Siang itu mentari bersinar cukup cerah. Namun entah mengapa, hujan hadir merintik meski tak deras. Terdengar derap derap langkah siswa siswi yang keluar dari gerbang sekolah. Aku terdiam sejenak di parkiran depan. Lalu ku tengadahkan kepalaku, melihat langit yang biru. Memastikan hujan tak akan mengguyur hebat membasahi semua.
Hendak kakiku melangkah lagi, terdengar suara mengucap namaku. ADEL. Aku langsung mencari dari mana suara itu berasal. Seseorang di pojok parkiran sana, melambaikan tangan seraya menginginkan ragaku untuk menghampirinya. Aku tersentak saat aku sadar, siapa seseorang di sana. KAK ADAM. Seseorang yang pernah menjalin kasih denganku. Aku langsung berkata, “kau memanggilku?” Kak Adam hanya mengangguk dan lagi-lagi melambaikan tangannya. Aku berjalan dengan sedikit gemetar. Teringat di saat dulu, dia menungguku untuk pulang bersama atau sekedar memestikan, aku langsung pulang atau hendak mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Hujan yang tadi merintik, kini telah berhenti. Langit kembali cerah dengan sempurna.
“Ada apa?”, tanyaku dengan to the point.
Kak Adam menjawab sambil senyam senyum, “punya temen di kelas X-12?”
Aku mengangguk dan merespon perkataannya, “kenapa?”
“Kamu tahu Lilian? Aku pengen deketlah sama dia.”
“Oh.. Lilian. Dia temen aku waktu SD. Hah? Deket sama dia? Gak salah. Dia kan punya cowok. Kelas XI juga. Kelas sampingmu, kak.”
“Adel bisa bantu kakak kan? Kakak Cuma pengen deket aja kok. Masalahnya cewek yang kakak deketin kemarin, kok susah banget ya. Risa nolak kakak Del.” Dia berkata dengan sedikit manja dan wajah yang memelas dan diakhiri kalimat penegasan. Ya baru aku dengar seorang kak Adam ditolak cewek. Senyumku dalam hati.
“Heuh! Kakak kakak, kapan mau insyafnya bung? Dengan sebegitu cepatnya kau bisa berganti hati? Kemarin Risa, eh sekarang udah pindah ke Lilian.” Sindirku sambil cengar-cengir.
“Del, masa kamu gak bakalan bantuin kakaknya sih? Minta alamat facebooknya dong? Atau nomer handphonenya deh. Adel tahu rumahnya di mana?” cerocos Kak Adam.
“Rumahnya di ujung jalan sana kak”, tunjukku sambil berbalik badan hendak pulang. Setidaknya aku merasa kesal. Mengapa Kak Adam selalu hadir saat dia membutuhkanku saja, untuk lebih dekat dengan cewek yang hendak dijadikan mangsanya. Tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Setidaknya, aku adalah sosok yang pernah ada di dalam hidupnya. Namun mengapa dirinya seolah-olah tidak pernah memahamiku. Membaca isi hatiku. Tatapan mataku.
Kak Adam terus memanggil-manggil namaku, namun tak ku toleh… Aku terus melangkah, pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar