Sabtu, 19 Februari 2011

pasti mereka bilang aku cengeng! hehehehe

Tangis yang ku bendung akhirnya harus keluar juga. Menetes dalam lara, membasahi pipi yang segera ku usap dengan jemari-jemari kananku. Menatap kosong lapangan yang berdebu, sembari menenagkan hati yang berkecamuk dikecam kesedihan. Dalam sebongkah ruang di hati, ada nama yang tersusun istimewa, penuh cinta, aku memanggilnya PAPAH.
Mataku kembali meneteskan butiran-butiran air mata dan kembali ku usap. Tak ada tisu di sini, yang biasanya menemani tangis-tangisku. Lalu, ada sosok yang mendekat dan bertanya. Apa sebab air mataku? Aku tak bisa menjawab. Lidah terasa kelu. Sahabatku kemudian dengan sigap menjawab. Dari situlah aku berani bercerita, itu pun dengan mata yang trus menerus basah. Air mata sulit untuk ditahan.
Sosok itu adalah guruku. Dia berkata doakan saja yang terbaik untuk papahku. Dengan sekuat tenaga, aku seka air mata. Tersenyum… dan berkata terima kasih ibu. Ibu Euis, guru Fisika :) .
20.52
Saat teringat papah, teteh, dan mamah.
Hahahahahahaha
Aku cengeng!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar