Jumat, 04 Februari 2011

Dalam Tangis yang Belum Saja Kering

Dengan pemikiran yang aku rasa cukup, meski lewat telpon, aku biarkan dia pergi dengan sikapnya yang tak bisa aku terima lagi. Mata yang sembab,tak henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran air mata. Lembaran-lembaran lembut tisu menyapu pipi yang basah. Sesaknya dada dalam bayang-bayang yang masih terkenang tentang dirinya. Kamar tidur yang biasanya tempatku tersenyum bahagia saat ditelpon si dia. Kini beralih menjadi saksi bisu tentang pilunya hatiku. Mungkin ini terlalu hiperbola bagi seorang aku, yang harus berderaian air mata, saat cinta pergi. Padahal aku sendiri yang mengingkannya untuk pergi, dan berkata berakhir di sini.
Ponsel berdering beberapa kali, ku lihat, ada pesan dari dirinya, dan dari beberapa sahabat yang mensupportku dengan penuh semangat. Pesan-pesan singkat darinya aku balas dengan kata-kata bijak yang melambangkan aku baik-baik saja, seolah-olah tidak merasa kehilangan dirinya. Meski dari situ malah membuahkan tangisan yang semakin menjadi-jadi untuk aku. Aku terlanjur sakit dengan dusta-dusta yang ia beri.
Waktu berjalan, siang pun dating. Tubuhku masih lemas untuk beranjak dari kamar. Sesaat, lamunanku melayang, masih tergambar sosoknya dalam ingatan. Tangis pun keluar. Terlalu sakit rasanya hati ini bila harus menerima, dusta dan penghianatan darinya. Tersentakkan lamunanku itu, dengan ponsel yang kemabali berdering, ku lihat, satu pesan dari dirinya. Ku baca dan ternyata isinya : “Fotomu masih menjadi wallpaper di handphoneku.” Dada yang sesak bergilir menjadi berdegup kencang. Tersenyum dalam tangisan. Tapi, untuk apa senyumku barusan? Karena nyatanya keputusanku sudah bulat. Hatiku terlanjur sakit. Dan tangis pun kembali memuncak.
Kembali aku balas dengan kata-kata bijak, ku harap dia bisa yakin, tidak terjadi apa-apa pada fisik dan psikisnya aku. Namun apa balasan lanjutan dari dia, dia malah mengutarakan masih menyayangiku. Oh Tuhan, aku tidak begitu yakin dengan kata-katanya. Namun mengapa, setelahnya hatiku sedikit merasa baikan?
Tak lama dari situ, Adzan Ashar pun bersahutan dari penjuru-penjuru mesjid. Setelah mandi dan sholat Ashar aku bermaksud untuk melupakan sms yang aku terima beberapa menit barusan dengan mengerjakan tugas dan mengapdet status di fb. Meski sudah mandi pun, mataku tetap saja mengeluarkan air mata, walaupun tak sederas tadi. Jemariku dengan perlahan memencet tombol-tombol ponsel untuk membuka fb. Alhamdulillah. Ternyata relationship kita, telah ia akhiri. Dan aku kembali berstatus lajang. Beberapa detik selanjutnya, tak sengaja terbukalah fb kepunyaan darinya, dan ternyata relationship terbarunya adalah berpacaran dengan wanita lain yang tak bisa aku sebutkan. Namun kecurigaanku kemarin, ternyata benar. Tanpa fikir panjang, aku banting ponsel yang tergenggam. “Braakkkkkk!”


Tryana Permanasari
040211 16.43

2 komentar:

  1. weeeiiisss,
    ketir lah ...
    hahahahj...

    BalasHapus
  2. ketir ? hahahahahaha
    kasamber petir ? :D
    komennya pak??? atas isi dan gaya bahasakunya :)

    BalasHapus