Sabtu, 19 Februari 2011

Mbak Ana yang dipaksa Zaman!!!

Liana. Gadis berkerudung yang biasa disapa dengan panggilan Mbak Ana ini kini duduk di kelas X. SMA Negeri 33 Kota Lega. Aneh memang, Mbak Ana ini orangnya pintar, namun tidak memilih sekolah yang bertaraf internasional. Setiap harinya dia berlaku seperti seorang muslimah yang anggun dan menawan. Tulisan-tulisannya yang biasa dimuat di koran remaja dwimingguan menjadi bacaan favoritku. Sebenarnya aku itu satu angkatan dengan mbak ana. Hanya saja sudah enak memanggil mbak ana. Ketimbang ana.
Kerudung putih yang menutupi rambut hitamnya dengan bangga ia kenakan. Namun Mbak Ana ini orangnya tidak begitu so alim banget kalau bahasa gaulnya mah. Hahahahahahahahaha. Karena nyatanya, dia memiliki dua mantan pacar. Dani dan Andi. Denger-denger sih, mbak ana dikhianati oleh mereka. Duh masa sih orang sebaik mbak ana dikhianati dan disia-siaka?. Hummmm… tapi ini pun bukan kapasitas saya mempergunjingkannya ahhh. Yang jelas, aku begitu kagum pada mba ana.
Mbak ana itu orangnya juga senang bercanda, dia muslimah yang peduli pada kebudayaan. Karena nyatanya apa coba ekskul yang diikutinya? Lingkung Seni Budaya Remaja. Disingkat menjadi LISEBUR. Aneh memang. Mungkin darah seni dari ayahnya sulit ia hilangkan. Sampai-sampai dengan raut muka terpaksa dia harus menguikuti perlombaan gondang. Guru keseniannya meminta dengan agak memaksa. Ya perlu diketahui sih, LISEBUR itu termasuk ekskul yang sedikit peminatnya. Karena remaja sekarang kan kurang peduli terhadap seni dan budaya tradisional milik kita.
Setiap hari mbak ana meluangkan waktunya untuk latihan, suaranya yang pas-pasan dilatih sedemikian rupa untuk menyusun nada-nada indah. Mbak ana tahu, dia tengah menjalankan hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun lantas bagaimana? Sebenarnya dia bisa saja menolak dan memeberontak. Huh, tapi itu tuh perasaannya yang selalu gak enakan sama orang lain. Palagai mungkin sama gurunya senidri.
Hari yang ingin segera dilewatinya pun ingin segera dating, dan berakhir dalam hidupnya. Satu hari sebelum perlombaan, saat acara pencocokan busana, mbak ana dipaksa oleh kakak kelasnya untuk melepaskan kerudungnya. Hatinya bagai disayat sembilu, dia sangat sangat tidak ingin. Menolak dengan senyum terpaksa, itulah responnya. Hatinya ingin menangis, bercerita pada seseorang yang bisa membelanya. Tapi pada siapa? Dan untungnya, Bu Sinta mengizinkan mbak ana untuk memakai kerudung. Kebetulan Friska teman sekelas mbak ana pun enggan melespas kerudungnya kalau tidak begitu terpaksa. Beda sekali dengan mbak ana yang sangat sangat sangat sekali enggan membuka kerudungnya.
Akhirnya hari itu pun tiba, mbak ana berangkat ke sekolah di saat mentari belum tiba. Setibanya di sana telah ada dua orang guru dan empat orang kakak kakak kelasnya. Friska ternyata dating tak lama darinya. Lalu setelah menunggu giliran, wajahnya yang sawo matang, dipolesi make up begitu tebal. Tarammmmmm… wajahnya pangling bukan kepalang. Kerudung hitam yang telah mbak ana bawadari rumah hendak ia bawa, namun ibu sinta berkata, “yang pake kerudung juga tetap harus disanggul!”
Hati berdegup sangat kencang, mbak ana telah menggantungkan hidup dan takdirnya pada Ilahi, mbak ana ssudah tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ya memang harus professional. Tapi tidakkah ibu sinta memerhatikan perasaan mbak ana?
Akhirnya sanggul pun dipasangkan. Dan kain berwarna senada dengan kebaya dilingkarkan pada kepala, menutupi rambut aslinya. Sehingga yang dipertontonkan adalah, sanggul dan kain tadi. Serta sedikit rambutnya yang keluar-keluar. Mbak ana ingin kabur. Namun tak bisa. Mbak ana ingin berlari, tapi kemana? Matanya telah berkaca-kaca. Menangis pun tak mungkin. Mbak ana takut dimarahi gurunya. Dan terngiang kata-kata ibunya, ndo boleh ikut lomba itu, asalkan kerudung tetap dikenakan!
Deng deng deng deng. Suara saron dan boning bersahutan. Menutup acara kesenian yang mbak ana dan kawan-kawannya tampilkan. Dengan segera mba ana berlari, berganti pakaian. Dan menangis hingga tak karuan. Y Allah, ampunilah hambaMu ini. Kalimat itu yang bisa aku dengar, dalam samar-samar kepiluan seorang mbak ana. Oh sungguh kasihan. Di jaman seperti ini memang sulit dan setba kagok menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kita seimbang, orang lain belum tentu tidak. Bertindak menghasut kita. Dan…..
Brukkkk… mbak ana pingsan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar