Langkah demi langkah, menelusuri gang yang sudah jarang aku lalui. Sejenak… Terbersit dalam ingatanku tentang kenangan dulu, saat kemari dengan mereka, pacar ku yang dulu. Tersenyum simpul dan meraba apa yang berubah di sini? Lalu ingatanku beralih dan tergambarlah sosok papah di sana. Dialah yang aku rindukan.
Rumah yang ku tuju kini ada di depan mata, rumah yang pernah aku tinggali beberapa tahun ke belakang, walaupun tak lama. Dari kejauhan aku telah mengucapkan salam. Terdengar yang menjawabnya dari dalam. Mereka adalah ibu dan kedua kakakku. Aku menyalaminya satu per satu. Kami melepas rindu dengan bercerita ke sana ke mari. Bahkan ibu nyeletuk bertanya tentang siapa pacarku. Dengan spontan aku menjawab TIDAK PUNYA sembari cengar-cengir. Papah, ya papah. Di mana sosok yang ku cari dan aku rindukan? Ibu lalu memaparkan bahwa dia sedang di kantor dan belum pulang.
Dengan mata berkaca-kaca, ibu memberanikan diri bercerita, tentang apa yang sebenarnya tengah di hadapi papah, yang tentu saja berimbas pada kehidupan dirinya dan ketiga ankanya. Aku terheran-heran, meski dulu sempat mendengar masalah ini. Aku dengar tak sedetail dan tak sekronis ini. Bingung. Apa yang mesti aku katakana, hanya mata yang berkaca-kaca aku jadikan responan. Semoga ibu dapat mengerti.
Tak lama dari itu, papah pulang. Aku melihat badannya yang menjadi kurus kering. Terlihat wajahnya yang semakin menua selain dimakan usia, mungkin ya karena masalah yang tengah dihadapinya. Sungguh hati ini bergetar pilu dibuatnya, tapi apa yang bisa ku lakukan. Hanya terdiam dan menyapanya dengan penuh rasa kasih sayang.
Sebenarnya masih ingin aku untuk didekatmu pah. Slalu ada di harimu. Namun, takdir tak berkata seperti itu. Aku harus pulang. Papah mengantarkanku. Dalam perjalanan, ingin sekali memperlambat waktu agar aku bisa lebih lama bersama papah. Itu hanya keinginan konyol saja, karena nyatanya hanya beberapa menit saja, motor yang papah kemudikan berhenti di persimpangan jalan. Aku turun meski enggan. Dengan lirih, papah berkata, “ade, papah belum punya uang.” Aku menjawab, “sudah tak apalah pah.” Diakhiri dengan ucapan salam yang terlontar dari bibirku. Motor papah berbelok arah. Melaju pergi meninggalkan aku di sini. Lalu aku melangkah dengan gontai, menuju rumah. Dalam hati yang sedih, dalam mata yang berkaca-kaca. Aku ingin berteriak dan mengatakan aku sayang papah. Aku tak peduli bagaimana papah, yang jelas dia papahku yang hebat. Semoga masalahmu cepet selesai pah. Dan semoga Allah memberimu petunjuk, untuk tetap selalu ada dijalanMu. Amien…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar