lukaku yang membekas di dada. Karenamu… yang mungkin tidak merasa.
memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.
Dalam Tangis yang Belum Saja Kering
Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun dating. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kemabali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat Ashar aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di fb. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka fb. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah fb kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa fikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
Tryana Permanasari 040211 16.43
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun dating. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kemabali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat Ashar aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di fb. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka fb. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah fb kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa fikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”
Tryana Permanasari 040211 16.43
Langganan:
Postingan (Atom)