Senin, 18 April 2011

sebuah dongen klasik (Putri Gubrak)

Sebuah dongeng klasik imajinasiku :D

Selamat membaca ....

Hai.. Namaku adalah Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Aku adalah seorang putri tunggal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Mekar Asih. Ayahku kini telah berusia senja, Raja Aditya Kusuma yang terkenal baik di mata rakyat-rakyatnya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat berjasa di karir ayah, beliau adalah Saras Dewanti. Ayahku begitu mengingkan aku sebagai pengganti dirinya. Namun perintah perundang-undangan kerajaan tidak mengizinkan penguasanya adalah seorang wanita. Apalagi aku. Aku kini masih belia. Umurku masih 16 tahun. Aku mengenyam pendidikan dengan system home schooling. Guruku adalah seorang guru besar dari sebuah universitas luar negeri. Aku meskipun baru berusia 16 tahun, namun sudah diberikan materi perkuliahan yang mana berkaitan dengan kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat kanker. Karena jujur saja, di desaku banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena tidak tersembuhkan oleh penyakit itu. Tapi apa daya, aku adalah seorang putrid yang harus tunduk pada titah ayahku dan tradisi di kerajaanku. Ayahku memintaku untuk segera menikah, supaya suamiku kelak bisa menggantikan posisinya. Jika aku menolak, tentu saja aku telah mengecewakan beliau. Namun entah mengapa, keinginanku yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter begitu besar. Sampai akhirnya aku merasa ingin melarikan diri dari sangkar emas ini. Sekat pembatas aku dengan dunia luar, yang tidak begitu sering aku kunjungi. Palingan bila sekedar jalan-jalan mencari buku, atau menghadiri jamuan makan warga.
Dunia aku tahu sangat luas, namun jangkauanku terasa sempit. Guru home schoolingku selalu bercerita tentang dunia luar yang hanya menjadi daya khayalku saja. Siang itu, guruku tak bisa hadir, karena beliau harus menghadiri sebuah acara di kedutaan besar. Hasratku untuk mengetahui dunia luar, semakin berapi-api. Segenap cara aku pikirkan untuk keluar dari istana. Akhirnya sebuah ide pun muncul. Aku menyamar menjadi seorang gadis biasa. Yang biasanya mengantarkan buku padaku. Aku mengenakan baju yang tak biasa aku kenakan. Baju sederhana dengan renda putih di bagian bawahnya. Aku meletakkan semua perabotan yang biasa melekat pada tubuhku. Lalu ku menyelinap kelar dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang mencurigai gerak-gerikku.
Sesampainya di luar, aku segera berjalan menjauhi kerajaan. Sejauh mungkin, namun anehnya kakiku tak lelah sedikit pun. Aku terkagum-kagum melihat semua yang terekam oleh mataku. Sampai akhirnya aku melihat sebuah klinik yang peuh dengan antrian pasien. Hal itu membuatku ingin memasukinya. Antrian pasien itu cukup panjang. Mereka bertubuh kurus. Bahkan ada yang helaian rambutnya rontok. Berantakan tepat di bawah tubuhnya yang sedang berdiri. Teringat pelajaran yang selama ini paling aku sukai analisis penyakit, dan tanda-tanda ini. Ya kanker! Hentakku dalam hati.
Seorang dokter muda, keluar dari ruangannya. Senyumnya yang menawan menggetarkan hatiku, sebentar aku rasakan waktu berhenti berputar, dan dunia terasa beku. Laki-laki muda yang berperawakan keren itu adalah dokternya. Ku tatap daun pintu di mana ia keluar, terbaca sebuah nama Dr. Satria Dian Munggaran. Baru kali ini aku rasakan sebuah getaran yang membuat tubuhku terasa tak bernyawa. Dan sosok laki-laki itu kini mendekatiku. Mungkin kehadiranku sedikit aneh di matanya. dia bertanya, “maaf dinda, rasanya baru kali ini saya melihat kehadiran anda?”. Aku semakin sesak, mungkin ini yang dinamakan cinta. Karena sebelumnya aku hanya berteori saja. Aku mematung. Lidahku terasa kelu untuk mengucap. Bibirku terasa rapat untuk berkata.. Dadaku lebih dan semakin sesak. Pandanganku buram. Gelap.
Saat ku cium wangi rempah-rempah dari pembuluh-pembuluh hidungku. Aku terbangun. Membuka mata. Dan yang aku lihat sosok laki-laki tadi. Kepalaku terasa berat. Mungkin ini akibat pingsan tadi. Dokter itu kini telah membuka jas putih yang tadi ia kenakan. Kini dia memakai sweater berwarna abu-abu. Menggigil rasanya tubuh ini, bila di dekatnya. Tapi aku mencegah semua reaksi tubuhku itu. Supaya aku bisa merasa lebih baik lagi. Dokter itu memberiku sebuah cangkir yang mengepul asal di atasnya sembari berkata, “ini teh manis hangat, ayo diminum dulu!”
“Terima kasih.” Jawabku.
“Siapa nama dinda?” tanyanya dengan senyuman yang meluluhkan hati.
Aku malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
“Namaku?” malah malik bertanya.
“Iya, namamu dinda. Aku Satria Dian Munggaran.” Sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
Tentu saja itu semakin meluluhkan hatiku. Hamper saja aku hendak menyebutkan nama asliku. Tapi hal itu akan membahayakan keadaan diriku. Aku langsung berpikir dan melontar dengan reaktif, “Tyas”. Jawabku singkat. Dalam otakku, ya dengan nama Tyas tidak begitu menyalahi aturan, karena dalam nama asliku yang begitu panjang tertera kata Tyas.
Dokter yang tampan itu, membiarkanku tinggal bersama dirinya dan ibunya. Aku banyak belajar banyak tentang ilmu kedokteran darinya. Aku sering membantunya di klinik tempat ia bekerja. Sampai pada suatu hari, berita hilangnya Putri kerajaan terdengar ke telingaku sendiri. Aku sedikit merasa takut. Karena hokum perundang-undangan kerajaan akan menjeratku. Namun aku pun begitu yakin, dengan ditemukannya obat penyembuh penyakit kanker akan aku temukan. Dan kerajaan akan menjadi bangga. Setiap hari aku mengadakan penelitian dan sharing banyak dengan Dr. Satria.
Tahun berganti tahun. Tak terasa kini umurku telah menginjak usia kepala dua. Obat kanker yang aku racik akan dicobakan pada penderita yang biasa control ke klinik Dr. Satria. Dia adalah pasien yang sudah menginjak stadium 4. Alhasil, pasien tadi menjadi segar bugar kembali. Namun resikonya gigi pasien tadi tak secemerlang semula. Setiap obat, pasti ada efeknya. Namun aku merasa bangga, aku telah menemukan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang banyak menggulingkan korban khususnya di desaku yang telah lama aku tinggalkan.
Berita tentang penemuan obat penyakit menggila itu telah sampai ke kerajaan. Pihak kerajaan pun memutuskan untuk menemui siapa orang itu, dan akan diberikan penghargaan. Tanpa disangka-sangka rombongan kerajaan sampailah di rumah Dr. Satria itu. Putri alias Tyas sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Namun sebelum terlambat, akhirnya ia yang menjemput ayahnya dengan senyuman.
“Ayah….” Teriaknya sambil berlari dari ruangan dalam. Dr. Satria dan ibunya terbelalak.
Akhirnya hukum perudang-udangan kerajaan pun di sesuaikan dengan jaman, sehingga tak ada satu pasal pun yang mampu menjerat kaburnya Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Perundang-undangan baru pun mengizinkan sang putri menikah dengan Dr. Satria Dian Munggaran, laki-laki pertama yang mampu mencuri hatinya, yang mengenalkan sang putrid pada kata cinta. Keluarga, kerabat, dan seluruh warga desa merasa bangga pada sang putri. Namun karena keduanya tidak merasa cocok dengan dunia kerajaan, mereka memutuskan untuk hidup seperti warga biasa. Dan menjalani profesi mereka sebagai dokter. Karena ternyata sang ayah menyekolahkan Putri di universitas kedokteran ternama di kotanya. Dr. Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti putrid kerajaan yang menemukan obat penyempuh penyakit kanker.
Keduanya hidup bahagia selama-lamanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar