Senin, 18 April 2011

Adel Si Kuper

Namaku Adel Safiratunnisa. Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ibu dan ayahku telah lama bercerai. Kini aku tinggal bersama ibu kandung dan ayah tiriku. Aku bersekolah di salah satu SMA Negeri, ini tahun pertamaku mengenyam dunia SMA.
Alhamdulillah, ibuku mengizinkanku untuk pacaran, dengan alasan tidak mengganggu ibadah dan prestasiku di sekolah. Saat awal masuk sekolah sih, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Namun ternyata harus kandas. Aku tidak ingin menceritakan apa penyebabnya. Yang jelas hal itu membuat perasaanku hancur dan hatiku terasa remuk berkeping-keping.
Alhamdulillah lagi, pengalaman pahit kemarin mampu membuat aku lebih bisa membuka mata lagi. Prestasiku Alhamdulillah tidak menurun, meski kondisiku sempat drop dan emosi membuncah tidak jelas.
Hari ini adalah hari Sabtu, terakhir bersekolah sebelum murid-murid kelas X dan XI belajar di rumah karena kelas XIInya UN. Kegiatan belajar mengajar pun tidak begitu full time seperti biasanya. Hanya pelajaran penjas yang menguras tenaga tak terganggu apa-apa. Selebihnya, murid-murid ditugaskan membersihkan kelas. Ya meski rasa capek masih tersimpan dalam raga ini, tapi tuntutan kelas harus bersih. Ya mau apa lagi, selain bersih-bersih. Namun, hanya beberapa siswi yang mau memegang sapu dan membereskan apa yang tidak enak dipandang. Yang lainnya khususnya kaum adam, sibuk mengobrolkan liburan bersama mereka ke Solirgrass. Sebuah tempat rekreasi yang menyuguhkan panorama hijau. Aku berkata dalam hati, mereka mana mau mengajak aku, aku kan hanya Adel si kuper. Setiap hendak keluar rumah pasti sulit minta ijin dari ibu. Belum lagi biaya pengeluaran yang membengkakkan. Ibu pasti banyak ceramahin aku. Belum lagi menganalisis dampaknya bagi aku. Tapi naluri remajaku ya mengatakan, kapan aku diijinkan main bersama teman-teman?
Aku hanya memelototi ponselku saat mereka terus bercengkrama tentang planning mereka. Tak pedulikan Adel si kuper ini. Tapi tak apalah, lagian tanpa aku ikut liburan ke Solirgrass pun aku masih bisa hidup dan merasakan kebebasanku sebagai seorang remaja.
Hmmmmm. Cuma yang bikin aku gak enak hati, temen-temen sekelas jadi ngerasa canggung ngobrol di depan aku, kaya yang hendak menyembunyikan rencana mereka, tapi tanggung ketahuan. Ya gimana?
Padahal nyantai aja kali guys, senyumku dalam hati. Lalu akhirnya bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah lagi. Aku gak jadi bahan kecanggungan mereka. Ntahlah apa yang membuat mereka seperti itu padaku, yang jelas aku sangat bersyukur “Alhamdulillah” ibu selalu over protektif padaku, semua itu karena ibu sayang aku. Ibu gak mau mendidik aku menjadi seorang remaja yang bebas, yang hidup dengan penuh hura-hura. Ibu mengerti aku. I LOVE YOU ibu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar