Jika dalam tulisan-tulisanku banyak kekurangan dan kesalahan, atau menyinggung secara tidak langsung kepada beberapa pihak... aku ucapkan mohon maaf... ^tidak bermaksud, dan tidak ada unsur kesengajaan^ aku masih belajar untuk menulis... dan terkadang aku ga PEDE dengan tulisan-tulisanku :D untuk yang berminat memberi kritik dan saran, silahkan postkan komentar :)
Jumat, 29 April 2011
keep spirit for me!!!
aku tak tau apa yang aku rasakan sekarang. rasanya dadaku ini terasa sesak. tangis yang ingin membludak aku tahan dalam-dalam. lalu inginnn sekali aku bisa menutup akses dengan semua masa laluku.. aku harus tegar memang! tapi di saat aku berada di puncak ketegaran aku benar-benar tegar. tapi di saat aku rapuh melihat dan menyaksikan bagian-bagian, potongan-potongan dari masa laluku, rasanya aku tak mampu untuk berdiri tegap. apalagi untuk melangkahkan kaki. masa laluku sepertinya tidak menginginkanku untuk ada di dalamnya... demikian hatiku berkata saat ini, Sabtu 30 April 2011, 11.15..
Senin, 18 April 2011
sebuah dongen klasik (Putri Gubrak)
Sebuah dongeng klasik imajinasiku :D
Selamat membaca ....
Hai.. Namaku adalah Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Aku adalah seorang putri tunggal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Mekar Asih. Ayahku kini telah berusia senja, Raja Aditya Kusuma yang terkenal baik di mata rakyat-rakyatnya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat berjasa di karir ayah, beliau adalah Saras Dewanti. Ayahku begitu mengingkan aku sebagai pengganti dirinya. Namun perintah perundang-undangan kerajaan tidak mengizinkan penguasanya adalah seorang wanita. Apalagi aku. Aku kini masih belia. Umurku masih 16 tahun. Aku mengenyam pendidikan dengan system home schooling. Guruku adalah seorang guru besar dari sebuah universitas luar negeri. Aku meskipun baru berusia 16 tahun, namun sudah diberikan materi perkuliahan yang mana berkaitan dengan kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat kanker. Karena jujur saja, di desaku banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena tidak tersembuhkan oleh penyakit itu. Tapi apa daya, aku adalah seorang putrid yang harus tunduk pada titah ayahku dan tradisi di kerajaanku. Ayahku memintaku untuk segera menikah, supaya suamiku kelak bisa menggantikan posisinya. Jika aku menolak, tentu saja aku telah mengecewakan beliau. Namun entah mengapa, keinginanku yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter begitu besar. Sampai akhirnya aku merasa ingin melarikan diri dari sangkar emas ini. Sekat pembatas aku dengan dunia luar, yang tidak begitu sering aku kunjungi. Palingan bila sekedar jalan-jalan mencari buku, atau menghadiri jamuan makan warga.
Dunia aku tahu sangat luas, namun jangkauanku terasa sempit. Guru home schoolingku selalu bercerita tentang dunia luar yang hanya menjadi daya khayalku saja. Siang itu, guruku tak bisa hadir, karena beliau harus menghadiri sebuah acara di kedutaan besar. Hasratku untuk mengetahui dunia luar, semakin berapi-api. Segenap cara aku pikirkan untuk keluar dari istana. Akhirnya sebuah ide pun muncul. Aku menyamar menjadi seorang gadis biasa. Yang biasanya mengantarkan buku padaku. Aku mengenakan baju yang tak biasa aku kenakan. Baju sederhana dengan renda putih di bagian bawahnya. Aku meletakkan semua perabotan yang biasa melekat pada tubuhku. Lalu ku menyelinap kelar dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang mencurigai gerak-gerikku.
Sesampainya di luar, aku segera berjalan menjauhi kerajaan. Sejauh mungkin, namun anehnya kakiku tak lelah sedikit pun. Aku terkagum-kagum melihat semua yang terekam oleh mataku. Sampai akhirnya aku melihat sebuah klinik yang peuh dengan antrian pasien. Hal itu membuatku ingin memasukinya. Antrian pasien itu cukup panjang. Mereka bertubuh kurus. Bahkan ada yang helaian rambutnya rontok. Berantakan tepat di bawah tubuhnya yang sedang berdiri. Teringat pelajaran yang selama ini paling aku sukai analisis penyakit, dan tanda-tanda ini. Ya kanker! Hentakku dalam hati.
Seorang dokter muda, keluar dari ruangannya. Senyumnya yang menawan menggetarkan hatiku, sebentar aku rasakan waktu berhenti berputar, dan dunia terasa beku. Laki-laki muda yang berperawakan keren itu adalah dokternya. Ku tatap daun pintu di mana ia keluar, terbaca sebuah nama Dr. Satria Dian Munggaran. Baru kali ini aku rasakan sebuah getaran yang membuat tubuhku terasa tak bernyawa. Dan sosok laki-laki itu kini mendekatiku. Mungkin kehadiranku sedikit aneh di matanya. dia bertanya, “maaf dinda, rasanya baru kali ini saya melihat kehadiran anda?”. Aku semakin sesak, mungkin ini yang dinamakan cinta. Karena sebelumnya aku hanya berteori saja. Aku mematung. Lidahku terasa kelu untuk mengucap. Bibirku terasa rapat untuk berkata.. Dadaku lebih dan semakin sesak. Pandanganku buram. Gelap.
Saat ku cium wangi rempah-rempah dari pembuluh-pembuluh hidungku. Aku terbangun. Membuka mata. Dan yang aku lihat sosok laki-laki tadi. Kepalaku terasa berat. Mungkin ini akibat pingsan tadi. Dokter itu kini telah membuka jas putih yang tadi ia kenakan. Kini dia memakai sweater berwarna abu-abu. Menggigil rasanya tubuh ini, bila di dekatnya. Tapi aku mencegah semua reaksi tubuhku itu. Supaya aku bisa merasa lebih baik lagi. Dokter itu memberiku sebuah cangkir yang mengepul asal di atasnya sembari berkata, “ini teh manis hangat, ayo diminum dulu!”
“Terima kasih.” Jawabku.
“Siapa nama dinda?” tanyanya dengan senyuman yang meluluhkan hati.
Aku malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
“Namaku?” malah malik bertanya.
“Iya, namamu dinda. Aku Satria Dian Munggaran.” Sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
Tentu saja itu semakin meluluhkan hatiku. Hamper saja aku hendak menyebutkan nama asliku. Tapi hal itu akan membahayakan keadaan diriku. Aku langsung berpikir dan melontar dengan reaktif, “Tyas”. Jawabku singkat. Dalam otakku, ya dengan nama Tyas tidak begitu menyalahi aturan, karena dalam nama asliku yang begitu panjang tertera kata Tyas.
Dokter yang tampan itu, membiarkanku tinggal bersama dirinya dan ibunya. Aku banyak belajar banyak tentang ilmu kedokteran darinya. Aku sering membantunya di klinik tempat ia bekerja. Sampai pada suatu hari, berita hilangnya Putri kerajaan terdengar ke telingaku sendiri. Aku sedikit merasa takut. Karena hokum perundang-undangan kerajaan akan menjeratku. Namun aku pun begitu yakin, dengan ditemukannya obat penyembuh penyakit kanker akan aku temukan. Dan kerajaan akan menjadi bangga. Setiap hari aku mengadakan penelitian dan sharing banyak dengan Dr. Satria.
Tahun berganti tahun. Tak terasa kini umurku telah menginjak usia kepala dua. Obat kanker yang aku racik akan dicobakan pada penderita yang biasa control ke klinik Dr. Satria. Dia adalah pasien yang sudah menginjak stadium 4. Alhasil, pasien tadi menjadi segar bugar kembali. Namun resikonya gigi pasien tadi tak secemerlang semula. Setiap obat, pasti ada efeknya. Namun aku merasa bangga, aku telah menemukan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang banyak menggulingkan korban khususnya di desaku yang telah lama aku tinggalkan.
Berita tentang penemuan obat penyakit menggila itu telah sampai ke kerajaan. Pihak kerajaan pun memutuskan untuk menemui siapa orang itu, dan akan diberikan penghargaan. Tanpa disangka-sangka rombongan kerajaan sampailah di rumah Dr. Satria itu. Putri alias Tyas sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Namun sebelum terlambat, akhirnya ia yang menjemput ayahnya dengan senyuman.
“Ayah….” Teriaknya sambil berlari dari ruangan dalam. Dr. Satria dan ibunya terbelalak.
Akhirnya hukum perudang-udangan kerajaan pun di sesuaikan dengan jaman, sehingga tak ada satu pasal pun yang mampu menjerat kaburnya Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Perundang-undangan baru pun mengizinkan sang putri menikah dengan Dr. Satria Dian Munggaran, laki-laki pertama yang mampu mencuri hatinya, yang mengenalkan sang putrid pada kata cinta. Keluarga, kerabat, dan seluruh warga desa merasa bangga pada sang putri. Namun karena keduanya tidak merasa cocok dengan dunia kerajaan, mereka memutuskan untuk hidup seperti warga biasa. Dan menjalani profesi mereka sebagai dokter. Karena ternyata sang ayah menyekolahkan Putri di universitas kedokteran ternama di kotanya. Dr. Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti putrid kerajaan yang menemukan obat penyempuh penyakit kanker.
Keduanya hidup bahagia selama-lamanya…
Selamat membaca ....
Hai.. Namaku adalah Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Aku adalah seorang putri tunggal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Mekar Asih. Ayahku kini telah berusia senja, Raja Aditya Kusuma yang terkenal baik di mata rakyat-rakyatnya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat berjasa di karir ayah, beliau adalah Saras Dewanti. Ayahku begitu mengingkan aku sebagai pengganti dirinya. Namun perintah perundang-undangan kerajaan tidak mengizinkan penguasanya adalah seorang wanita. Apalagi aku. Aku kini masih belia. Umurku masih 16 tahun. Aku mengenyam pendidikan dengan system home schooling. Guruku adalah seorang guru besar dari sebuah universitas luar negeri. Aku meskipun baru berusia 16 tahun, namun sudah diberikan materi perkuliahan yang mana berkaitan dengan kedokteran. Aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter yang bisa menemukan obat kanker. Karena jujur saja, di desaku banyak orang yang harus kehilangan nyawanya karena tidak tersembuhkan oleh penyakit itu. Tapi apa daya, aku adalah seorang putrid yang harus tunduk pada titah ayahku dan tradisi di kerajaanku. Ayahku memintaku untuk segera menikah, supaya suamiku kelak bisa menggantikan posisinya. Jika aku menolak, tentu saja aku telah mengecewakan beliau. Namun entah mengapa, keinginanku yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang dokter begitu besar. Sampai akhirnya aku merasa ingin melarikan diri dari sangkar emas ini. Sekat pembatas aku dengan dunia luar, yang tidak begitu sering aku kunjungi. Palingan bila sekedar jalan-jalan mencari buku, atau menghadiri jamuan makan warga.
Dunia aku tahu sangat luas, namun jangkauanku terasa sempit. Guru home schoolingku selalu bercerita tentang dunia luar yang hanya menjadi daya khayalku saja. Siang itu, guruku tak bisa hadir, karena beliau harus menghadiri sebuah acara di kedutaan besar. Hasratku untuk mengetahui dunia luar, semakin berapi-api. Segenap cara aku pikirkan untuk keluar dari istana. Akhirnya sebuah ide pun muncul. Aku menyamar menjadi seorang gadis biasa. Yang biasanya mengantarkan buku padaku. Aku mengenakan baju yang tak biasa aku kenakan. Baju sederhana dengan renda putih di bagian bawahnya. Aku meletakkan semua perabotan yang biasa melekat pada tubuhku. Lalu ku menyelinap kelar dengan sempurna. Tak ada seorang pun yang mencurigai gerak-gerikku.
Sesampainya di luar, aku segera berjalan menjauhi kerajaan. Sejauh mungkin, namun anehnya kakiku tak lelah sedikit pun. Aku terkagum-kagum melihat semua yang terekam oleh mataku. Sampai akhirnya aku melihat sebuah klinik yang peuh dengan antrian pasien. Hal itu membuatku ingin memasukinya. Antrian pasien itu cukup panjang. Mereka bertubuh kurus. Bahkan ada yang helaian rambutnya rontok. Berantakan tepat di bawah tubuhnya yang sedang berdiri. Teringat pelajaran yang selama ini paling aku sukai analisis penyakit, dan tanda-tanda ini. Ya kanker! Hentakku dalam hati.
Seorang dokter muda, keluar dari ruangannya. Senyumnya yang menawan menggetarkan hatiku, sebentar aku rasakan waktu berhenti berputar, dan dunia terasa beku. Laki-laki muda yang berperawakan keren itu adalah dokternya. Ku tatap daun pintu di mana ia keluar, terbaca sebuah nama Dr. Satria Dian Munggaran. Baru kali ini aku rasakan sebuah getaran yang membuat tubuhku terasa tak bernyawa. Dan sosok laki-laki itu kini mendekatiku. Mungkin kehadiranku sedikit aneh di matanya. dia bertanya, “maaf dinda, rasanya baru kali ini saya melihat kehadiran anda?”. Aku semakin sesak, mungkin ini yang dinamakan cinta. Karena sebelumnya aku hanya berteori saja. Aku mematung. Lidahku terasa kelu untuk mengucap. Bibirku terasa rapat untuk berkata.. Dadaku lebih dan semakin sesak. Pandanganku buram. Gelap.
Saat ku cium wangi rempah-rempah dari pembuluh-pembuluh hidungku. Aku terbangun. Membuka mata. Dan yang aku lihat sosok laki-laki tadi. Kepalaku terasa berat. Mungkin ini akibat pingsan tadi. Dokter itu kini telah membuka jas putih yang tadi ia kenakan. Kini dia memakai sweater berwarna abu-abu. Menggigil rasanya tubuh ini, bila di dekatnya. Tapi aku mencegah semua reaksi tubuhku itu. Supaya aku bisa merasa lebih baik lagi. Dokter itu memberiku sebuah cangkir yang mengepul asal di atasnya sembari berkata, “ini teh manis hangat, ayo diminum dulu!”
“Terima kasih.” Jawabku.
“Siapa nama dinda?” tanyanya dengan senyuman yang meluluhkan hati.
Aku malah bengong, bukannya menjawab pertanyaannya.
“Namaku?” malah malik bertanya.
“Iya, namamu dinda. Aku Satria Dian Munggaran.” Sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
Tentu saja itu semakin meluluhkan hatiku. Hamper saja aku hendak menyebutkan nama asliku. Tapi hal itu akan membahayakan keadaan diriku. Aku langsung berpikir dan melontar dengan reaktif, “Tyas”. Jawabku singkat. Dalam otakku, ya dengan nama Tyas tidak begitu menyalahi aturan, karena dalam nama asliku yang begitu panjang tertera kata Tyas.
Dokter yang tampan itu, membiarkanku tinggal bersama dirinya dan ibunya. Aku banyak belajar banyak tentang ilmu kedokteran darinya. Aku sering membantunya di klinik tempat ia bekerja. Sampai pada suatu hari, berita hilangnya Putri kerajaan terdengar ke telingaku sendiri. Aku sedikit merasa takut. Karena hokum perundang-undangan kerajaan akan menjeratku. Namun aku pun begitu yakin, dengan ditemukannya obat penyembuh penyakit kanker akan aku temukan. Dan kerajaan akan menjadi bangga. Setiap hari aku mengadakan penelitian dan sharing banyak dengan Dr. Satria.
Tahun berganti tahun. Tak terasa kini umurku telah menginjak usia kepala dua. Obat kanker yang aku racik akan dicobakan pada penderita yang biasa control ke klinik Dr. Satria. Dia adalah pasien yang sudah menginjak stadium 4. Alhasil, pasien tadi menjadi segar bugar kembali. Namun resikonya gigi pasien tadi tak secemerlang semula. Setiap obat, pasti ada efeknya. Namun aku merasa bangga, aku telah menemukan sebuah obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang banyak menggulingkan korban khususnya di desaku yang telah lama aku tinggalkan.
Berita tentang penemuan obat penyakit menggila itu telah sampai ke kerajaan. Pihak kerajaan pun memutuskan untuk menemui siapa orang itu, dan akan diberikan penghargaan. Tanpa disangka-sangka rombongan kerajaan sampailah di rumah Dr. Satria itu. Putri alias Tyas sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Namun sebelum terlambat, akhirnya ia yang menjemput ayahnya dengan senyuman.
“Ayah….” Teriaknya sambil berlari dari ruangan dalam. Dr. Satria dan ibunya terbelalak.
Akhirnya hukum perudang-udangan kerajaan pun di sesuaikan dengan jaman, sehingga tak ada satu pasal pun yang mampu menjerat kaburnya Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti. Perundang-undangan baru pun mengizinkan sang putri menikah dengan Dr. Satria Dian Munggaran, laki-laki pertama yang mampu mencuri hatinya, yang mengenalkan sang putrid pada kata cinta. Keluarga, kerabat, dan seluruh warga desa merasa bangga pada sang putri. Namun karena keduanya tidak merasa cocok dengan dunia kerajaan, mereka memutuskan untuk hidup seperti warga biasa. Dan menjalani profesi mereka sebagai dokter. Karena ternyata sang ayah menyekolahkan Putri di universitas kedokteran ternama di kotanya. Dr. Putri Ningrum Rastiningtyas Kusuma Dewanti putrid kerajaan yang menemukan obat penyempuh penyakit kanker.
Keduanya hidup bahagia selama-lamanya…
Terlalu Lama miliknya Vierra
LAGU INI aku suka banget :D
sudah lama ku menanti dirimu
tak tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah
*entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan
reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu
repeat *
repeat reff
(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
repeat reff
sudah lama ku menanti dirimu
tak tahu sampai kapankah
sudah lama kita bersama-sama
tapi segini sajakah
*entah sampai kapan ooo
entah sampai kapan
reff:
hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
sadarkah kau, ku adalah wanita
aku tak mungkin memulai
sadarkah kau, kau menggantung diriku
aku tak mau menunggu
repeat *
repeat reff
(hari ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta)
aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama
repeat reff
Adel Si Kuper
Namaku Adel Safiratunnisa. Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Ibu dan ayahku telah lama bercerai. Kini aku tinggal bersama ibu kandung dan ayah tiriku. Aku bersekolah di salah satu SMA Negeri, ini tahun pertamaku mengenyam dunia SMA.
Alhamdulillah, ibuku mengizinkanku untuk pacaran, dengan alasan tidak mengganggu ibadah dan prestasiku di sekolah. Saat awal masuk sekolah sih, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Namun ternyata harus kandas. Aku tidak ingin menceritakan apa penyebabnya. Yang jelas hal itu membuat perasaanku hancur dan hatiku terasa remuk berkeping-keping.
Alhamdulillah lagi, pengalaman pahit kemarin mampu membuat aku lebih bisa membuka mata lagi. Prestasiku Alhamdulillah tidak menurun, meski kondisiku sempat drop dan emosi membuncah tidak jelas.
Hari ini adalah hari Sabtu, terakhir bersekolah sebelum murid-murid kelas X dan XI belajar di rumah karena kelas XIInya UN. Kegiatan belajar mengajar pun tidak begitu full time seperti biasanya. Hanya pelajaran penjas yang menguras tenaga tak terganggu apa-apa. Selebihnya, murid-murid ditugaskan membersihkan kelas. Ya meski rasa capek masih tersimpan dalam raga ini, tapi tuntutan kelas harus bersih. Ya mau apa lagi, selain bersih-bersih. Namun, hanya beberapa siswi yang mau memegang sapu dan membereskan apa yang tidak enak dipandang. Yang lainnya khususnya kaum adam, sibuk mengobrolkan liburan bersama mereka ke Solirgrass. Sebuah tempat rekreasi yang menyuguhkan panorama hijau. Aku berkata dalam hati, mereka mana mau mengajak aku, aku kan hanya Adel si kuper. Setiap hendak keluar rumah pasti sulit minta ijin dari ibu. Belum lagi biaya pengeluaran yang membengkakkan. Ibu pasti banyak ceramahin aku. Belum lagi menganalisis dampaknya bagi aku. Tapi naluri remajaku ya mengatakan, kapan aku diijinkan main bersama teman-teman?
Aku hanya memelototi ponselku saat mereka terus bercengkrama tentang planning mereka. Tak pedulikan Adel si kuper ini. Tapi tak apalah, lagian tanpa aku ikut liburan ke Solirgrass pun aku masih bisa hidup dan merasakan kebebasanku sebagai seorang remaja.
Hmmmmm. Cuma yang bikin aku gak enak hati, temen-temen sekelas jadi ngerasa canggung ngobrol di depan aku, kaya yang hendak menyembunyikan rencana mereka, tapi tanggung ketahuan. Ya gimana?
Padahal nyantai aja kali guys, senyumku dalam hati. Lalu akhirnya bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah lagi. Aku gak jadi bahan kecanggungan mereka. Ntahlah apa yang membuat mereka seperti itu padaku, yang jelas aku sangat bersyukur “Alhamdulillah” ibu selalu over protektif padaku, semua itu karena ibu sayang aku. Ibu gak mau mendidik aku menjadi seorang remaja yang bebas, yang hidup dengan penuh hura-hura. Ibu mengerti aku. I LOVE YOU ibu…
Alhamdulillah, ibuku mengizinkanku untuk pacaran, dengan alasan tidak mengganggu ibadah dan prestasiku di sekolah. Saat awal masuk sekolah sih, aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Namun ternyata harus kandas. Aku tidak ingin menceritakan apa penyebabnya. Yang jelas hal itu membuat perasaanku hancur dan hatiku terasa remuk berkeping-keping.
Alhamdulillah lagi, pengalaman pahit kemarin mampu membuat aku lebih bisa membuka mata lagi. Prestasiku Alhamdulillah tidak menurun, meski kondisiku sempat drop dan emosi membuncah tidak jelas.
Hari ini adalah hari Sabtu, terakhir bersekolah sebelum murid-murid kelas X dan XI belajar di rumah karena kelas XIInya UN. Kegiatan belajar mengajar pun tidak begitu full time seperti biasanya. Hanya pelajaran penjas yang menguras tenaga tak terganggu apa-apa. Selebihnya, murid-murid ditugaskan membersihkan kelas. Ya meski rasa capek masih tersimpan dalam raga ini, tapi tuntutan kelas harus bersih. Ya mau apa lagi, selain bersih-bersih. Namun, hanya beberapa siswi yang mau memegang sapu dan membereskan apa yang tidak enak dipandang. Yang lainnya khususnya kaum adam, sibuk mengobrolkan liburan bersama mereka ke Solirgrass. Sebuah tempat rekreasi yang menyuguhkan panorama hijau. Aku berkata dalam hati, mereka mana mau mengajak aku, aku kan hanya Adel si kuper. Setiap hendak keluar rumah pasti sulit minta ijin dari ibu. Belum lagi biaya pengeluaran yang membengkakkan. Ibu pasti banyak ceramahin aku. Belum lagi menganalisis dampaknya bagi aku. Tapi naluri remajaku ya mengatakan, kapan aku diijinkan main bersama teman-teman?
Aku hanya memelototi ponselku saat mereka terus bercengkrama tentang planning mereka. Tak pedulikan Adel si kuper ini. Tapi tak apalah, lagian tanpa aku ikut liburan ke Solirgrass pun aku masih bisa hidup dan merasakan kebebasanku sebagai seorang remaja.
Hmmmmm. Cuma yang bikin aku gak enak hati, temen-temen sekelas jadi ngerasa canggung ngobrol di depan aku, kaya yang hendak menyembunyikan rencana mereka, tapi tanggung ketahuan. Ya gimana?
Padahal nyantai aja kali guys, senyumku dalam hati. Lalu akhirnya bel pulang pun berbunyi, Alhamdulillah lagi. Aku gak jadi bahan kecanggungan mereka. Ntahlah apa yang membuat mereka seperti itu padaku, yang jelas aku sangat bersyukur “Alhamdulillah” ibu selalu over protektif padaku, semua itu karena ibu sayang aku. Ibu gak mau mendidik aku menjadi seorang remaja yang bebas, yang hidup dengan penuh hura-hura. Ibu mengerti aku. I LOVE YOU ibu…
Minggu, 17 April 2011
cuma gak mau nyakitin tryana ? (makasih ^_^)
hari yang sepi. aku membantingkan tubuhku di kasur yang tipis ini. ku rasakan punggungku sakit. namun tak apalah kataku dalam hati. lalu jemari jemari ini menghampiri ponsel yang baru saja menyelam dalam gayung tadi siang. -hahahaha-
aku mencari cari kesibukan di ponselku itu. namun, tetap sepi yang ku rasa.lalu aku coba mendengarkan sebuah lagu, yang bejudul TERLALU LAMA, milik salah satu band yang cukup famous dikalangan anak muda. lalu aku mengetikkan judul lagu dan nama penyanyinya, send ke beberapa teman deh. termasuk dirinya. sebenarnya ada benang merahnya juga sih dengan lagu itu. dan tarammmmmm.. dia membalas dengan kata-kata yang cukup bijak pikirku. intinya dia gak mau nyakitin perasaan aku. jadi selama ini ya selama ini. deskripsi dari semua ini aku simpan di hati. smile tryana :)
aku mencari cari kesibukan di ponselku itu. namun, tetap sepi yang ku rasa.lalu aku coba mendengarkan sebuah lagu, yang bejudul TERLALU LAMA, milik salah satu band yang cukup famous dikalangan anak muda. lalu aku mengetikkan judul lagu dan nama penyanyinya, send ke beberapa teman deh. termasuk dirinya. sebenarnya ada benang merahnya juga sih dengan lagu itu. dan tarammmmmm.. dia membalas dengan kata-kata yang cukup bijak pikirku. intinya dia gak mau nyakitin perasaan aku. jadi selama ini ya selama ini. deskripsi dari semua ini aku simpan di hati. smile tryana :)
Sabtu, 16 April 2011
Ya !
Pada keping keping haru
Ku titipkan air mataku
Dalam seonggok rindu
Ku curahkan perasaanku
Bayang bayang...
Ya ! Bayang bayang bukan nyata
Aku menghampiri raga
Sulit bergulat dengan waktu, materi dan tenaga
Biar hilang
Namun malang
Biar terdiam
Namun tangis bercucuran
Ku titipkan air mataku
Dalam seonggok rindu
Ku curahkan perasaanku
Bayang bayang...
Ya ! Bayang bayang bukan nyata
Aku menghampiri raga
Sulit bergulat dengan waktu, materi dan tenaga
Biar hilang
Namun malang
Biar terdiam
Namun tangis bercucuran
MK
Memutar waktu
Berjalan mundur
Di persimpangan hati
Terukir sebuah kisah klasik
Tentang kau dan aku...
Tentang kau
Yang dulu...
Penuh cinta
Bahagia
Namun pendusta...
Berjalan mundur
Di persimpangan hati
Terukir sebuah kisah klasik
Tentang kau dan aku...
Tentang kau
Yang dulu...
Penuh cinta
Bahagia
Namun pendusta...
entah (perasaanku-perasaannya)
malam yang dingin. dengan jam yang terus berputar mengantarkan aku pada waktu yang semakin larut. malam itu tepat di mana saat perdebatan antara aku dan dirinya berlangsung. apa yang menyebabkan semua ini? sebabnya mungkin simple bagi segelintir orang. tapi tidak untuk aku ataupun dirinya. "perasaan masing-masing". aku dijejali pertanyaan pertanyaan olehnya. dan aku sangat bingung untuk menjawabnya. perasaanku, yang entah bagaimana aku mendeskripsikannya. dan perasaan dirinya yang menjadi misteri bagiku. kini juga entah, dan entah?
Sabtu, 09 April 2011
Kisah Pedagang Bacang
Siang itu mentari bersinar sangat terik. Langit cerah sempurna. Awan awan bergumpalan lembut. Putih, menghiasi kanvas langit yang biru. Di gerbang sana, dia berdiri. Dihadapannya tambak sebuah keranjang dengan bacang bacang yang ada di dalamnya. Topi yang ia kenakan, sebagai tameng dari sang raja siang yang memang sedang meradang. Sepeda yang biasa ia tunggangi, diparkirkan di pojok gerbang. Dia tahu apa yang harus ia tunggu, yaitu siswa siswa yang hendak membeli apa yang ia jajakan. Lalu, satu dua orang melewati sosoknya begitu saja, atau di antara mereka hanya menatap wajahnya sambil tersenyum kecut. Dia memang sosok yang –maaf memunyai kekeurangan-- namun rasanya tidak pantas, anak SMA, jika harus mengejeknya. Menertawakannya. Karena dia juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan kekurangan yang ia miliki sekarang, bukan? Dia menunggu dagangannya laku, hingga senja ada di depan waktu.
sekilas tentang sosok Angga
Gue Angga. Angga Pradipta. Gue cowo paling keren, pinter, dan yang pasti cewek-cewek pada ngiler. Gue anak tunggal dari pasangan Agung Pradipta dan Yovia Iskandar. Bokap gue, pengusaha terkenal yang juga megang jabatan di salah satu BUMN. Nyokap gue seorang guru di salah satu SMP swasta. Semua yang gue mau, harus gue dapetin. Termasuk… Dea. Cewek yang terkenal pinter dan baik itu, sekarang lagi deket sama sohib gue sendiri. Gak masalah. Dalam sekejap, dia akan jadi milik gue.
Malam itu, dengan sedikit malu-malu, Angga mengirim pesan singkat pada Dea. Hanya dua kata, yaitu “LOVE YOU”. Dea yang sedang asyik telpon-telponan dangan Riki, sahabat Angga, merasa tersentak dan menjadi gugup sendiri. Dia menutup telpon secara sepihak dan segera berlari ke kamarnya. Membantingkan tubuhnya, di kasur yang sudah tidak begitu empuk. Dea memandangi langit-langit kamarnya. Dia begitu kaget, seorang Angga yang dikenal dingin, menyatakan perasaan padanya. Lalu, beberapa detik kemudain, Dea menijit tombol-tombol ponselnya, dan membalas “KAMU SERIUS?”. Jantung Dea berdegup lebih kencang lagi. Dia menanti-nanti ponselnya akan berdering dan memunculkan sebuah kotak pesan dari Angga. Hendak saja dia tertidur saking lamanya Angga membalas, ya meski balasan singkat, “IYA, AKU SERIUS DE ”. Dengan segera Dea membalas, “AKU GAK BISA JAWAB SEKARANG NGGA, AKU BUTUH WAKTU UNTUK MEMIKIRKAN SEMUA.” Dea menjadi agak lega setelah berkata seperti itu. Lalu ia beranjak tidur.
Malam itu, dengan sedikit malu-malu, Angga mengirim pesan singkat pada Dea. Hanya dua kata, yaitu “LOVE YOU”. Dea yang sedang asyik telpon-telponan dangan Riki, sahabat Angga, merasa tersentak dan menjadi gugup sendiri. Dia menutup telpon secara sepihak dan segera berlari ke kamarnya. Membantingkan tubuhnya, di kasur yang sudah tidak begitu empuk. Dea memandangi langit-langit kamarnya. Dia begitu kaget, seorang Angga yang dikenal dingin, menyatakan perasaan padanya. Lalu, beberapa detik kemudain, Dea menijit tombol-tombol ponselnya, dan membalas “KAMU SERIUS?”. Jantung Dea berdegup lebih kencang lagi. Dia menanti-nanti ponselnya akan berdering dan memunculkan sebuah kotak pesan dari Angga. Hendak saja dia tertidur saking lamanya Angga membalas, ya meski balasan singkat, “IYA, AKU SERIUS DE ”. Dengan segera Dea membalas, “AKU GAK BISA JAWAB SEKARANG NGGA, AKU BUTUH WAKTU UNTUK MEMIKIRKAN SEMUA.” Dea menjadi agak lega setelah berkata seperti itu. Lalu ia beranjak tidur.
pagi pagi di dalam hati
Pagi yang cerah, kanvas biru yang dipadukan arsiran lembut awan putih menjadi payung yang indah di pagi ini. Jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan, membuatku sedikit sulit untuk menyebrang jalan. Fiuhhh… Untunglah aku bisa sampai ke sebrang jalan sana. Aku hendak naik angkot menuju sekolahku. Aku terus menanti kedatangan mobil yang bercatkan merah dan coklat itu, lama sekali, pikirku dalam hati. Padahal jam di tangan telah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Lalu aku mengarahkan pandanganku ke sebelah kanan. Menanti nanti si angkot yang hendak ku naiki. Hati mulai merasa lega, saat sebuah angkot terlihat oleh mata. Namun angkot itu berhenti di gerbang sebuah sekolah yang tak jauh dari rumahku. Turun seseorang yang mengenakan jaket berwarna hitam. Semula aku biasa saja, tapi kebiasaan yang aku rasakan itu beralih menjadi hentakan yang menggetarkan hatiku. Ya itu adalah seseorang yang pernah ku kagumi namun tak sempat ku miliki. Flashback sejenak. Teringat kenangan ketika masa SMP di sana. Di memori otakku. Angkot yang tadi ia tumpangi, kini melaju ke arahku, aku masih kikuk dan memperhatikan sosok yang hendak menghilang dari pandanganku itu. Lalu dengan kaki yang terasa tidak menginjak bumi, aku pun naik angkot yang ku tunggu-tunggu itu. Dalam perjalanan. Entah apa yang aku pikirkan? -hahahahahahaha-
Dan di perempatan jalan, lampu merah sedang menyala. Angkot yang ku membawa diriku pun berhenti seketika, belum saja hatiku pulih kembali seperti sedia kala, tampak seseorang yang berjaket blaster menunggangi sebuah motor matic hinggap di pandangan mataku. Haaaaaaaaaaaaaaaa…. Dia adalah mantan pacarku.
Sepertinya pagi ini adalah pagi yang didesain khusus untukku, untuk bertemu sosok yang sempat menggetarkan hatiku di masa lalu…
Dan di perempatan jalan, lampu merah sedang menyala. Angkot yang ku membawa diriku pun berhenti seketika, belum saja hatiku pulih kembali seperti sedia kala, tampak seseorang yang berjaket blaster menunggangi sebuah motor matic hinggap di pandangan mataku. Haaaaaaaaaaaaaaaa…. Dia adalah mantan pacarku.
Sepertinya pagi ini adalah pagi yang didesain khusus untukku, untuk bertemu sosok yang sempat menggetarkan hatiku di masa lalu…
simple love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
And the last, I will say I LOVE you...
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
Love Love Love Love Love Love
And the last, I will say I LOVE you...
Jumat, 01 April 2011
Aku BUKAN Mak Comblangmu, Mantanku!
Siang itu mentari bersinar cukup cerah. Namun entah mengapa, hujan hadir merintik meski tak deras. Terdengar derap derap langkah siswa siswi yang keluar dari gerbang sekolah. Aku terdiam sejenak di parkiran depan. Lalu ku tengadahkan kepalaku, melihat langit yang biru. Memastikan hujan tak akan mengguyur hebat membasahi semua.
Hendak kakiku melangkah lagi, terdengar suara mengucap namaku. ADEL. Aku langsung mencari dari mana suara itu berasal. Seseorang di pojok parkiran sana, melambaikan tangan seraya menginginkan ragaku untuk menghampirinya. Aku tersentak saat aku sadar, siapa seseorang di sana. KAK ADAM. Seseorang yang pernah menjalin kasih denganku. Aku langsung berkata, “kau memanggilku?” Kak Adam hanya mengangguk dan lagi-lagi melambaikan tangannya. Aku berjalan dengan sedikit gemetar. Teringat di saat dulu, dia menungguku untuk pulang bersama atau sekedar memestikan, aku langsung pulang atau hendak mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Hujan yang tadi merintik, kini telah berhenti. Langit kembali cerah dengan sempurna.
“Ada apa?”, tanyaku dengan to the point.
Kak Adam menjawab sambil senyam senyum, “punya temen di kelas X-12?”
Aku mengangguk dan merespon perkataannya, “kenapa?”
“Kamu tahu Lilian? Aku pengen deketlah sama dia.”
“Oh.. Lilian. Dia temen aku waktu SD. Hah? Deket sama dia? Gak salah. Dia kan punya cowok. Kelas XI juga. Kelas sampingmu, kak.”
“Adel bisa bantu kakak kan? Kakak Cuma pengen deket aja kok. Masalahnya cewek yang kakak deketin kemarin, kok susah banget ya. Risa nolak kakak Del.” Dia berkata dengan sedikit manja dan wajah yang memelas dan diakhiri kalimat penegasan. Ya baru aku dengar seorang kak Adam ditolak cewek. Senyumku dalam hati.
“Heuh! Kakak kakak, kapan mau insyafnya bung? Dengan sebegitu cepatnya kau bisa berganti hati? Kemarin Risa, eh sekarang udah pindah ke Lilian.” Sindirku sambil cengar-cengir.
“Del, masa kamu gak bakalan bantuin kakaknya sih? Minta alamat facebooknya dong? Atau nomer handphonenya deh. Adel tahu rumahnya di mana?” cerocos Kak Adam.
“Rumahnya di ujung jalan sana kak”, tunjukku sambil berbalik badan hendak pulang. Setidaknya aku merasa kesal. Mengapa Kak Adam selalu hadir saat dia membutuhkanku saja, untuk lebih dekat dengan cewek yang hendak dijadikan mangsanya. Tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Setidaknya, aku adalah sosok yang pernah ada di dalam hidupnya. Namun mengapa dirinya seolah-olah tidak pernah memahamiku. Membaca isi hatiku. Tatapan mataku.
Kak Adam terus memanggil-manggil namaku, namun tak ku toleh… Aku terus melangkah, pulang.
Hendak kakiku melangkah lagi, terdengar suara mengucap namaku. ADEL. Aku langsung mencari dari mana suara itu berasal. Seseorang di pojok parkiran sana, melambaikan tangan seraya menginginkan ragaku untuk menghampirinya. Aku tersentak saat aku sadar, siapa seseorang di sana. KAK ADAM. Seseorang yang pernah menjalin kasih denganku. Aku langsung berkata, “kau memanggilku?” Kak Adam hanya mengangguk dan lagi-lagi melambaikan tangannya. Aku berjalan dengan sedikit gemetar. Teringat di saat dulu, dia menungguku untuk pulang bersama atau sekedar memestikan, aku langsung pulang atau hendak mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Hujan yang tadi merintik, kini telah berhenti. Langit kembali cerah dengan sempurna.
“Ada apa?”, tanyaku dengan to the point.
Kak Adam menjawab sambil senyam senyum, “punya temen di kelas X-12?”
Aku mengangguk dan merespon perkataannya, “kenapa?”
“Kamu tahu Lilian? Aku pengen deketlah sama dia.”
“Oh.. Lilian. Dia temen aku waktu SD. Hah? Deket sama dia? Gak salah. Dia kan punya cowok. Kelas XI juga. Kelas sampingmu, kak.”
“Adel bisa bantu kakak kan? Kakak Cuma pengen deket aja kok. Masalahnya cewek yang kakak deketin kemarin, kok susah banget ya. Risa nolak kakak Del.” Dia berkata dengan sedikit manja dan wajah yang memelas dan diakhiri kalimat penegasan. Ya baru aku dengar seorang kak Adam ditolak cewek. Senyumku dalam hati.
“Heuh! Kakak kakak, kapan mau insyafnya bung? Dengan sebegitu cepatnya kau bisa berganti hati? Kemarin Risa, eh sekarang udah pindah ke Lilian.” Sindirku sambil cengar-cengir.
“Del, masa kamu gak bakalan bantuin kakaknya sih? Minta alamat facebooknya dong? Atau nomer handphonenya deh. Adel tahu rumahnya di mana?” cerocos Kak Adam.
“Rumahnya di ujung jalan sana kak”, tunjukku sambil berbalik badan hendak pulang. Setidaknya aku merasa kesal. Mengapa Kak Adam selalu hadir saat dia membutuhkanku saja, untuk lebih dekat dengan cewek yang hendak dijadikan mangsanya. Tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Setidaknya, aku adalah sosok yang pernah ada di dalam hidupnya. Namun mengapa dirinya seolah-olah tidak pernah memahamiku. Membaca isi hatiku. Tatapan mataku.
Kak Adam terus memanggil-manggil namaku, namun tak ku toleh… Aku terus melangkah, pulang.
Langganan:
Postingan (Atom)
