Jumat, 04 Februari 2011

dalam maafku

Jangan menyulut kemarahanku. Itu mungkin kalimat yang aku lontarkan saat pagi hari di jumat 4 februari. Mungkin ini hal biasa bagi mereka, tapi aku tidak. Ntah mengapa harus menjadi marah untuk melihatnya?
Mungkin tepatnya bukan marah, melainkan kesal. Coba, bayangkan saja. Saat dulu aku menjalin kasih dengannya, dia dengan penuh keyakinan akan selamanya dengan aku. Tapi apa buktinya, dia yang menghianati cerita kita. Dan dengan keputusanku, aku berkata berakhir saja.
Sekarang, kehidupan dia seolah tidak penuh salah. Setelah dengan aku, dia dengan mereka, mereka, dan mereka. Lantas dengan sesukanya, dia pun meminta kembali dengan aku. Beberapa minggu yang lalu. Apa itu tidak menyakitkanku? Dengan kepercayaanku yang ntah mengapa masih ada untuk dia, hendak dan nyaris saja aku kembali lagi pada sosok itu. Ya, sosok yang kini tengah menatapku dari kejauhan saat aku berjalan. Lucu memang, sesering itukah dia ingin melihatku dan menunjukkan batang hidungnya padaku, orang yang pernah disakirinya.
Tak aku hiraukan sekeliling yang ada, pandanganku terfokus pada ruang 7 tempat teman-temanku berada.
Riuh rendah acara HUT sekolah menepis rasa kesalku dengan tawa bersama dan canda dengan teman-teman. Akhirnya dengan ucapan hamdalah, acara ditutup. Aku sudah merasakan lagi atmosfer kekesalan dalam dada, mungkin ragaku telah mencium sinyal-sinyal tenatang keberadaan mereka. Dan benar saja, saat aku dan sahabatku berjalan menuju gerbang mataku menangkap sosok itu. Tak ingin aku melihatnya, mungkin karena rasa sakitnya hatiku yang masih membekas di sini, sulit dilupakan dan mengukir kepedihan. Langkah demi langkah, dan sosok kedua pun mampir dalam penglihatanku. Ya sosok yang kini tengah menjalin kasih dengan dirinya. Aku pikir mereka cocok. Hahahahaha. Melukiskan tawa di muka. Namun, bagaimana dengan hati dan perasaanku yang luka? Tak ada yang menjawab.
Biar saja mereka. Tapi bagaimana dengan luka, lukaku yang membekas di dada. Karenamu… yang mungkin tidak merasa.
 memaafkanmu tentu saja sudah, tapi mungkin kesalku belum bisa musnah.

2 komentar:

  1. cantik .. ulii udah bilang , laki.laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik pula ..
    berarti dia ga baik kalo gitu :)

    BalasHapus
  2. iya ul ul :)
    aku ngerti ko, tapi seengganya ada seonggok kesel di hatiku. kamu pun pasti tau :D

    BalasHapus