Sabtu, 09 April 2011

Kisah Pedagang Bacang

Siang itu mentari bersinar sangat terik. Langit cerah sempurna. Awan awan bergumpalan lembut. Putih, menghiasi kanvas langit yang biru. Di gerbang sana, dia berdiri. Dihadapannya tambak sebuah keranjang dengan bacang bacang yang ada di dalamnya. Topi yang ia kenakan, sebagai tameng dari sang raja siang yang memang sedang meradang. Sepeda yang biasa ia tunggangi, diparkirkan di pojok gerbang. Dia tahu apa yang harus ia tunggu, yaitu siswa siswa yang hendak membeli apa yang ia jajakan. Lalu, satu dua orang melewati sosoknya begitu saja, atau di antara mereka hanya menatap wajahnya sambil tersenyum kecut. Dia memang sosok yang –maaf memunyai kekeurangan-- namun rasanya tidak pantas, anak SMA, jika harus mengejeknya. Menertawakannya. Karena dia juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan kekurangan yang ia miliki sekarang, bukan? Dia menunggu dagangannya laku, hingga senja ada di depan waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar