Bismillahirrahmannirrahiim..
Aku yang sedang gundah, mencoba memperbaiki suasana hati dengan memuji kalam Ilahi. Mungkin saja beberapa menit ke depan akan lebih baikan. Hari-hari kemarin sempat menjadi pedang tajam bagi diriku sendiri. Mengapa demikian? Aku harus mengikuti salah satu kesenian tradisional khas daerahku. Tak dapat aku pungkiri. Aku memang ingin menjadi remaja yang peduli akan kebudayaan di sekelilingku. Di sisi lain, aku pun ingin menjadi seorang remaja muslimah yang baik di mata Allah. Mungkin bagi remaja pada umumnya ini hal yang peres. Aku bisa dicap so alim atau bagaimana-lah!
Pentas kesenianku tadi di gedung itu, dengan penonton yang antusias. Mensesakkan bangunan yang cukup luas itu. Mengharuskan aku, seorang Tryana Permanasari memakai kebaya dengan samping di bawah lutut beberapa sentimeter. Lalu dengan rambut yang disanggul, kain oranye dan rambut palsu yang menghalangi rambut asliku, perhiasan seorang muslimah yang harus dijaga dari pandangan lawang jenisnya. Make up yang menempel di mukaku, cukup tebal. Membuat pangling siapa aku sebenarnya.
Dalam pemikiranku sebelumnya, aku akan memakai kerudung hitam, dan dihias kain oranye, sesuai dengan kebayanya. Hal itulah yang membuat aku mau untuk mengikuti perlombaan seni ini. Namun lantas, ya seperti ini. Dalam tuntutanku yang harus professional dan tidak boleh mengecewakan pihak-pihak yang mendukung. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang selalu memahami kondisi umat-umatNya. Aku jalani semuanya. Tampil di atas panggung, mudah-mudah Allah mengampuni segalanya. Meridhoi setiap langkahku. Mungkin presepsi orang akan menjadi negative terhadapku, tapi biarlah. Mereka tidak tahu bagaimana posisi aku. Bagaimana hati aku. Bagaimana hidup aku. Namun yang jelas, Allah sangat baik terhadapku. DIA turut juga memberikan kemenangan untuk kelompok kesenian kami. Meski aku……………………………………………………………………......
Allahu Rabby, Allahu Akbar…
Aku menyesal, namun terima kasih Tuhan…
19022011 (17.28)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar