ku rebahkan tubuhku, di kasur empuk yang lapuk.
pikiranku tak habis-habisnya mengupload gambaran-gambaran tentang yang aku lihat barusan. kemesraan angga dan vina. tetesan air mata, merembes keluar tak aku izinkan. mencoba untuk tidur, karena jam di dinding telah menunjukkan pukul 23.32. namun sulit rasanya. hati yang remuk, malah semakin mengeropos. padahal aku dan angga telah lama berpisah. sekitar 3 tahunan. entah apa yang membuat aku kembali mengingatnya. padahal kemarin-kemarin aku bisa hidup dengan porsinya aku. tanpa sedikitpun kilasan-kilasan tentang dirinya.
lalu dalam malam yang semakin hening.aku mencoba untuk menguatkan diri, dengan kesadaranku sebagai manusia yang jauh setara dengan angga. angga anak satu-satunya dari pengusaha sekaligus pegawai BUMN ternama, belum lagi ibunya sebagai fashion designer. cocok sekali bersanding dengan vina, anak kedua dari dosen di salah satu perguruan tinggi swasta. sedangkan aku? liana. gadis biasa, yang terlahir dari keluarga yang mengalami percerian. ayahku sebagai pegawai kecamatan, menikah lagi dengan seorang pekerja restoran. ibuku, yang kini bekerja di sebuah rumah sakit menikah lagi dengan seorang pria yang tidak begitu bersahaja, aku tidak tahu di mana ia bekerja. namun sepertinya pemda. karena seragamnya sering dikenakan orang-orang yang keluar masuk gedung negara.
untuk kuliahku saat ini pun, aku mesti mengikuti program beasiswa, jika kurang maka aku akan bekerja di warnet di ujung gang sana. kostanku ini, terbilang paling sederhana di sini. karena ayah kandungku tengah mengalampi problematika keuangan yang harus diselesaikan. sedangkan ibuku pun terkadang tidak selalu ada. tapi aku bersyukur dengan semua yang ada.
maka... kini tetesan air mata beralih, dari menangisi masalah cinta menjadi keluarga. aku teringat ibu di sana. ku dengar ia mulai sakit-sakitan. aku merindukan ayah yang dengan persoalannya. ku pejamkan mata, sambil menagisi kesedihan yang ada.
lalu tak lama dari situ, aku tersentak terbangun dan melangkahkan kaki ke WC untuk mengambil air wudhu, aku bertekad melaksanakan sholat malam. dan memohon ampunan, tentang diriku. yang mengapa harus menangisi masalah cinta? yang hanya kedustaan semata. namun tak dapat aku pungkiri, bahwa lewat cinta, masa remaja menjadi berwarna. cinta dengan tetap bersujud kepada-Nya. cinta yang mengatasnamakan-Nya...
ampuni hamba ya Rabbi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar